Pujian bagi Masyarakat Netizen : Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto Ajak Enzo Bicara Bahasa Perancis

0
274

JAKARTA (LINTAS PAPUA) – Reaksi masyarakat nitizen lewat media sosial terhadap sebuah postingan di Facebook yang menunjukkan sosok mirip Enzo Zenz Allie dengan bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid, yang belakangan dianggap sebagai bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), perlu mendapat apreasiasi.

Postingan di akun Facebook milik Salman Faris itu muncul tidak lama setelah beredar video bagaimana Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengajak Enzo berbicara dalam bahasa Perancis. Video itu viral. Dalam akun Instagram @tni_angkatan_darat, Enzo disebut ingin masuk ke kesatuan Kopassus.

Panglima menilai sosok Enzo Zenz Allie memenuhi syarat untuk menjadi prajurit TNI. “Dilihat dari seleksinya memenuhi syarat, yang viral itu pull up-nya, larinya, ya itu dihitung semua secara fisik kemudian psikologinya semuanya memenuhi syarat,” kata Hadi Tjahjanto di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa, Selasa, 6 Agustus 2019 (Tempo.co, Rabu, 7 Agustus 2019 07:11 WIB).

Pemilik akun Facebook yakni Salmen Faris penasaran ingin tahu, siapa Enzo itu? Yang diketemukan mengagetkan dan kemudian setelah tersebar menggemparkan, memancing reaksi meluas di kalangan masyarakat netizen dan bahkan ditanggapi oleh pihak TNI.

Dalam unggahan itu, terdapat beberapa tangkapan layar yang diklaim dari akun Facebook milik Enzo Allie yang memuat beberapa bendera hitam bertuliskan tauhid. Bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid itu belakangan dianggap sebagai bendera HTI, yang status badan hukumnya telah dicabut Kementerian Hukum dan HAM pada 19 Juli 2017.

Kesimpulan cepat yang bisa ditarik dari kasus ini adalah sikap dan tindakan netizen, membuktikan adanya kesadaran tinggi dari para netizen terhadap keselamatan bangsa dan negara. Ini yang harus mendapat apresiasi. Sebuah sikap yang sangat membanggakan.

Kita juga mencatat bahwa ramainya media sosial menanggapi “kasus Enzo” ini menyadarkan kepada kita bahwa media sosial yang selama masa kampanye lalu “berwajah buruk” karena lebih digunakan untuk tujuan yang tidak baik, kini “berwajah cantik” karena benar-benar berfungsi sesuai dengan nature-nya sebagai alat komunikasi yakni mencerdaskan, mencerahkan, mempersatukan, selain sebagai sarana komunikasi.

Reaksi cepat para netizen, secara jelas mengungkapkan khawatiran mereka terhadap lembaga yang sangat penting bagi keselamatan negara dan bangsa, guardian, pengawal konstitusi, penjaga keutuhan negara yakni TNI, tersusupi oleh kekuatan anti-NKRI, anti-Pancasila, anti-Kebhinneka Tunggal Ika-an, dan anti-UUD 1945. Bila TNI tersusupi kekuatan semacam itu, betapa bahayanya bagi negeri ini.

Memang, seperti dikatakan oleh Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Sisriadi, TNI sedang mendalami informasi tentang Enzo. Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu juga mengatakan, latar belakang Enzo harus dicek terlebih dulu. Tetapi Ryamizard yang pernah mengatakan tiga persen anggota TNI terpapar radikalisme menegaskan, siapa pun prajurit TNI yang terindikasi mendukung khilafah akan langsung dipecat.

Kita memang harus waspada; waspada terhadap paham radikalisme, gerakan anti-Pancasila, anti-NKRI, anti-UUD 1945, dan anti-Kebhinnekaan Tunggal Ika. Waspada bukan berarti phobi, ketakutan berlebihan. Tetapi, sebuah sikap mengantisipasi berbagai kemungkinan, belajar dari negara-negara lain yang hancur karena paham dan gerakan seperti itu.

Radikalisme adalah sikap keagamaan yang ditandai oleh empat hal: pertama, sikap tidak toleran, tidak mau menghargai pendapat orang lain; kedua, sikap fanatik, yaitu selalu merasa benar sendiri, menganggap orang lain salah.

Ketiga, sikap eksklusif, yaitu membedakan diri dari kebiasaan Islam kebanyakan dan mengklaim bahwa cara beragama merekalah yang paling benar, yang kaffah, dan cara beragama yang berbeda dari mereka sebagai salah, kafir dan sesat; dan keempat, sikap revolusioner, yaitu cenderung menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan. (Rahimi Sabirin, Islam dan Radikalisme, 2004, hlm. 5).

Menurut Simon Tomey (International Enyclopedia of Social Sciences, Vol. 7, hlm. 48.) radikalisme merupakan suatu konsep yang bersifat konstekstual dan posisional. Adanya radikalisme mengandaikan antitesis dari ortodoks atau arus utama yang bersifat sosial, sekuler, saintifik, dan keagamaan. Tetapi, dalam pandangannya, radikalisme tidak memuat gagasan atau argumentasi, melainkan lebih berkaitan pada posisi dan ideologi yang mempersoalkan atau menggugat pandangan umum atau sesuatu yang diterima dan dianggap mapan dalam masyarakat.

Sikap waspada memang harus terus dihidupkan. Sebab, kita tahu bahwa paparan paham radikalisme bukan hanya menyasar kalangan mahasiswa di lingkungan kampus–menurut BNPT beberapa waktu lalu, tujuh kampus yakni, UI, ITB, IPB, Undip, ITS, Unair, dan UB, bahkan hampir semua PTN dan PTS, terutama fakultas eksakta di Jawa, telah tersusupi radikalisme–namun juga pada komunitas aparatur sipil negara (ASN).

Padahal, komunitas ASN yang menjadi ujung tombak pelayanan publik akan tetapi banyak yang mengalami proses radikalisasi dalam pemikiran dan tindakan. Semestinya, ASN—juga TNI dan Polri–memiliki loyalitas ideologi. ASN di Indonesia wajib untuk setia dan menjalankan prinsip ideologi Pancasila dalam pekerjaan di lembaga birokrasi pemerintahan maupun dalam relasi sosial kemasyarakatan. Loyalitas ASN terhadap ideologi negara dan konstitusi adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar dan merupakan harga mati. ASN bekerja untuk mengabdi kepada kepentingan rakyat dan keutuhan negara.

Harus diingat bahwa kodrat bangsa Indonesia adalah keberagaman. Takdir Tuhan untuk kita adalah keberagaman. Dari Sabang sampai Merauke adalah keberagaman. Dari Miangas sampai Rote adalah juga keberagaman. Berbagai etnis, bahasa, adat istiadat, agama, kepercayaan, dan golongan bersatu padu membentuk Indonesia. Itulah kebhinneka tunggal ika-an kita.

Oleh karena itu, seperti berulang kali dikatakan oleh Presiden Jokowi bahwa pemerintah pasti akan bertindak tegas terhadap organisasi-organisasi, paham-paham, gerakan-gerakan Anti-Pancasila, Anti-UUD 1945, Anti-NKRI, Anti-Bhinneka Tunggal Ika. Karena itu, kita juga berharap bahwa TNI pun akan bertindak tegas, untuk mencegah sekuat tenaga dengan segala daya dan usaha tidak tersusupi paham atau kekuatan pemecah bangsa. *

( https://jokowidodo.app/post/detail/pujian-bagi-masyarakat-netizen )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here