PACITAN (LINTAS PAPUA)  – Sebanyak 113.000 benur lobster atau baby lobster dilepasliarkan di Pacitan, Jawa Timur, Jumat (5/7/2019). Pelepasliaran itu dilakukan usai usaha penyelundupannya ke Vietnam digagalkan aparat pada Rabu lalu (3/7/2019).

Perairan di pantai Watukarung dipilih petugas sebagai lokasi pelepasan lantaran nelayannya dianggap punya kesadaran tinggi terhadap aset hayati yang nilainya ditaksir setara Rp 17,3 miliar itu.

Melansir Kumparan, baby lobster itu sejatinya berasal dari perairan Bengkulu. Enam orang penyelundup lantas membawanya ke Jambi sebelum dikirim ke Singapura. Mereka berhasil disergap setelah petugas mendapat informasi aksi kriminal itu.

“Baby lobster ini berasal dari Bengkulu. Rencananya, Jambi ini sebagai lokasi tempat pengiriman ke Singapura. Namun berhasil kita amankan bersama tim Bareskrim Polri dan Polresta Jambi,” kata Kapolresta Jambi Kombes Dover Cristian seperti dilansir Kumparan, Rabu (3/7/2019).

Para penyelundup itu dijerat dengan Pasal 31 ayat (1) juncto Pasal 6 juncto Pasal 7 juncto Pasal 9, UU Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Ikan, Hewan, dan Tumbuhan. Mereka terancam dibui maksimal 6 tahun atau dikenai denda maksimal Rp 1,5 miliar.

Usai dijadikan barangbukti pengungkapan kasus, nasib baby lobster itu lantas diserahkan kepada Tim Pengawasan Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM). Tim kemudian melakukan serangkaian koordinasi sehingga ada keputusan baby lobster akan dilepasliarkan di Pacitan.

“Jadi ada sekitar 113 ribu ekor. Cuma karena perjalanan jauh makanya ada sekitar 20 persen yang tidak bisa hidup. Jenisnya sebagian mutiara dan jenis pasir juga ada,” terang Muhlin Kepala BKIPM Kelas I Juanda Surabaya, seperti dilansir Detikcom, Jumat (5/7/2019).

Mengacu Peraturan Menteri Nomor 56 Tahun 2016, penangkapan dan pengiriman benur ke luar negeri memang dilarang. Tujuannya untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutan sumberdaya laut. Di sisi lain, perangkat hukum tersebut juga bertujuan mengembalikan kedaulatan laut Indonesia.

“Karena kalau ini kita kirim ke luar negeri sana, biasanya tujuannya Vietnam, makanya Vietnam jadi penghasil lobster terbesar di dunia. Padahal mereka ndak punya apa-apa, dari sini asalnya,” tandasnya.

Dibagian lain, Ninik Setyorini, Kepala Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan Pacitan menyampaikan terimakasih kepada Menteri Kelautan dan Perikanan. Ini menyusul dipilihnya perairan Pacitan sebagai tempat pelepasliaran benur lobster. Kegiatan ini merupakan kedua kalinya dalam dua pekan terakhir.

Dipilihnya perairan Pacitan, lanjut Ninik, karena kawasan tersebut merupakan habitat lobster. Khusus di Watukarung, wilayah perairan yang ada selama ini bebas dari pela atau karamba pengambil benur. Hal ini tak lepas dari peran aktif kelompok nelayan setempat dalam menjaga laut tempat mereka bekerja tiap hari.

“Ternyata di Pacitan mayoritas nelayan masih peduli terhadap sumber daya alam di mana mereka ini masih kontra terhadap pengambilan benur. Ini sangat diapresiasi oleh Ibu Menteri. Sehingga pelepasliaran dilaksanakan di Pacitan,” tutur Ninik.

(ZAA)

https://jokowidodo.app/post/detail/perairan-watukarung-pacitan-jadi-lokasi-pelepasliaran-baby-lobster-selundupan-rp-173-miliar