CEO Kitong Bisa, Billy Mambrasar, saat menyampaikan pemaparannya, di hadapan peserta Talkshow Bertajuk: “Berbisnis dan Menjaga Kelestarian alam Papua” di Manokwari, Jumat, 22 Juni 2019 lalu. (Foto Humas Kitong Bisa)

MANOKWARI (LINTAS PAPUA)   – Seorang Pemuda Papua, asal Pegunungan Arfak, Cliff Indouw menyatakan kebanggaannya sebagai pebisnis pertanian di daerah asalnya. Clif bercocok tanam Kol, yang kemudian dipasarkan di kota Manokwari. Cliff hanyalah satu dari sedikit sekali pemuda dan pemudi Papua yang memilih bisnis sebagai jalan hidupnya, dan secara spesifik bisnis bercocok tanam yang ramah lingkungan.

Pemaparan Materi dan suasana peserta Talkshow Bertajuk: “Berbisnis dan Menjaga Kelestarian alam Papua” di Manokwari, Jumat, 22 Juni 2019 lalu. (Humas Kitong Bisa)

Ada lagi Siriwai Kuwei, pemuda asal Saireri ini tentang pengalamannya bercocok tanam Pinang, yang kemudian dibisniskan dengan cukup baik. Cliff dan Siriwai adalah 2 dari 60 peserta Talkshow Bertajuk: “Berbisnis dan Menjaga Kelestarian alam Papua” di Manokwari, Jumat, 22 Juni 2019 lalu.

Acara tersebut menghadirkan tokoh keberlanjutan Papua Barat: Prof. Dr. Charlie Heatubun, yang juga saat ini sedang menjabat sebagai Kepala Balitbangda Provinsi Papua Barat, sebagai Pembicara Utama. Helatan acara ini merupakan kolaborasi antara Yayasan Inisiatif Dagang Hijau Indonesia, bersama sebuah organisasi sosial berbasis anak muda Papua: Kitong Bisa.

Sementara itu, CEO Kitong Bisa, Billy Mambrasar, mengungkapkan bahwa pekerjaan favorit di kalangan anak muda Papua adalah masih menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Masih banyak yang belum menyadari bahwa bisnis merupakan solusi untuk mengatasi pengangguran di kedua Provinsi di Tanah Papua.

“Apalagi investasi internasional yang masuk ke Tanah Papua makin banyak, waktunya untuk anak-anak Papua untuk menangkap peluang investasi ini dengan menjadi mitra-mitra, seperti penyuplai kepada bisnis yang beroperasi, dan bukan hanya berharap jadi pegawai saja, baik pegawai pemerintah, maupun pegawai perusahan-perusahaan asing tersebut. Artinya pemuda Papua harus berani berbisnis”. Ungkap Putra Papua lulusan Australia dan Inggris yang mendalami bidang bisnis ini dengan semangat.

 

Ketika berbicara Bisnis dan Investasi internasional di Tanah Papua, biasanya orang akan mengernyitkan dahi, ekspreasi ketakutan bahwa investasi tersebut akan membawa dampak buruk kerusakan alam dari “surga kecil” di bumi ini. Hal itu yang mendorong pemuda-pemudi Papua Barat untuk berkumpul dan bertukar pikiran tentang jalan terbaik untuk tetap mendorong investasi untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Papua, akan tetapi dilakukan secara berkelanjutan (ramah lingkungan).

Dalam talkshow malam itu, Selain Profesor Charlie sebagai pembicara Utama, hadir juga pemateri lainnya yaitu: Peter Van Grinsven, yang pernah menjabat sebagai Direktur Keberlanjutan dan lingkungan hidup Perusahaan Coklat Dunia: MARS, yang memproduksi merek-merek coklat terkenal seperti: M&M, Twix, dan Snickers. Peter yang berdarah belanda ini juga seorang konsultan untuk Yayasan Dagang Hijau Indonesia.

Seorang Pemuda Papua, asal Pegunungan Arfak, Cliff Indouw menyatakan kebanggaannya sebagai pebisnis pertanian di daerah asalnya. Clif bercocok tanam Kol, yang kemudian dipasarkan di kota Manokwari. Cliff hanyalah satu dari sedikit sekali pemuda dan pemudi Papua yang memilih bisnis sebagai jalan hidupnya, dan secara spesifik bisnis bercocok tanam yang ramah lingkungan. (Foto Humas Kitong Bisa)

Hadir pula Melati Anggara, seorang spesialis bidang keberlanjutan, dan aktifis pendorong Pendidikan untuk kaum wanita. Pembicara lainnya adalah: Lion Ferdinand Marini, ketua Ikatan Alumni Penerima Beasiswa LPDP Provinsi Papua Barat. Lion aktif mempromosikan kesempatan studi lanjut ke luar negeri dengan beasiswa bagi anak-anak asli Papua di Wilayah Papua Barat. Adapun moderator yang dengan elegan memimpin jalannya acara adalah: Rina Nelly Yowei, seorang dosen dalam bidang kehutanan, dan saat ini menjabat sebagai sekretaris Rektor Universitas Papua.

Prof Charlie membagi pandangan dan gagasannya, termasuk cerita-cerita Pribadi beliau, sebagai salah satu tokoh penggagas Provinsi Papua Barat, sebagai Provinsi Konservasi. “Alam di Tanah Papua ini harus di jaga, demi keberlanjutan tanah ini menyediakan berkat bagi orang-orang Papua, hingga anak cucunya nanti”, Ujar Pria kelahiran Manokwari yang telah berkontribusi lama dalam bidang konservasi ini.

Peserta yang hadir tampak antusias mendengarkan materi yang diberikan, dan pertanyaan kepada para pembicara bertubi-tubi diberikan, tanda semangat mereka. Topik hangat yang dibincangkan adalah seputar apa itu konsep berbisnis yang tidak merusak alam yang ada.

Prof Charlie menggambarkan dengan baik bahwa tetap prioritas Utama adalah alam tidak boleh rusak, sehingga bisnis dan investasi yang masuk harus di atur dalam kaidah-kaidah konservasi dan keberlanjutan, akan tetapi kita juga harus menciptakan iklim yang ramah untuk investasi agar masuk karena akan mendorong aktifitas ekonomi yang mensejahterahkan masyarakat Papua.

Adapun kehadiran Melati dan Peter di Papua Barat ini adalah dalam rangkaian acara Konsultasi Publik yang dilakukan oleh Yayasan Inisiatif Dagang Hijau, untuk menyusun Naskah Strategi Investasi Hijau di Papua dan Papua Barat. Strategi ini akan membantu Pemerintah Provinsi Papua dan Papua Barat, untuk mengundang Investor masuk dan berkolaborasi untuk pembangunan ekonomi di Tanah Papua, dengan tetap menjaga kelestarian alam bumi cenderawasih ini.

“Dengan adanya investasi berbasis lingkungan dan bisnis yang makin marak, waktunya untuk anak-anak Papua menjadi aktor Utama di Tanahnya sendiri, dan bukan hanya sebagai penonton saja”, tutup Billy Mambrasar dengan penuh harap. (Humas Kitong Bisa)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here