Pengampunan yang Tiada Batasnya : Mudah Diucapkan, Tetapi Susah Dilakukan

0
658

Baca: Matius 18:21-35

“Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” (Matius 18:21)

Pengampunan adalah sebuah kata yang mudah sekali diucapkan, tapi tak mudah untuk dilakukan. Dalam istilah hukum kata pengampunan berarti melepaskan seseorang dari suatu kewajiban; sedangkan dalam konteks keuangan pengampunan bisa diartikan sebuah gagasan mengenai pembatalan hutang.

Sebagai manusia biasa yang punya banyak kelemahan dan kekurangan seperti kita sangatlah wajar bila Petrus bertanya kepada Tuhan Yesus tentang berapa kali harus mengampuni kesalahan orang lain. Pikir Petrus bahwa mengampuni sebanyak tujuh kali (sehari sekali) adalah perbuatan yang sangat mulia, patut dihargai dan diacungi jempol, karena tidak semua orang mampu melakukannya. Namun Tuhan Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (ayat 22).

Pengampunan sebanyak 70×7 kali ini memiliki makna pengampunan yang tiada batas. Dengan kata lain, ketika mengampuni kesalahan orang lain kita tidak perlu menghitungnya, berhentilah mengingat ‘angka’ dan teruslah mengampuni. Memang tidak gampang, sebab mengampuni bukan berarti kita lupa seratus persen dan tidak ingat apa-apa lagi, melainkan kita membuat keputusan untuk melupakan dan tidak mencoba mengingat-ingat lagi. “Pengampunan adalah sebuah keputusan untuk melepaskan atau membatalkan seseorang dari kewajiban atau hutang yang terjadi ketika orang tersebut melukai Anda.” (William Hines). Banyak orang merasa sulit melepaskan pengampunan terhadap orang lain karena terlalu besar luka hati yang dirasakan atau menunggu orang lain meminta maaf terlebih dahulu.

Kita bisa belajar melalui kehidupan Yusuf, orang yang memiliki pengalaman hidup yang teramat pahit karena disakiti, dilukai dan diperlakukan jahat oleh orang lain, bahkan oleh saudara-saudaranya sendiri. Meski demikian Yusuf tidak pernah melakukan pembalasan, tapi mengampuni kesalahan orang-orang yang berbuat jahat terhadapnya. Dalam Kejadian 41:51 dinyatakan bahwa Yusuf memberi nama anak sulungnya ‘Manasye’ yang artinya Tuhan telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku, termasuk juga melupakan kesalahan orang lain, dan mengampuninya.

“Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu…” (Efesus 4:31)

Dapatkan renungan dan ilustrasi kristen terlengkap serta update setiap hari. Download di sini: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.kristen.renunganilustrasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here