Simon Tabuni (linguist & language activist)|.

Deklarasi UNGA United Nation General Assembly 2019 sebagai Tahun Perayaan Bahasa Masyarakat Indigenous : Terancam Punah, Bahasa Membutuhkan Pendokumentasian dan Konservasi

Oleh :   Simon Tabuni (linguist & language activist)| tabuni_simon@yahoo.com

 

Pendahuluan

Agenda tahunan berskala internasional merupakan sebuah mekanisme yang dilakukan guna meningkatkan kepeduliaan besama pada isu-isu yang merupakan perhatian dunia. Salah satu adalah mengenai bahaya kepunahan bahasa (language endangerment).

Oleh sebab itu, tahun 2019 merupakan tahun yang diresolusikan oleh UNGA (United Nations General Assembly) sebagai tahun perayaan bahasa masyarakat tradisional/adat (International Year of Indigenous Language).

Hajatan demikian bertujuan untuk memobilisasi berbagai macam pemangku kepentingan guna melakukan aksi terkordinasi di seluruh dunia baik itu dalam skala internasional, nasional maupun daerah. Terdapat beberapa tema besar yang diangkat dalam perayaan ini. Pertama, menumbuhkan pemahaman, rekonsiliasi dan kerjasama secara internasional.

Kedua, menciptakan suasana kondusif untuk sharing dan penyebaran pengetahuan. Ketiga, mengintegrasikan bahasa ke dalam pengaturan standar (berkaitan dengan sistem orthograpi). Keempat, penguatan lewat peningkatan kapasitas masyarakat indigenous pemilik bahasa. Kelima, menjalankan pertumbuhan dan pembangunan yang hadir lewat lewat elaborasi pengetahuan kekinian.

Tulisan ini bersifat informatif yang mana lebih berfokus pada situasi bahasa, penyebab, dan upaya-upaya guna membangun kesadaran kolektif tentang pelestarian bahasa daerah di Tanah Papua. Juga mendorong setiap elemen pemerhati Bahasa daerah di tanah papua untuk mengajak komuitas/anggota suku bangsa di tanah papua untuk mengekspresikan Bahasa daerah di mana saja.

Bentuk bahasa

Berbicara mengenai bahasa, ada beberapa hal yang perlu untuk diketahui bersama mengenai rupa bahasa. Bahasa yang kita tuturkan melalui mulut melewati suatu proses yang cukup kompleks dimana udara ditolak keluar dari paru-paru melalui sistem pernafasan. Dari paru-paru udara melewati pipa angin menuju larynx saat bersamaan melewati pita suara. Seusai melewati pita suara, udara bergerak naik ke vocal tract yang mana selanjutnya diolah oleh kelenturan lidah dan bibir sehingga menciptakan bunyi suara berupa huruf yang kemudian dirangkai menjadi kata, kalimat, paragraf, dan seterusnya. Bahasa ini dinamakan bahasa verbal (verbal language).

Selain bahasa verbal, terdapat juga bahasa non-verbal. Bahasa non-verbal terbagi atas gesture dan sign language. Dilihat dari kata, non-verbal mengindikasikan bahwa bahasa yang dikomunikasikan tanpa mengeluarkan suara atau dengan kata lain komunikasi dilakukan melalui indra lain seperti tangan, kepala, raut wajah, dll. Sign language secara lasim digunakan dalam komunitas tuna runggu. Sedangkan gesture dipakai pada komunikasi setingkat pidato dan komunikasi seharian. Contoh gesture adalah berbicara sambal menunjuk sesuatu mengunakan jari telunjuk. Kesatuan sistem komunikasi antara verbal, sign serta gesture disebut Multi-modal communication.

Diversitas bahasa

Diilustrasikan dalam kitab Kejadian tentang (Runtuhnya) ‘Menara Babel’ dikarenakan Allah membuat bahasa mereka menjadi beda satu sama lain… sehingga mereka tidak saling mengerti ketika berkomunikasi. Ilustrasi ini tidak hanya mengambarkan keanekaragaman bahasa menjadi penyebab tidak terselesaikannya Menara Babel, tetapi juga menceritakan awal mula terciptanya keberagaman bahasa di muka Bumi. Cerita identik juga didentumkan oleh seorang informan (berusia 80an) kepada saya ketika terlibat dalam penelitian budaya di wilayah Teluk Cenderawasih. Ia percaya bahwa keanekaragaman bahasa di Teluk ini ada kaitannya dengan peristiwa kekacauan pembangunan Menara di sekitar Teluk Umari.

Menurut situs ethnologue (2018) terdapat kurang lebih 7097 bahasa yang dituturkan oleh penduduk bumi. Di Indonesia sendiri, kurang lebih terdapat 780an bahasa daerah. Dari jumlah tersebut, Papua menempati posisi pertama sebagai tempat dengan jumlah bahasa terbanyak, berjumlah 275-300 (menurut beberapa lembaga survey). Di wilayah Teluk Cenderawasih terdapat beberapa bahasa seperti bahasa Umari, Goni kuno (punah), Yaur, Wandamen, Yeresiam, Roon, Biak, Dusner, dan Tandia (punah).

Kedua cerita di atas menceritakan asal muasal keanekaragaman bahasa di bumi dari perspektif teologi dan mitologi. (Ketereratan keduanya perlu untuk diinvestigasi lebih lanjut). Setiap suku bangsa pasti memiliki cerita dan sudut pandang masing-masing. Namun, dari perspektif ilmu kebahasaan, isu keanekaragaman bahasa masih menjadi pertanyaan dan perdebatan besar.

Keanekaragaman tidak dilihat hanya dari kuantitas bahasa, akan tetapi secara perfasif dilihat pula pada sistem gramatikal. Dalam bidang keilmuan bahasa kata kerja terbagi menjadi kata kerja biasa dan kata kerja kompleks. Apabila dicermati, kata kerja dalam bahasa Indonesia tidak sebegitu kompleks dibandingkan bahasa-bahasa non-Austronesian seperti bahasa Lani Barat dan Malind. Kata kerja dalam kedua bahasa ini selalu agree pada subjek (aktor) dan objek (pasien). Artinya berapa banyak orang (number) yang melakukan suatu aktifitas selalu ditandai (marked) dalam kata kerja; sedangkan, bahasa Indonesia tidak.

Kemudian berbeda dengan bahasa Malind dan Indonesia, bahasa Lani Barat mempunyai lima konsep penanda waktu (tense) yang mana masing-masing mempunyai bentuk tersendiri (form). Peter Barclay (2008) dalam bukunya ‘Grammar of Western Dani’ mengemukakan bahwa kelimanya adalah far past, immediate past, intermediate past, present, (immediate and intermediate intentive mood) dan future tense. Bahasa Malind dan Indonesia hanya mempunyai bentuk waktu masa lampau (past), sekarang (present), dan akan datang (future). Ini berarti dalam berkomunikasi mengenai kejadian lampau spesifikasi waktu sangat penting bagi penutur Lani; apakah kejadian itu baru terjadi atau beberapa menit lalu; sudah beberapa hari/minggu/bulan; atau apakah itu sudah terjadi bertahun-tahun lamanya.

Situasi bahasa

Sayangnya diversity tersebut sedang berada dalam bahaya kepunahan. Dilihat dari segi diversitas bahasa, terdapat kurang lebih 7.097 bahasa yang dituturkan oleh 8 miliar orang di muka bumi (situs Ethnologue 2018). Dari jumlah ini, ironisnya, 97% manusia di muka bumi hanya menuturkan 4% Bahasa sedangkan 96% Bahasa dituturkan hanya oleh 3% populasi penduduk bumi (situs UNESCO 2003). 4% bahasa tersebut adalah China-Mandarin, Inggris, Spanish, Hindi, Arabic, Melayu/Indonesia, Prancis, Portugis, Benggali, Rusia, Jerman, Jepan, Punjabi, Jawa, dan Telugu sedangkan 96% adalah bahasa-bahasa masyarakat indigenous, termasuk bahasa-bahasa yang berada di Pulau New Guinea. Artinya, 5 miliar manusia, dari jumlah total penduduk bumi 8 miliar, menuturkan 15 bahasa, sedangkan ironisnya sekitar 7.000 bahasa hanya memiliki 3 miliar penutur.

Beberapa penelitian baru-baru ini, dikutup dari Sarah G. Thomason (2015) penulis buku Endangered Languages, mengeluarkan figure dimana kurang lebih setengah dari 7097 bahasa di bumi diprediksi akan hilang di penghujung abad ini. Lebih detail, Dr. Gary Simons, ‘SIL’s Chief Research Officer and Executive Editor of Ethnologue’, memaparkan posternya pada pertemuan tahunan ke 93 masyarakat linguistic Amerika (LSA) yang mana dikemukakan bahwa rata-rata setiap tahun terdapat 9 bahasa yang punah dalam kurun waktu 25 tahun. Ini berarti dalam kurun waktu 14 hari terdapat 1 bahasa yang punah (dikutip dari artikel ‘Global language lost: a clearer picture’ SIL 2019).

Di Tanah Papua sendiri terdapat 66 bahasa, dari jumlah keseluruhannya 250-275 bahasa, dalam keadaan bahaya (in danger) menurut UNESCO Atlas of the World’s Languages in Danger (2009).  Di antara lain, “30 bahasa dalam keadaan rentan (vulnerable), 7 bahasa sudah terancam (definitely endangered), 15 bahasa sangat terancam (severely endangered), 13 bahasa dalam keadaan kritis (critically endangered) dan 1 hampir punah (nearly extinct)”. Namun, menurut Dr. Yusuf Sawaki, director CELD (Centre for Endangered Language Documentation) melalui wawancaranya dengan media cetak Cahaya Papua terdapat 5 bahasa yang terancam punah yaitu Dusner, Tandia, Doreri, Mansim, dan Wowiai. (Di Indonesia sendiri terdapat 31 bahasa berada dalam keadaan hampir punah (nearly extinct).

Penyebab endangered bahasa

Ketika melakukan penelitian pada beberapa suku di Teluk Cenderawasih informan kami menceritakan peristiwa penyebab punahnya bahasa mereka. Di kampung Goni, menurut informan, dahulu kala nenek moyang mereka berbahasa Goni namun generasi sekarang tidak lagi menggunakannya dalam berkomunikasi. Penyebab hilangnya bahasa tersebut juga masih misterius. Melihat realitas bahasa yang dituturkan di kampung tersebut, yakni bahasa Wandamen dan Biak, saya berasumsi mungkin telah terjadi akulturasi budaya karena alasan ekonomi dan federasi. Apabila penyebab hilangnya bahasa Goni akibat ekonomi dan federasi perang, terdapat juga kasus lain dimana matinya bahasa diakibatkan oleh penaklukan perang. Sebagai contoh, dahulu kala terdapat sebuah suku bangsa yang menempati daerah sekitar Yaur namun telah tiada (punah) akibat perang tradisional, menurut informan.

Spesial kasus terjadi pada bahasa Dusner dan Kaiso. Saat ini hanya terdapat tiga penutur aktif bahasa Dusner (menurut Deda et al 2011a; dan Mary Dalrymple & Suriel Mofu 2012) dan dikategorikan hampir punah (nearly extinct); sedangkan, Bahasa Kais, secara regular, saat ini dituturkan oleh tidak lebih dari 20 orang. Berkurangnya penutur pada kedua bahasa ini adalah akibat pelarangan mengunakan dalam berkomunikasi oleh beberapa penginjil. Alasan dari pelarangannya adalah karena angapan bahwa bahasa tersebut diasosiasikan dengan kegelapan/bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan dunia roh, kasus Dusner. Selanjutnya, pada tahun 50an dan 60an pelajar di Sekolah Rakyat (VolksSchool) dilarang mengunakan bahasa Kais di lingkungan sekolah (dan pelajaran disampaikan dalam bahasa Melayu) dengan dalil mempercepat profesiensi dalam bahasa Melayu. Apabila mereka melanggar, maka akan dikenakan sangsi berupa mulut ditongkat dengan lidi berukuran 50cm seharian. Hal ini menyebabkan banyak anak-anak dan pemuda lebih memilih mengunakan bahasa Melayu dibandingkan Bahasa Kais dalam 20 tahun, yang menyebabkan menurunnya jumlah penutur hingga terasa saat ini.

Bagaimana situasi bahasa-bahasa di Papua saat ini? Kita menjadi saksi mata betapa sebagian besar generasi milenial dan generasi Y di kota-kota dan sebagian kampung sudah tidak mengetahui bahasa Ibu mereka; sebagian hanya mengetahui beberapa kata, frasa, dan kalimat pendek (mereka diklasifikasikan sebagai remembered speaker).

Ada beberapa indikator yang menyebabkan terjadinya peristiwa ini, menurut pandangan saya. Diantara lain, terputusnya transfer bahasa antar generasi dalam keluarga/ranah rumah tangga. Artinya, orang tua dan buyut tidak lagi berkomunikasi mengunakan bahasa Ibu dengan anak ataupun cucu mereka. Hal ini kemungkinan besar diakibatkan oleh melting-pot berkumpulnya berbagai macam masyarakat dengan latar belakang budaya berbeda sehingga kecenderungan komunikasi mengunakan bahasa Indonesia diluar terbawa ke dalam keluarga. Lebih lanjut, terdapat juga faktor psikologis berupa ketakutan akibat punishment berbicara bahasa Ibu. Hal tersebut menular dari generasi berpendidikan SR hingga turun pada generasi sekarang. Kasus demikian sangat nampak pada masyarakat Kais dan kemungkinan Dusner sehingga menyebabkan bahasa mereka hampir punah saat ini.

Langkah untuk pemutarbalikan situasi

Isu tentang endangerment bahasa pertama kali secara mendalam dikemukakan oleh Michael Kraus dan beberapa linguists pada Endangered Language Symposium yang diselengarakan oleh Linguistic Society of America (LSA) pada tahun 1992. Satu penekanan penting adalah tantangan kepada institusi pendidikan (universitas) dan dunia professional dalam mendorong penelitian dan membuat prioritas dalam pendidikan terhadap bahasa. Tantangan tersebut direspon dengan dibukanya program ilmu bahasa (linguistics) spesifikasi pendokumentasian (deskripsi dan revitalisasi/konservasi) bahasa pada perguruan tinggi di United Kingdom (seperti SOAS, University of London), Amerika (Hawai University at Manoa), Australia (Australia National University) dan berbagai Universitas lainnya. Selain membuka program baru, dibuka juga pelatihan-pelatihan tentang mekanisme pendokumentasian (dan revitalisasi) bahasa seperti Endangered Language Documentation Programme ELDP training, Endangered Language Project di Language Documentation Training Centre ELP-LDTC. Disamping membuka program pelatihan dan pendokumentasian bahasa, dihadirkan juga beberapa lembaga khusus yang menyediakan pendanaan untuk pendokumentasian bahasa seperti Arcadia fund melalui ELDP, Volkswagen grant lewat DoBes. Di saat bersamaan diciptakan juga tempat penyimpanan digital bahasa (language archive) seperti ELAR, DoBES, Paradisec, yang dapat diakses secara bebas oleh linguists, masyarakat umum, dan pemilik bahasa.

Penjelasan di atas merupakan deskripsi singkat tentang bagaimana respon masyarakat pecinta bahasa dan ahli bahasa terhadap fakta tentang endangered bahasa di muka bumi. Lalu bagaimana dengan kita di Indonesia terlebih khusus Papua? Bagaimana respon kita terhadap isu ini? Apakah sejauh ini telah ada upaya kongkrit pendokumentasian dan revitalisasi bahasa-bahasa Papua?

Studi tentang bahasa merupakan salah satu bentuk dokumentasi meskipun data-data disimpan dalam bentuk catatan lapangan dan elisitasi. Studi bahasa sudah dimulai sejak missionaris bekerja di atas Tanah Papua. Publikasi dilakukan pertama kali oleh Van Hasselt melalui publikasi Tata Bahasa Mini (Short Grammar) bahasa Byak pada tahun 1905, tiga tahun kemudian ia mengeluarkan kamus bahasa Byak (1908). Selain dua Van Hasselt, terdapat juga Van Vallin pada bahasa Wandamen; G.J Held pada bahasa Waropen (1942); G.R. Reesink pada bahasa-bahasa di Kepala Burung Papua; Broomley dan Van Der Stap pada bahasa-bahasa di pegunungan tengah papua; J. G. Anceaux pada bahasa-bahasa di Peninsula Bomberai (1958), Keith dan Christine Berry pada bahasa-bahasa di IMEKKO (1987) dan masih banyak lagi rangkaian studi bahasa di Papua hingga saat ini.

Di Papua sudah ada beberapa Perguruan Tinggi yang membidangi studi dan penelitian tentang bahasa. Selain FKIP UNCEN yang cukup lama melakukan studi bahasa lewat penelitian (meskipun bukan minat), pada tahun 2000 didirikan Fakultas Sastra (sekarang Sastra dan Budaya) minat linguistics di UNIPA. Melalui hal tersebut, telah banyak studi, entah itu yang oleh mahasiswa dan dosen, bahasa-bahasa secara formal di Papua yang mana membantu membuka horizon berpikir kita mengenai diversitas, social, sejarah dan grammar bahasa-bahasa di Papua.

Selain perguruan tinggi, terdapat pula lembaga penelitian yang membidangi pendokumentasian dan preservasi bahasa-bahasa di Papua. Salah satu lembaga pendokumenasian bahasa adalah CELD (Centre for Endangered Languages Documentation) yang berbasis di Universitas Papua. Tidak mengunakan cara tradisional, proses koleksi, analisa (annotasi, transkripsi, dan translation), dan penyimpanan data bahasa mengikuti perkembangan terkini bidang ilmu bahasa. Beberapa projek dokumentasi bahasa telah atau sedang dilakukan seperti dokumentasi bahasa Iha, Wooi, Yali, Mpur, Lani Barat, Yaben, Kais, dll. CELD juga menjalin kerjasama dengan beberapa universitas dan peneliti bahasa ternama di dunia. Selain pendokumantasian bahasa, terdapat beberapa lembaga non-pemerintah yang secara tidak langsung bergerak pada bidang preservasi/revitalisasi bahasa. Lembaga tersebut adalah Lembaga Penerjemaan Alkitab dan SIL yang membantu preservasi bahasa melalui penerjemaan Alkitab kedalam bahasa-bahasa daerah di Papua.

Di atas kita telah mendiskusikan tentang bahasa, diversitas bahasa, situasi endangered bahasa dan penyebabnya, serta beberapa upaya-upaya yang dilakukan guna merespon situasi tersebut. Sayangnya, menurut pandangan saya, gaung situasi endangered bahasa-bahasa Papua kurang berkumandang dibandingkan dengan situasi kepunahan flora dan fauna. Oleh sebab itu, selaras dengan penetapan perayaan tahun bahasa sedunia yang jatuh pada tahun 2019, kita mengharapkan terealitasnya berbagai macam kegiatan bersifat informatif guna membangun kesadaran bersama mengenai situasi bahasa di Papua serta memikirkan langkah-langkah kongkrit yang musti diambil kedepan guna merespon situasi tersebut. Langkah-langkah kongkrit kemungkinan berupa bagaimana mekanisme pendanaan dan kolaborasi. Lembaga-lembaga pendokumentasian dan revitalisasi bahasa selama ini berjalan tanpa sokongan finansial yang cukup baik mengakibatkan penurunan produktivitas pekerjaan baik di lapangan maupun di kantor. Kekurangan pendanaan juga berakibat pada terhambatnya upaya pengadaan dan pengembangan buku-buku ajar dalam bahasa daerah serta kamus dan buku tata bahasa guna merealisasikan pembelajaran bahasa secara formal. (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here