Kabupaten Jayapura Layak Jadi Proyek Percontohan Zona Integritas Kerukunan

0
271
Ketua NU Papua, DR. Toni Wanggai (ISTIMEWA)

SENTANI LINTAS  PAPUA) –  Anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) Kelompok Kerja (Pokja) Agama, Dr. H. Toni Wanggai ditanya terkait zona integritas kerukunan umat beragama (ZIKUB) yang telah dicanangkan oleh Kabupaten Jayapura usai menghadiri acara pertemuan antara Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, S.E., M.Si., dengan Tokoh Agama dan Paguyuban di Grand Allison Hotel, Kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Selasa (3/9/2019) lalu, pria yang juga Ketua PWNU Papua itu menilai Kabupaten Jayapura layak dijadikan proyek percontohan atau pilot project soal zona integritas kerukunan umat beragama bagi daerah lain.

“Sejak tahun 2015 lalu Kabupaten Jayapura dicanangkan sebagai zona integritas kerukunan umat beragama, yang dilakukan oleh bapak Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin dan Kabupaten Jayapura adalah satu-satunya zona integritas kerukunan di Indonesia. Apalagi pak Bupati Jayapura juga pernah mendapat award atau penghargaan, terbukti selama ini tidak pernah terjadi konflik-konflik yang berbau SARA. Di sini Kabupaten Jayapura perlu diberikan apresiasi,” terang Toni Wanggai.

Kata Toni, langkah Bupati dan berbagai penghargaan yang diterima dinilainya tidak salah, dibuktikan Kabupaten Jayapura tetap aman dan tenteram. Meskipun di beberapa daerah lain di Papua terjadi kisruh berakibat pengrusakan dan menyebabkan banyak kerugian material akibat aksi demo tolak rasisme yang berujung anarkis, pengrusakan, pembakaran dan penjarahan oleh massa.
“Oleh karena itu, saat ini adalah momen yang baik. Jadi, melalui peristiwa ini hendaknya menjadi momen refleksi yang baik buat kita seluruh para pemimpin di atas tanah Papua, mulai dari Gubernur, Bupati, Walikota dan seluruh pemimpin Papua baik formal atau informal,” katanya.
Selanjutnya, yang perlu menjadi perhatian Pemerintah saat ini perlunya membangun kemudian memfasilitasi forum-forum kerukunan umat beragama, seperti dengan menyediakan fasilitas kantor juga kesejahteraannya, dengan begitu komunikasi antar anggota dapat terbina juga akan menghilangkan kecurigaan.
“Dari tokoh-tokoh masyarakat untuk mereka duduk bersama bersama membangun komunikasi kemudian mencari solusi jalan kemasyarakatan sehingga mereka mampu memberikan nasehat yang baik atau memberikan himbauan kepada masyarakat,”paparnya.
Toni Wanggai, menambahkan, Tokoh Agama dan Tokoh Adat jangan hanya dijadikan sebagai pemadam kebakaran, begitu ada kekacauan baru kemudian dipanggil.
“Karena pembangunan tidak akan berjalan baik, apabila tidak tercipta rasa aman dan damai. Jadi harus bersama masyarakat merumuskan atau memperkuat revitalisasi forum kerukunan umat beragama,” tukasnya. (Irf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here