JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Ribuan jamaah masjid yang tergabung dalam BKMM (Badan Koordinasi Masjid dan Musholla) Distrik Heram melaksanakan Sholat Idul Adha di Lapangan Den Zipur 10 Waena pada Minggu (11/8/2019).

Para jamaah tersebut berasal dari gabungan 12 masjid, 3 Musholla dan 2 pondok pesantren yang ada di wilayah itu.

Khotbah dibawakan oleh Ustad H. Muhammad Wahib Lc MA dengan mengambil hikmah, Hakikat berkurban untuk mewujudkan ketaatan. Sementara imam sholat oleh KH. Syaihul Umami SHi.

Nampak terlihat di areal lapangan dan jalan raya, petugas dari Kepolisian, TNI dan relawan dari non muslim turut membantu jalannya pelaksanaan sholat Idul Adha. Hal ini tergambar sebagai bentuk toleransi antara umat beragama di Kota Jayapura yang berjalan dengan baik.

Dalam khutbahnya, Muhammad Wahib menyampaikan bahwa, pada hari ini tepat tanggal 10 dzulhijah 1440 H, umat islam di Indonesia maupun di seluruh dunia merayakan hari raya Idul Adha. Idul Adha terjadi setelah ibadah haji di tanah suci yang memerlukan pengorbanan harta, fisik dan tenaga. Maka untuk mensyukurinya umat islam merayakannya melalui bentuk penyembelihan hewan kurban sebagai ekspresi mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hari raya harus dimaknai oleh kaum muslimin sebagai bentuk suka cita karena karunia Allah.

Dalam penjelasan al quran dan hadist hari raya atau id berarti hari kegembiraan yang ditandai keharusan makan dan larangan untuk berpuasa saat itu. Sebagaimana penjelasan dalam alquran surah Al Maidah: 114 yang artinya, Isa putera Maryam berdoa “Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan sesudah kami dan menjadi tanda bagi kekuasaan engkau. Beri rezkilah kami dan engkau pemberi rezki yang paling utama.

“Dimensi sosial dalam hari raya Idul Adha dimana umat islam disunnahkan berkurban agar dagingnya bisa dibagikan kepada sesame dan terutama para fakir miskin. Dengan menyembelih hewan kurban maka umat islam dianggap mendekatkan diri kepada Allah SWT,” kata Wahib.

Memaknai idul adha adalah ketaatan dan tunduk atas perintah Allah. Seperti ketaatan Nabi Ibrahim AS yang disuruh menyembelih puteranya Nabi Ismail AS dalam mimpinya. Nabi Ibrahim berkata pada anaknya “Hai anakku sesungguhnya aku nelihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu”. Anaknya menjawab “Hai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

“Atas kehendak Allah, drama penyembelihan anak manusia itu batal dilaksanakan. Allah SWT berfirman, sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor domba sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang dating kemudian. Demikianlah kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba kami yang beriman” ujar Wahib.

Wahib menambahkan, Nabi Ibrahim AS dijuluki bapak para nabi, karena itulah banyak syariat beliau yang terus dilestarikan oleh para nabi setelahnya yakni thawaf, khitan dan kurban. Dalam sejarahnya Rasul Muhammad SAW juga biasa berkurban setiap idul adha dua ekor domba, satu untuk beliau dan satunya untuk sahabatnya. (Mas Anang)