JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  – Kepala BBPOM Jayapura, Drs. Hanetje Gustav Kakerissa, Apt, menyampaikan,  dari hasil pengawasan hingga minggu ke-IV (Kota Jayapura, Kab.Keerom, Kab.Jayapura, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Biak, Kabupaten Supiori) jumlah sarana yang diperiksa ada sebanyak 157 sarana dan telag dimusnahkan produk yang tidak memenuhi ketentuan ada senilai Rp 71.458.340.

Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Provinsi Papua, melakukan uji sample makanan takjil yang di jual di sekitaran pasar Kloofkamp Jayapura, untuk mengetahui apakah ada bahan makanan yang jual kepada masyarakat mengandung zat berbahaya. (Fransisca / LintasPapua.com)

Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Jayapura tetap melaksanakan pengawasan pangan dan takjil selama 7 minggu, juga 2 minggu sebelum Bulan Ramadhan sampai 2 minggu sesudah Hari Raya Idul Fitri, agar masyarakat Papua terlindungi dari pangan berbahaya, hal ini di sampaikan pada saat Pers Realease intensifikasi pengawasan dalam rangka hari Raya Idul Fitri 2019, Balai Besar POM di Jayapura, Senin (22/5/2019).

“Itu terdiri dari 177 jenis pangan. Sedangkan untuk takjil ditemukan 1 jenis mengandung pewarna dilarang yaitu rhodamin B, itu saat sidak pasar di Jayapura,” katanya.

BBPOM sudah melakukan pengawasan diantaranya : gudang distributor, gudang pengecer, retail (toko/warung, supermarket, hypermarket, pasar tradisional), penjual parsel dan penjual takjil.

Kepala BBPOM Yang kerap disapa dengan pangilan Hans menjelaskan,  target pengawasan untuk pangan olaham yaitu pangan tanpa ijin edar (TIE), pangan kadaluwarsa, pangan rusak (kaleng penyok/berkarat) serta pengawasan takjil.

“Untuk takjil difokuskan pada 4 parameter yakni baham berbahaya yang sering disalahgunakan ditambahkan kedalam pangan seperti formalin, boraks, pewarna rhodamine B dan methanil yellow., jelasnya.

Kemudian Hans mengajak masyarakat Papua lebih Jeli lagi dalam membeli parcel, terutama meneliti isi parcel yang hampir expired, mengandung Babi, dan mengandung alkohol.

“Kalau pengawasan pada parcell, kami melihat produk pangan yang mempunyai masa simpan kurang dari 6 bulan. Dan dilarang menyisipkan produk pangan mengandung babi dan minuman yang mengandung alkohol,” tutupnya. (Fransisca/lintaspapua.com)