Aksi Kerusuhan Buntut Dari Demo Anarkis Tolak Rasisme Ditunggangi Kepentingan Besar

0
282
Tampak suasana aksi massa saat berada di jalan raya. (Foto Jack Okoka)

SENTANI (LINTAS PAPUA) – Tokoh Intelektual Wilayah Adat Tabi, Zadrak Wamebu, S.H., M.M., menyebutkan aksi kerusuhan dan kekacauan yang terjadi di Papua dan Papua Barat, buntut dari aksi demo yang memprotes tindakan rasisme yang diduga dilakukan oleh sejumlah anggota Ormas dan aparat di Asrama Mahasiswa Papua di Kota Surabaya, Jawa Timur, pada 16 Agustus 2019 lalu itu telah ditunggangi oleh kepentingan besar.

“Siapa yang diuntungkan dari kisruh yang terjadi di Tanah Papua, kita semua ini rakyat kecil. Orang toki (tabuh) Tifa di Jakarta, tapi kita dengar di Jayapura. Kita ini menari sampai ada yang jatuh, diibaratkan seperti itulah,” terang Zadrak Wamebu saat menghadiri acara pertemuan antara Bupati Jayapura dengan Tokoh Agama dan Paguyuban, di Hotel Garand Alisson, Kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Selasa, (3/9/2019) lalu.

Zadrak Wamebu juga menuturkan apa yang digagas pemerintah Kabupaten Jayapura, yang mengumpulkan tokoh adat, tokoh agama, perwakilan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB ) Provinsi Papua dan perwakilan Paguyuban pada pertemuan bersama Paguyuban dan Tokoh Agama di Kabupaten Jayapura, beberapa waktu lalu itu merupakan langkah tepat, semata-mata untuk mengingatkan semua pihak agar jeli dalam melihat situasi Papua.

“Oleh karena itu, saya mengajak para tokoh untuk stop lakukan provokasi, tidak boleh ada kerusakan yang dilatarbelakangi isu agama dan isu sara, karena Papua tidak bisa digoyah dengan isu agama kini mereka lewat isu sara,” ajaknya.

Hal yang sama disampaikan, Bupati Jayapura Mathius Awoitauw.SE.,M.Si., Dirinya berharap Tokoh Adat, Tokoh Agama dan seluruh Masyarakat Kabupaten Jayapura, untuk tidak menjadi aktor di dalam kekacauan di Papua, yang berakhir ricuh dan banyak menimbulkan kerusakan material.

“Jangan dianggap ini biasa-biasa saja, jangan kita terbawa suasana emosional yang kita belum mengerti, apa yang terjadi bukan masalah kita dan kepentingan kita,Negara dan juga pihak aparat penegak hukum juga tahu siapa dibalik kisruh di Papua, dan ini bukan menjadi rahasia lagi,” ungkapnya.

Kata Mathius , bisa dibayangkan, sampai Kapolri dan Panglima telah mewacanakan akan berkantor di Papua.

“Oleh sebab itu, keamanan ada ditangan kita semua, kita bertanggung jawab karena kita pemimpin, baik kita di pemerintah dan di tempat ibadah juga bagi para Tokoh Adat, dan tokoh agama,” paparnya.
Mathius Awoitauw menambahkan, dirinya sebagai kepala Daerah, ikut merasa tersinggung, dengan datangnya ribuan pasukan aparat keamanan TNI/Polri di Papua dengan misi menjaga keamanan, seolah-olah menunjukkan daerah tidak mampu menjaga keamanan wilayahnya sendiri.

“Saya tersinggung, loh saya punya tokoh masyarakat ada dimana sampai harus ada bantuan personil TNI/Polri datang. Karena itu kita harus bertanggung jawab bahwa kawasan ini, wilayah Tabi tidak seperti itu, semua aktivitas berjalan seperti biasa dan tidak ikut dalam kegiatan seperti itu,” terangnya.

Sampai saat ini di Kabupaten Jayapura, situasi tetap kondusif, tidak ada aksi anarkis yang menimbulkan kerusakan seperti yang terjadi di Manokwari, Sorong, Fak-Fak dan Kota Jayapura. (Irf / lintaspapua.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here