TIDAK MAU

Oleh : Alois Wisnuhardana, 2019

Sugeng tindak Mas Sutopo Purwo Nugroho. Hidupmu yang singkat bermakna besar bagi bangsa, bagi kemanusiaan.

“Enggak benar itu, Mas. Ini informasi yang benar…”
“Ting…”, sebuah pesan masuk ke ponsel. Di bawahnya tertera nama lengkapnya, juga jabatannya. Sebuah klarifikasi atas informasi hoax yang lagi ramai beredar.

Saya tak pernah membayangkan bagaimana ia harus hidup dan menikmati hidupnya, ketika tugas dan tanggung jawabnya sebagai Kepala Humas lembaga negara yang mengurus soal bencana. Saya bayangkan, praktis 24 jam tak tidur. Apalagi di sebuah negara, di mana bencana adalah kawan kehidupan, sekaligus mesin pencabut nyawa yang bisa menyergap siapa saja kapan saja.

Dalam setiap kejadian bencana, atau rumor tentang bencana, ia hadir memberi suluh. Kata-katanya datang di hape kita, memberi penjelas atas yang kabur, memberi penerang atas yang masih gelap.

Saya pernah berhari-hari bertemu dia di lapangan setiap hari, waktu terjadi gempa besar di Aceh akhir tahun 2016. Informasi soal korban, gempa susulan, bantuan-bantuan, sampai dengan jeritan pengungsi di lapangan, datang bak air bah di posko utama halaman kantor Kabupaten Pidie Jaya, atau posko pendamping di rumah wakil bupati Said Mulyadi.

Setiap datang ke posko, nyaris tak ada yang tak dikerjakannya kecuali merekap, merekap, dan mengupdate informasi. Seluruh rakyat republik dan media menanti apa yang baru di balik musibah yang tengah singgah.

Di Pidie Jaya itu pula saya merasa dekat. Sebuah rasa yang ternyata belakangan saya tahu, saya GR. Ia dekat dengan siapa saja, dan semua orang merasa dekat dengannya. Kedekatan itu terjadi karena ia orang yang sangat terbuka dan hangat. Ditambah lagi, kami sama-sama kuliah di kampus yang sama. Gedung kuliahnya tetanggaan pula. Saya di MIPA, ia di Geografi, yang gedungnya berhadap-hadapan di Bulaksumur sana.

Saat saling cerita, temannya dan teman saya banyak yang sepersinggungan. Karena kami ternyata juga satu angkatan kuliah. Dari situ pula, saya tahu ia mengidolai Raisa, karena sering diledek digodai teman atau anak buahnya.
Saya agak lupa, apakah ketika itu dia sudah terbuka soal sakit yang dideritanya atau belum, tapi belakangan media ramai memberitakan ihwal sakitnya.

Dan di tengah sakitnya, ia tetap bekerja sebagai juru terang. Sebagai juru komunikasi yang tangguh ulet teruji tak mudah mengeluh. Kepala BNPB ketika itu bercerita ihwal sakit yang diderita anak buahnya, dan tak mau memberinya pengurangan tanggung jawab.

“Itu yang dia minta, dan saya juga berpikir, kalau dia saya bebas tugaskan, ia justru malah terus-terusan berpikir tentang sakitnya. Kalau dia kemoterapi, saya monitor terus perkembangannya. Sambil saya tagih pekerjaan,” begitu Om Willem bercerita tentang anak buahnya itu. Om Willem ini ternyata seangkatan dengan om saya di pendidikan angkatan laut.

Belakangan ketika media makin banyak mengulas tentang sakitnya, ia tetap dingin. Apalagi ketika ia diterima khusus oleh Presiden Joko Widodo.

“Di lapangan, saya sering bertemu atau melihat beliau. Tapi tak pernah punya kesempatan untuk berbicara dengan Bapak Presiden,” begitu katanya.

Sepertinya ia sangat terharu dengan perhatian Presiden padanya. Foto dirinya bersama Presiden dalams suasana yang sangat hangat, adalah hadiah terbaik dari dirinya sebagai anak kepada ibunya. “Mbok, iki lho fotoku karo Pak Presiden,” begitu ia mengirim pesan kepada ibu tercintanya di Boyolali sana.

Dalam sakitnya yang kian parah, ia tetap dan terus bekerja. Ia tidak mau menyerah atau menghindar. Terhadap sakitnya, atau terhadap tanggung jawabnya.

Bagi orang komunikasi atau humas, apa yang dikerjakannya melampaui batas kemanusiaannya. Bagi manusia lumrah, apa yang dijalaninya melewati nalar logis, dan ia tetap menjalaninya dengan gembira hati.

Sakitnya kian parah, dan ia kemudian mencari usada ke negeri China. Dalam hitungan hari sejak itu, usaha itu rupanya adalah usaha terakhir sebelum tubuh fisiknya menyerah. Hari ini, dini hari tadi, jiwanya terpisah dari raga lemahnya, tetapi semangat dan jiwa hangatnya bersemayam di bumi pertiwi.

Saya menangis tersedu-ketika pagi tadi sekitar pukul 3.00 dini hari mendengar kepergiannya. Saya menyesal, perkenalan dan perjumpaan dengannya datang hanya sejenak.

Makin tersedu-sedan ketika jutaan orang Indonesia berterima kasih dan menuliskan nestapa mereka kehilangan manusia yang satu ini. Sebagian menuliskan dan mengharapkan, Sutopo harus dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, karena ia telah menjadi pahlawan bagi banyak orang. Pahlawan bagi kemanusiaan.

Rasanya, saya TIDAK MAU membaca-baca lagi berita tentangnya, karena menambah duka dan kehilangan yang makin dalam. Tapi saya merasa harus mengatakan setetes pengalaman perjumpaan langsung dengannya. Pengalaman berjumpa dengan manusia yang saya tahu hanya ada kebaikannya saja. Manusia yang saya rasakan terbentuk dari semangat tak pernah menyerah.

Hidupnya yang singkat, adalah hidup yang paling bermakna: menjadi suluh bagi manusia lain, menjadi pembawa kabar baik bagi banyak orang.

Sugeng tindak, Kangmas. Tampangmu bboyolalimu, akan selalu ngangeni dan dan kami rindui. (*)