Reformasi Pendidikan ala Jokowi, Pembangunan Karakter dan Ketrampilan Teknis

0
1929

JAKARTA (LINTAS PAPUA)  – Dunia pendidikan Indonesia harus direformasi. Jokowi memahami hal ini secara jelas. Sejak lama dia telah berusaha untuk mendorong agar dilakukan langkah praktis dan strategis terkait refermasi pendidikan tersebut. Dia pun sudah memetakan tentang pentingnya pembangunan karakter (mental) dan pembangunan sumber daya manusia (SDM) untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja.

“Saya sudah menyampaikan kepada Mendikbud juga, agar kita ini memiliki fleksibilitas sehingga bisa merespons setiap perubahan-perubahan yang ada di dunia. Mendikbud, Menristekdikti itu sangat harus sangat responsif terhadap perubahan-perubahan yang ada di global maupun perubahan-perubahan yang kita hadapi di negara kita,” kata Jokowi di Rapimnas Hanura di Hotel Stone, Legian, Bali, Jumat (4/8/2017).

Jokowi pun menyampaikan tentang pencapaian dunia pendidikan di dunia dan percepatan perubahan di era digital dan internet. Jokowi mengikuti perkembangan di bidang teknologi secara mendalam dan selalu update.

“Perubahan dunia berjalan dengan sangat cepat. Ini yang harus kita sadari. Jangan sampai kita terjebak rutinitas, keseharian kita, dan tidak sadar bahwa dunia sudah berubah sangat cepat,” papar Jokowi di Kampus IPB Dramaga, Bogor, Rabu (6/9/2017).

Ketrampilan Teknis Tertinggal

Jokowi mengajak kita untuk melihat Elon Musk, yang berbicara mengenai Hyperloop, memindahkan orang dari satu tempat ke tempat lain dengan begitu cepatnya. Elon Musk juga berbicara mengenai SpaceX, pengelolaan ruang angkasa, lalu berbicara tentang mobil Tesla, yang menunjukkan perubahan dunia yang sangat cepat.

“Saya ingatkan Bapak-Ibu semuanya. Kita lihat, bicara masalah Tesla Mobile, fantastis, masa depan. Gagasan hyperloop. Berbicara SpaceX, bagaimana mengelola angkasa, agar berguna bagi manusia. Kita masih berkutat untuk hal yang tidak produktif. Urusan demo, urusan fitnah, urusan hujat-menghujat yang selalu mengembangkan negative thinking, suudzon terhadap yang lain. Fitnah, kabar bohong. Apakah ini mau diteruskan?” ungkap Jokowi saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Pengawasan Internal Pemerintah Tahun 2017 di Istana Negara, Jakarta, Kamis (18/5/2017).

Ancaman terhadap Ideologi Pancasila

Jokowi sangat memahami tantangan Indonesia di masa depan. Salah satunya adalah ancaman radikalisme dan intoleransi, yang mengarah pada terorisme. Untuk itu upaya yang dilakukan Presiden RI ke-7 itu adalah membumikan Pancasila dalam kehidupan bangsa Indonesia.

“Perlu diakui, kehidupan berbangsa dan bernegara kita sedang mengalami tantangan. Sejumlah pandangan dan tindakan yang mengancam kebhinekaan dan keikaan kita mulai bermunculan,” kata Jokowi dalam sambutan Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, Jakarta, Kamis (1/6/2017).

Lebih lanjut Jokowi menyampaikan tentang adanya sikap intoleran yang mengusung ideologi selain Pancasila. Pada kesempatan itu dia juga mengingatkan agar bangsa Indonesia belajar dari pengalama bangsa lain yang dihantui oleh radikalismem konflik sosial, terorisme, dan juga perang saudara. Dalam beberapa kesempatan dia mencontohkan konflik di Afghanistan.

Hal itu didasari oleh fakta yang nyata seperti maraknya terorisme di Indonesia. Terorisme yang dilandasi oleh ideologi anti Pancasila mulai muncul pada 28 Maret 1981, ketika Komando Jihad membajak pesawat Garuda Woyla. Selanjutnya serangkaian pemboman sejak Bom Natal, Bom Bali I dan II, Sarinah, dan paling akhir Bom Sukoharjo yang dilakukan oleh Rofik Asharudin pada Senin (3/6/2019), menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia.

Langkah Jokowi Bubarkan HTI, Bentuk BPIP

Kondisi bangsa dan negara yang terancam oleh paham yang bertentangan dengan Pancasila itu ditindaklanjuti Jokowi dengan melakukan langkah nyata. Salah satunya Jokowi berani membubarkan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Pembubaran HTI ini merupakan tindakan tegas yang diambil oleh pemerintahan Jokowi untuk membendung paham anti Pancasila.

Selain itu, Jokowi juga telah membentuk Badan Penguatan Ideologi Pancasila (BPIP). Dalam debat Pilpres di Hotel Shangrila Jakarta Sabtu (30/3/2019) Jokowi menyebutkan tentang strategi membumikan Pancasila yang akan dimulai sejak dari pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai perguruan tinggi.

“Kerja BPIP harus kekinian. Bukan lagi bersifat indoktrinasi lagi. Harus kekinian,” lanjut Jokowi.

Harapan kepada Jokowi

Langkah selanjutnya yang akan dilakukan oleh Jokowi adalah membenahi pendidikan di Indonesia. Selain reformasi pendidikan di tingkatan pendidikan dasar dan menengah, reformasi di pendidikan tinggi diperlukan. Tak kurang Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi mendorongnya.

“Reformasi pendidikan tinggi merupakan suatu keniscayaan pada saat ini, ketika kita menghadapi beragam tantangan luar biasa dalam skala lokal, nasional maupun global,” papar M. Nasir saat memberikan sambutan pada Hardiknas di Serpong, Senin (2/5/2019) seperti dilansir oleh RepublikaDotCoDotId.

Yang disampaikan oleh M. Nasir itu relevan dengan kebutuhan untuk menjawab kenyataan lebih dari 600 ribu lebih orang lulusan perguruan tinggi, berdasar data Badan Pusat Statistik, tidak terserap oleh dunia kerja. Tidak ada cara lain selain melakukan reformasi pendidikan secara total.

Pendidikan Karakter

Dalam reformasi pendidikan itu Jokowi harus melakukan pemetaan yang komprehensif. Hal ini perlu dilakukan agar langkah yang diambil tepat sasaran. Salah satu yang perlu dilakukan, selain membangun kompetensi profesional dengan ketrampilan teknis, adalah pembentukan karekter yang sesuai dengan kebutuhan bangsa seperti yang dipaparkan oleh Jokowi pada 1 Juni 2017.

Untuk itu penanaman dan pembentukan karakter bagi anak-anak bangsa yang Pancasilais perlu menjadi perhatian utama. Karena pendidikan karekter bagi anak-anak bangsa sangat penting dalam rangka menjaga kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia.

“Pendidikan karakter harus menjadi program prioritas utama pemerintah dan kebijakan itu harus terbaca dalam kurikulum di setiap level pendidikan mulai taman kanak-kanak (TK) sampai perguruan tinggi (PT). Di samping itu, harus menjadi gerakan sosial seluruh warga,” papar Siti Musdah Mulia, dosen UIN Syarif Hidayatullah di Jakarta, Kamis (28/2/2019) seperti dilansir oleh FajarDotCoDotID.

Kejelian Jokowi Pilih Menteri

Itulah perjuangan Jokowi dalam melakukan reformasi pendidikan di Indonesia. Tantangan itu harus dijawab dengan penjabaran secara teknis untuk menjawab kebutuhan bangsa Indonesia dalam membangun karakter bangsa yang ber-Pancasila, sekaligus memiliki ketrampilan (skills) yang premium yang diimpikan juga oleh Jokowi dan rakyat Indonesia.

Di sinilah kita tunggu kejelian Jokowi dalam memilih menteri pendidikan dan menteri riset, teknologi, dan pendidikan tinggi. Pemilihan ini menjadi sangat penting, semata untuk keberhasilan reformasi pendidikan. (nnk).

( https://jokowidodo.app/post/detail/reformasi-pendidikan-ala-jokowi-pembangunan-karakter-dan-ketrampilan-teknis )