JAYAPURA  (LINTAS PAPUA)  –  Hari ini Selasa 6 Agustus 2019 . Festival ini akan berlangsung pada 6-9 Agustus 2019 di Gedung Keik LMA Malamoi. Tema FFP III adalah perempuan penjaga Tanah Papua. Latar Belakang Pemilihan Tema Perempuan Papua dalam kebudayaannya ditempatkan dalam posisi yang baik, seperti beberapa suku yang menyimbolkannya dengan pohon sagu, sumber kehidupan.

Namun dalam kehidupan sehari-hari, perempuan lebih sulit mendapat kesempatan yang sama dengan laki-laki, misalnya dalam memilih antara bersekolah atau menikah atau berkegiatan di luar rumah selain bekerja di kebun atau membantu keluarga. Kekangan dari adat melalui aturan keluarga juga masih kita temui di tengah masyarakat yang menganggap mas kawin sebagai tanda telah membeli seorang perempuan.

Di kampung, Perempuan Papua menanggung beban berlapis-lapis, karena dia seorang perempuan, lalu karena miskin, dan terakhir karena ia berkulit hitam. Kekerasan berbasis gender terhadap perempuan dengan pelaku utama anggota keluarga, anggota masyarakat maupun aparat pemerintah, dapat dijumpai di berbagai tempat di Papua.

Kekerasan yang dialami karena seseorang adalah perempuan atau terdiskriminasi karena jenis kelaminnya, terjadi di ruang domestik maupun publik, oleh keluarga, lingkungan sosial, maupun pemerintah. Karena itulah, Orang Papua perlu terus menyuarakan narasi keadilan ekonomi, keseimbangan peran dalam keluarga, dan kesetaraan pemenuhan hak untuk kemajuan Perempuan Papua.

Menghadirkan sosok perempuan dengan menyoroti diskriminasi, khususnya saat mengangkat pengabaian dan belum meratanya pelayanan publik, adalah kerja nyata yang tidak bisa dilakukan sekali waktu atau untuk mendukung agenda politik praktis saja. Narasi Mama-mama Papua yang memperjuangkan kemandirian dengan berorganisasi dan berkelompok, adalah simbol perlawanan masa kini.

Perempuan yang memperjuangkan keadilan akan berpikir dan bertindak lebih dari sekadar mencari kedudukan dan kekayaan. Tentu dengan menyebut istilah perempuan, kami ingin melampaui obyektifikasi jenis kelamin dan pemosisian perempuan sebagai konsumen. Film-film yang diputar di Festival Film Papua ke-3 ini hampir semuanya berisi kisah para perempuan dari berbagai wilayah di Papua.

Sisanya adalah cerita para perempuan dari wilayah lain di Indonesia maupun di Pasifik, yang penting untuk dipelajari para penonton di Papua.
Film-film yang diputar di Festival Film Papua ke-3 kami bagi dalam tiga tema, yaitu perempuan dan kebudayaan, perempuan dan perannya dalam pembangunan, serta perempuan dan lingkungan hidup.

Semoga kisah kekuatan perempuan dapat tercermin dalam film-film terpilih, untuk menginspirasi kita menjadi lebih kritis dan mendukung perjuangan untuk keadilan bagi bangsa Papua. Rangkaian Kegiatan Festival Film Papua ke-III 1. Kompetisi Film Dokumenter Ada 17 Film yang mengikuti kompetisi Film di Festival Film Papua ke-3.

Dari ke-17 Film itu, Juri sudah memilih 10 Film terbaik sebagai berikut (Judul film, asal cerita, Sutradara):

1. “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, Wamena, Cristian G. Tigor Kogoya 2. “Perempuan di Tanahnya”, Keerom, Kristina Soge, Dion Kafudji 3. “30 Tahun Su Lewat”, Keerom, Lidya Monaliza Upuya 4. “Keadilan di Tanah Sendiri”, Wamena, Nelson Lokobal 5. “Menembus Batas”, Jayapura, Naomy Wenda 6. “Daerah Hilang”, Timika, Helena Kobogau 7. “Moinyayo Hekhe Mokhonate”, Sentani, Alberth Yomo 8. “Sasi Ibu-ibu Kampung Kapatcol Misool Barat”, Raja Ampat, Wawan Mangile 9. “Mre Wenteh”, Jayapura, Nelius Wenda 10. “Agmai”, Sorong, Agus Kalalu  Empat Juri Festival Film Papua ke-III adalah Melania Kirihio, Lisabona Rahman, Arul Prakkash dan Wensi Fatubun.  Pemenang kompetisi akan diumumkan pada puncak kegiatan 9 Agustus 2019.

Tentang Papuan Voices Papuan Voices adalah Komunitas Filmmaker Papua yang fokus memproduksi dokumenter berdurasi pendek tentang Manusia dan Tanah Papua. Filmmaker Papua hendak menyampaikan pesan-pesan kepada seluruh lapisan komunitas masyarakat di Tanah Papua, Indonesia dan Internasional untuk melihat Papua melalui “mata” orang Papua sendiri dalam bentuk film dokumenter. (***)