SALAHKAH (KITA SEBAGAI) GEREJA MENGOREKSI PELANGGARAN HAM DI PAPUA ? Oleh Pendeta Trevor Johnson

0
1332

PENGANTAR Oleh  : Yosef Rumaseb

Ada kemungkinan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dalam kasus Nduga di mana ribuan penduduk asli mengungsi (terusir?) dari tanah miliknya. Ada diskriminasi penegakkan hukum dan pemenuhan hak-hak orang Papua dalam pembangunan ekonomi, kesehatan, pendidikan.

Salahkah kita sebagai gereja jika menyikapi keadaan ini secara kritis?

Banyak orang  menyimpulkan bahwa orang yang memperjuangkan hak asasi manusia bagi orang Papua  adalah pendukung OPM (Organisasi Papua Merdeka).

Benarkah kesimpulan itu?

Demikian halnya di kalangan gereja. Ada anggapan bahwa mengoreksi kesalahan aparatur negara yang menimbulkan pelanggaran HAM adalah perbuatan melawan pemerintah dan karena itu melawan perintah Allah.

Alkitabiahkah pandangan ini?

Artikel yang ditulis oleh Pendeta Trevor Johnson ini  menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Baik menurut ajaran Alkitab maupun dengan belajar dari prinsip advokasi melawan diskriminasi yang pernah dilakukan oleh Pendeta Dr. Martin Luther King Jr.

Artikel ini tidak membahas semua issue HAM di Papua. Tetapi menjelaskan pandangan Kristiani bagi kita  (gereja) untuk menentukan sikap kritis. Isi tulisan ini  bisa diaplikasikan pada upaya advokasi berbagai bentuk pelanggaran HAM   seperti pada kasus Nduga.

Sekilas tentang Pendeta Trevor Johnson

Pendeta Trevor Johnson (43 tahun). Beliau  berkarya sejak tahun 2007 di Papua antara lain dengan menetap di Kampung Danowage, Korowai Utara, juga di Sentani dan setahun terakhir meneruskan pelayanannya dari Penang, Malaysia.

KASIH Kristus yang mendasari panggilan dan karya beliau untuk membangun sumber daya manusia Papua telah membuat dia dan keluarga meninggalkan  Amerika dan menetap di Papua, bahkan di pedalaman Korowai

Sesudah lama tinggal di rimba raya Korowai, Pendeta Trevor  terpaksa keluar dari sana sebab sakit parah. Pada September 2018, Pendeta Trevor dievakuasi untuk berobat di RS Siloam di Bali dan kemudian pindah ke RS Advent Penang Malaysia. Para kolega, sponsor dan keluarganya telah mendesak Trevor berobat ke Amerika tetapi beliau menolak karena biaya berobat ke Amerika sangat mahal. Menurutnya, biaya itu lebih baik (sebagian)  digunakan untuk  mendukung pelayanan di Korowai Papua.

Selama pengabdiannya di Korowai, Pdt Trevor mengalami 24 kali serangan sakit malaria yang akibatkan pembengkakan pada limpa. Ketika berobat di Bali dan Penang, dokter mendeteksi adanya racun merkuri dalam darah dan parasit yang menyerang otaknya. Sejak berobat pada September 2018 hingga bulan Juni 2019, kondisi kesehatan Pdt Trevor berangsur-angsur pulih.

Kebanyakan orang akan menyerah ketika sakit parah. Trevor tidak demikian. Trevor dalam sakit dan masa pengobatan tetap meneruskan pelayanan dia baik untuk misi penginjilan, pembangunan pendidikan, mendukung pelayanan kesehatan dan advokasi hak asasi orang Korowai.

Empat karyanya sebelum keluar dari Korowai adalah berkampanye agar ada perhatian pemerintah bagi pelayanan kesehatan di Korowai, berkampanye tambang emas ilegal di Korowai yang merugikan penduduk asli ditutup, berkampanye membangun sekolah dasar berbasir asrama di Danowage dan berkampanye mendukung pelayanan kesehatan di Korowai dan Mamberamo.

Selama masa berobat di Bali dan di Penang, Pendeta Trevor meneruskan semua misinya dan menulis artikel yang dipublikasi di akun facebooknya. Namun akun beliau  diblok untuk waktu sebulan.

Berikut  ini adalah salah satu artikel yang ditulisnya. Judul asli tulisan itu adalah “ Yang Saya Pelajari Dari Seorang Pendeta Bernama Dr. Martin Luther King Mengenai Hak Asasi Manusia di Papua dan Suara Gereja”. Seijin Pendeta Trevor, judul  tulisan itu saya edit.

Pandangan Pendeta Trevor

Pendeta Trevor menulis sebagai berikut

Saya adalah seorang pendeta berkebangsaan Amerika Serikat yang kini melayani di Papua sejak tahun 2007 sebagai seorang misionaris di pedalaman Papua di antara suku Korowai. Ketika saya pertama kali tiba di Papua hingga hari ini, saya menolak untuk percaya satu hal, tapi kebenaran nyata dengan begitu jelas—bahwa ada diskriminasi secara sistematis terhadap masyarakat Melanesia di Papua.

Saya cukup ragu untuk membahas hal ini sebelumnya, tapi sekarang tidak lagi, karena beberapa alasan.

Pertama, banyak orang yang dengan salah menyimpulkan bahwa jika ada yang berdiri memperjuangkan hak asasi manusia bagi orang Papua, berarti mereka adalah pendukung OPM (Organisasi Papua Merdeka). Tapi kedua hal tersebut adalah hal yang terpisah dan berbeda. Saya percaya beberapa orang Indonesia mencampuradukkan kedua hal ini menjadi satu sebagai cara untuk memanipulasi agar orang-orang tetap diam mengenal kasus-kasus pelanggaran HAM yang nyata dan serius yang sedang terjadi di Papua. Ini adalah strategi yang cerdik untuk memadamkan perlawanan.

Kedua, beberapa orang mungkin menyimpulkan bahwa saya tidak mengasihi dasar-dasar negara Indonesia jika saya berdiri bagi orang Papua. Tapi, cara manusia Papua diperlakukan, bertentangan dengan Pancasila, khususnya sila kedua yang berbunyi “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.” Saya mengasihi prinsip ini dan berharap kelima prinsip ini dijalankan secara konsisten di Papua.

Jika Papua adalah benar-benar bagian dari Indonesia, mengapa masyarakat Papua tidak diperlakukan sebagai warga negara seutuhnya? Jika warga Papua adalah warga negara Indonesia seutuhnya, mengapa mereka tidak juga disediakan layanan kesehatan dan pendidikan yang cukup? Mengapa mereka diperlakukan sebagai warga negara kelas dua?

Orang Papua Berhak Menikmati Berkat Kekayaan Alamnya

Maafkan saya, tapi terlihat banyak pihak dalam pemerintahan yang tidak mengasihi masyarakat Papua. Mereka hanya mengasihi sumber daya alam Papua.

Tidak adil ketika Papua yang adalah Provinsi terkaya dalam sumber daya alam di seluruh Indonesia (salah satu tempat dengan sumber daya alam terkaya di seluruh dunia), tapi masyarakat yang tinggal diatasnya adalah termasuk masyarakat termiskin.

Jim Elmslie memperkirakan bahwa pertumbuhan konsisten dari masyarakat Melanesia (Orang Papua Asli) adalah sebesar 1,84% per tahun, tapi pertambahan penduduk non-Papua secara konsisten meningkat sebesas 10,82%. Pertumbuhan masyarakat non-Melanesia di Papua melambung sekitar 6 kali lipat dari jumlah orang asli Papua, 1,84% orang asli Papua dibandingkan dengan 10,82% orang non-Papua yang berdatangan ke Papua. Ini menunjukkan ketidaksetaraan.

Angka harapan hidup dari orang asli Papua secara mencolok lebih rendah dari pada masyarakat transmigran yang cukup dekat dengan standar nasional.

Lebih lagi, angka kematian anak-anak Melanesia lebih tinggi dari pada non-Melanesia di wilayah yang sama di Papua. Kemungkinan anak-anak Papua mati sebelum dewasa adalah sebesar 6 kali lipat lebih besar dari pada anak-anak non-Papua yang tinggal di Papua!

Wilayah yang sama, namun tingkat bertahan hidup yang begitu berbeda.

Di Jakarta, 22 dari 1000 bayi meninggal. Tapi di Papua, angka ini meningkat hingga 54 sementara di Papua Barat, angkanya mencapai 74. Di Jakarta, hanya 31 dari 1000 anak yang meninggal sebelum usia 5 tahun, tapi di Papua Barat angka ini meningkat sampai 109, dan di Papua 115.

Angka-angka statistic yang buruk ini terjadi walaupun Papua memiliki sumber daya alam terkaya di seluruh Indonesia (faktanya, salah satu tempat dengan sumber daya alam terkaya di dunia) . Orang-orang Papua memiliki tingkat buta huruf tertinggi di Indonesia, dengan sekitar 25% anak-anak tidak bersekolah. Papua juga memiliki tingkat kematian bayi, anak dan ibu yang tertinggi di Indonesia, sementara memiliki tingkat vaksinasi anak dasar terrendah—semua ini terjadi di wilayah yang mungkin memiliki kekayaan mineral terkaya di seluruh dunia! Ini adalah sebuah ketidakadilan yang teramat besar.

Dasar-dasar Pancasila tidak dipenuhi di Papua. Dasar-dasar Alkitab juga tidak dipenuhi di Papua.

Saya mempertahankan prinsip-prinsip Pancasila di sini ketika angkat bicara untuk membela orang Papua. Saya mengasihi Indonesia, dan oleh sebab itu saya ingin menyaksikan Indonesia benar-benar mengikuti prinsip-prinsip Pancasila dengan memperlakukan orang Papua secara setara.

Selain itu, banyak orang Kristen di Indonesia yang menyatakan bahwa, “Gereja tidak boleh terlibat dalam politik.” Dan saya setuju bahwa gereja-gereja tidak boleh mendukung partai politik atau kampanye apa pun, meski secara pribadi tiap orang Kristen dalam memberikan suara berdasarkan hati nurani dan gereja-gereja menyatakan kebenaran Alkitabiah mengenal perihal-perihal moral yang jelas.

Tapi mari kita perlu perjelas—membela hak asasi manusia berada jauh di atas politik. Ini adalah perkara moral dan bukan perkara partai politik. Gereja tidak bisa berdiam diri mengenai perkara moral.

Oleh sebab itu saya membela baik prinsip-prinsip Pancasila dan pengajaran Alkitahadi saat bersamaan ketika saya berdiri membela orang-orang Papua. Jadi selama setahun belakangan saya mulai berbicara membela hak orang-orang Papua.

Namun, saya terkejut ketika usaha-usaha ini menuai kritikan dari orang-orang Kristen lain yang bekerja di Indonesia. Orang-orang Kristen non-Melanesia ini (dan terkadang beberapa misionaris Barat) mengatakan beberapa hal di bawah ini:

  1. Saya tidak boleh terjun ke politik, harusnya saya urus Alkitab saja dengan serius.
  2. Saya tidak boleh mengatakan apapun yang dapat disalahartikan sebagai kritik terhadap pemerintah atau pejabat pemerintahan manapun.
  3. Saya harus diam mengenai semua perkara social di Papua
  4. Saya harus menaati pemerintah karena begitulah yang dikatakan oleh Roma 13.

Dibawah ini saya ingin menanggapi masing-masing kritik tersebut:

  1. Alkitab menentang penindasan terhadap orang miskin dan kaum yang membutuhkan

Dengarkan Amsal 21:13, “Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru.”

Dengarkan Yakobus 1:27, “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.”

Ibadah kita akan terbukti benar jika ibadah kita tersebut memotivasi kita untuk membantu bagian-bagian paling lemah dan paling rentan dalam masyarakat kita. Jika apa yang Anda percayai tidak memotivasi Anda untuk membantu kaum miskin, kemungkinan apa yang Anda percayai tersebut palsu.

Amsal 28:27 juga menyatakan, “Siapa memberi kepada orang miskin tidak akan kekurangan. Siapa menutup mata terhadap kebutuhan orang miskin, akan kena kutukan.”

Kemudian Amsal 29:7 melanjutkan, “Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak memahaminya.”

Dan Alkitab mengajarkan kita dalam Amsal 31:8, “Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana. Belalah mereka yang tak dapat membela dirinya sendiri. Lindungilah hak semua orang yang tak berdaya.”

Jadi, YA, saya berbicara langsung dari Alkitab ketika saya berkata bahwa ada diskriminasi sistematis terhadap orang Papua, dan di dalam nama Allah ini harus dihentikan! Ini bukan politik; ini kebenaran Alkitabiah.

  1. Saya mendukung pemerintah dan mencoba untuk tidak pernah mengkritik pemerintah. Saya mengasihi Indonesia, dan saya mendoakan Presiden da pejabat-pejabat pemerintahan secara teratur.

Tapi seperti yang kita ketahui, pemerintah hampir-hampir tidak ada fungsinya di beberapa wilayah pedalaman Papua. Ada berkilo-kilo wilayah yang tidak memiliki layanan pemerintah. Ada ratusan kampung tanpa listrik, tanpa jalan, tanpa sekolah, tanpa kontak secara teratur sama sekali dengan pemerintah.

Kita juga tahu bahwa terjadi korupsi di Papua. Ini bukan rahasia lagi. Kita tahu bahwa ada penebangan dan penambangan liar yang terjadi di Papua.

Kita tahu bahwa terjadi pembiaran dan ketidaklayakan pendidikan dan layanan kesehatan di Papua. Kita tahu bahwa banyak bangunan sekolah dan puskesmas yang kosong karena tidak ada staf di tempat. Kita tahu ada banyak klinik yang kehabisan obat-obatan dasar untuk malaria. Kita tahu ada guru-guru yang ditugaskan di sekolah pedalaman tapi mereka jarang hadir dan tetap mengambil gaji mereka di kota. Kita tahu situasi pendidikan dan kesehatan di pedalaman Papua begitu mengerikan.

 

Hal-hal inilah yang PERLU untuk dikritik, dan dihentikan!

 

  1. Beberapa mengatakan bahwa kita harus diam saja mengenai semua permasalahan social di Papua. Tapi saya menjawab bahwa seorang pendeta tidak bisa berdiam diri mengenai isu social. Saya harus angkat bicara. Ini bukan semata-mata permasalahan social atau politik, ini adalah perkara moral, perkara dosa. Dan juga, pembiaran seperti ini membunuh orang-orang Papua

 

  1. Beberapa orang Kristen menyalahgunakan Roma 13 dan mengatakan bahwa yang dimaksudkan oleh Roma pasal 13 adalah supaya kita mentaati, menuruti dan tidak pernah mengkritik pemerintah. Tapi apakah kita sudah melupakan bagian dimana pada masa gereja mula-mula para murid-murid menolak ketika diperintah untuk berhenti berkhotbah dan berkata, “Kami harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia!”

Roma 13 tidak bermaksud untuk memberitahu kita bahwa kita tidak bisa mengkritik pemerintah, terutama ketika kita menawarkan usulan atas dasar kasih terhadap negara dan sebagai sebuah cara untuk meningkatkan sebuah sistem yang kurang sempurna. Ada begitu banyak perubahan baik di Indonesia dan begitu banyak kemajuan yang baik pada masa pemerintahan Presiden Jokowi. Bukankah Presiden ingin tahu jika masih ada masalah yang belum tertangani sehingga ia bisa bisa berfokus pada masalah-masalah tersebut dengan lebih baik? Menjadi warga negara yang baik berarti mencoba untuk memajukan negaranya.

Menemukan Kedamaian dalam Pidato Dr. Martin Luther King, Jr. :

Saya merasa sangat frustrasi karena banyak orang Kristen di Indonesia yang tidak ingin mendesak adanya perlakuan yang setara bagi masyarakat Papua, atau bahkan mereka menyangkal adanya permasalahan diskriminasi sama sekali.

Saya menemukan kedamaian dalam tulisan-tulisan Dr. Martin Luther King Jr., yang juga mendesak kesetaraan hak bagi masyarakat kulit hitam di Amerika. Banyak gereja yang pada saat itu juga mengkritiknya.

Di bawah ini adalah beberapa kutipan dari Pastor Martin Luther King menyangkut berdiamdiri atau pasif ketika diperhadapkan dengan ketidakadilan:

 

  • “Tempat terpanas di neraka disediakan untuk mereka yang tetap netral di masa konflik moral yang besar.”
  • “Ketidakadilan di beberapa tempat adalah ancaman bagi keadilan di semua tempat.”
  • “Pertanyaan hidup yang paling penting dan paling sering ditanyakan adalah, ‘Apa yang kamu lakukan untuk orang lain?'”
  • “Ukuran tertinggi dari seorang manusia bukanlah ketika ia berdiri di saat kenyamanan dan kedamaian, tapi ketika ia berdiri disaat tantangan dan kontroversi.”
  • “Pertanyaan yang pertama ditanyakan oleh sang Imam dan orang Lewi adalah: “Kalau saya berhenti untuk menolong orang ini, apa yang akan terjadi pada saya?’ tapi, Orang Samaria yang baik hati menanyakan pertanyaan yang sebaliknya: ‘Kalau saya tidak berhenti untuk membantu orang ini, apa yang bisa terjadi dengan dia?'”
  • “Dia yang secara pasif menerima kejahatan sama terlibatnya dengan mereka yang membantu untuk melakukannya. Dia yang menerima kejahatan tanpa memprotes sama saja bekerjasama dengan kejahatan tersebut. “
  • “Pada akhirnya, kita tidak akan mengingat suara kata-kata musuh kita, tapi keheningan teman-teman kita.”
  • “Pemahaman dangkal dari orang-orang yang berniat baik lebih membuat frustrasi ketimbang pemahaman mendalam yang keliru dari orang-orang yang berniat jahat.”
  • “Kehidupan kita mulai berakhir ketika kita mendiamkan hal yang benar-benar penting.”
  • “Tragedi yang paling tragis bukanlah penindasan dan kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang jahat, tapi keheningan dan pembiaran oleh orang-orang baik.”
  • “Ada masanya dimana berdiam diri adalah tindakan pengkhianatan.”
  • “Selalu saat yang tepat untuk melakukan apa yang benar.”
  • “Akan ada masanya dimana seseorang harus mengambil posisi yang tidak aman, tidak politis, dan tidak populer, tapi itu harus diambilnya karena hati nuraninya mengatakan itu benar untuk dilakukan.”

Pada akhirnya saya ingin mengakhiri artikel ini dengan dua kutipan dari Martin Luther King yang mendesak kita untuk terus mengharapkan datangnya keadilan di masa mendatang.

“Allah yang kita sembah bukanlah Allah yang lemah dan tidak mampu. Dia sanggup mengalahkan gelombang perlawanan besar dan meruntuhkan gunung kejahatan. Kesaksian iman Kristiani yang terus bergema adalah bahwa Allah sanggup.”

“Kejahatan dapat saja mengarahkan sejarah sehingga Kaisar menempati istana dan Kristus dijatuhi hukuman mati di kayu salib, tapi pada suatu hari Kristus bangkit, dan membelah sejarah menjadi tarikh Masehi sampai bahkan kehidupan Kaisar dihitung berdasarkan Nama Kristus.”

 

Perjuangan Saya Saat Ini:

Saat ini saya melayani diantara masyarakat Korowai yang begitu berkekurangan. Banyak yang menderita malnutrisi, dan kurangnya akses pendidikan dan kesehatan. Namun pada saat yang bersamaan ketika banyak yang kelaparan dan mati, ada banyak helikopter yang membawa orang-orang non-Papua menjarah emas secara liar di wilayah saya.

Pada tahun 2018 sebelum tambang tersebut ditutup, cukup sulit bagi saya untuk menemukan helikopter untuk mengevakuasi anak-anak yang sakit dan sekarat, tapi di wilayah pertambangan emas ilegal, setiap hari ada 7 penerbangan helikopter dari daerah saya ke wilayah utara. Orang luar makin diperkaya dengan emas dari Korowai, sementara masyarakat Korowai mati tanpa dibantu bahkan tanpa dipedulikan.

Ini adalah ketidakadilan besar! Saya telah melaporkan ini selama 8 bulan! Pada tahun 2018, situs-situs tambang ini memang sudah ditutup, tapi kini penambang ilegal telah kembali ke sana lagi.

Tidak hanya penambangan emas di wilayah Korowai ini ilegal, penambangan ini juga merusak lingkungan. Banyak saksi yang menyatakan bahwa para penambang menggunakan bahan kimia yakni zat Merkuri yang dapat meracuni sungai. Dan bukan hanya meracuni sungai biasa, tapi sungai yang sehari-hari digunakan oleh masyarakat Korowai untuk penghidupan dan sumber makanan.

Silahkan baca sendiri kata-kata dari penginjil Ones yang berjalan kaki ke lokasi penambangan emas 3 minggu lalu dan melaporkan apa yang ia saksikan di bawah ini:

“Dengan aktivitas penambangan emas ilegal ini terjadi keanehannya adalah semua masyarakat tuan dusun sakit dan mati sia sia dan perumahan kelayakan pun tidak diperhatikan oleh Bos-bos penambang emas ilegal. Dan keadaan air kali Deiram pun berubah warnanya. Ini menyebabkan seluruh masyarakat yang tinggal di pinggiran kali Deiram, mereka punya pencaharian nafkah sehari hari molo (menyelam mencari) ikan dan udang tidak bisa mencari lagi karena warna airnya semua berubah. Masyarakat lebih banyak gunakan kaca molo untuk molo ikan dan udang dari pada mancing, maka aktifitas pencaharian nafkah mereka telah putuskan  (dihentikan) oleh pencaharian emas illegal. Karena kali jernih semua (sudah) berubah menjadi kabur sepanjang hari.”

Lihat gambar dari sungai Deiram. Sebelumnya airnya jernih. Kini airnya kotor dan kekuning-kuningan.

Tiap hari saya berdoa bagi Presiden Indonesia. Saya senang kepada dia dan saya mendukung dia karena ia berusaha membersihkan Indonesia dari korupsi. Pasti ia akan senang dengan usaha saya menghentikan ketidakadilan yang terjadi di wilayah Korowai ini. Saya percaya Presiden Jokowi akan mendukung saya dan membela masyarakat Korowai.

Tapi sebaliknya, ada banyak orang yang berusaha membuat masalah bagi saya. Orang-orang ini ingin mengusir saya dari Indonesia karena saya telah angkat bicara melawan ketidakadilan ini. Ada orang-orang yang mengancam akan mendeportasi saya. Saya percaya ada “tangan tersembunyi” dibalik ini semua; orang-orang yang berkedudukan tinggi yang diuntungkan dari penambangan-penambangan liar ini. Saya meminta pemerintah berhenti mengkritik saya dan mulailah menginvestigasi untuk mengungkapkan siapa-siapa saja yang terlibat. Saya meminta pemerintah untuk membersihkan korupsi di Papua, untuk menghentikan pemerkosaan terhadap tanah alam dan perlakuan tidak adil kepada masyarakat yang adalah pemilik tanah ini.

Saya menolak untuk tinggal diam. Saya akan terus angkat bicara. Seorang gembala yang baik harus menjaga dombanya. Jika saya diusir dari Indonesia saya akan membawa kisah ini ke pers internasional bahkan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa. Keadilan akan ditegakkan!

Saya mengaku saya frustrasi karena ada jutaan orang Kristen di Indonesia dan, jutaan lainnya dari keyakinan lain yang percaya akan keadilan—mengapa tidak ada seruan keadilan? Apakah penebangan dan penambangan liar telah menjadi biasa di Papua hingga hal-hal itu tidak lagi mengejutkan kita? Apakah kejahatan telah menjadi sebuah rutinitas sehingga kita tidak lagi marah karenanya? Atau apakah orang-orang Kristen di Indonesia sudah menjadi terlalu takut untuk menyatakan keadilan?

Saya meminta masyarakat Indonesia untuk memihak pada sisi sejarah yang benar. Sejarah akan menghukum mereka yang merampas kekayaan orang miskin yang menggunakannya untuk dirinya sendiri. Sejarah juga akan menghukum barangsiapa yang tetap berdiam diri sementara si miskin dijarah.

Ingat bahwa Yesus memilih untuk dilahirkan diantara orang miskin dan tertindas, dan ketika Yesus mati di atas kayu Salib ini mengatakan pada kita bahwa Ia siap untuk berpihak pada yang miskin dan tertindas, ia mendukung yang miskin dan tertindas bahkan hingga hari ini. Dan Hari Penghakiman akan segera tiba!

Alkitab dengan jelas mengatakan,“Orang yang menindas orang lemah untuk menguntungkan diri atau memberi hadiah kepada orang kaya, hanya merugikan diri saja.” (Amsal 22:16).

Kalian yang merampas emas dari Tanah Korowai, nikmatilah kekayaan kalian dalam hidup ini, karena di Neraka nanti semua emas itu tidak akan ada gunanya.

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi jiwanya binasa?”  (Injil Matius 16:26 dan Markus 8:36).

Bantulah selamatkan Korowai. Bantulah menyelamatkan Papua!

 

Saya adalah Hamba Tuhan dan pelayan bagi negara Indonesia, dan saya mendoakan negara anda yang indah ini setiap hari.

Ya Tuhan, bantulah mereka memperbaiki setiap ketidakadilan di Papua!

 

Pendeta Trevor Johnson.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here