KEEROM (LINTAS PAPUA)  – Kepala Kampung Jaifuri, Arso 3, Tedi Suseno, mempertanyakan pengelolaan pasar di Kampung Jaifuri yang hingga saat ini meninggalkan keluhan bagi masyarakat dan pedagang di pasar tersebut.

Salah sati sudut pasar terlihat sampah berserakan dan banyak tidka terurus baik. (Arief /LPC)

‘’Pengelolaan pasar yang ada di Jaifuri saat ini dilakukan langsung oleh Disperindagkop Kabupaten. Sementara kami dari Kampung selama ini tak ikut dalam pengelolaannya, namun saat ada masalah seperti saat ini, sampah misalnya, maka masyarakat menanyakan ke kampung, maka ini kami harapkan jadi perhatian,’’ungkapnya kepada LPC, belum lama ini.

Ia mengemukakan dari sekitar 30-an unit toko/ruko yang ada di Pasar Jaifuri, semuanya ditarik retribusi terhadap penggunaan ruko tersebut. Namun sayangnya hal tersebut tak berbanding lurus dengan pengelolaan pasar seperti sampah, dan pemeliharaan fasilitas lainnya di pasar tersebut.

‘’Setiap tahunnya, semua pedagang di pasar ini dikenakan retribusi yang mencapai 1 juta lebih setahun dengan jumlah 32 ruko. Hal ini tentunya ada kontribusi bagi kabupaten, sayangnya sampah yang ada, bisa mas lihat sendiri, tak da yang kelola. Ketika kami tanyakan, tak jelas bagaimana juga solusinya,’’ungkapnya.

Sementara ketika hal ini dikonfirmasikan kepada Kepala Disperindagkop Keerom, Marthen Simbong, ia membenarkan adanya hal tersebut. Menurutnya, penarikan uang retribusi memang dilakukan petugas Disperindagkop Keerom, karena memang statusnya masih milik Pemkab Keerom.

‘’Memang ada petugas kami yang menarik retribusi disana, setahun sekali penarikannya. Sementara soal sampah, sesuai tupoksi maka nanti kami akan koordinasikan dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Keerom,’’pungkasnya.(arief/LPC)