JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  – Bupati Biak Numfor,  Herry Ario Naap, S.Si, M.Pd.,  memberikan Kuliah Umum kepada ratusan mahasisa dan mahasiswi, Sekolah Tinggi Filsafat Teologia (STFT) GKI Izaak Samuel Kijne  Jayapura.(13/5) 2019. Berlangsung kurang selama 2 jam di Aula STFT IS Kijne, dengan sorotan Thema : Teologi dan Politik.

Pada kesempatan itu, Herry Ario Naap mengatakan, dalam diskusi dan pemaparan materi secara khusus tentang Teologi dan Politik kepada para mahasiswa dan mahasiswi, Sekolah Tinggi Filsafat Teologia Izaak Samuel Kijne. Kajiannya teorinya secara ilmiah,  maupun secara politisi telah di pelajari oleh para mahasiswa/wi, tetapi pada penjabaran materinya, lebih pada aplikasi dan implikasinya  dalam kehidupan riil, sebagai intelek muda, para kaum akademisi di dunia teologi dan filsafat.

“Kita melihat bahwa pentingnya teologi dan politik itu bisa disingkronkan untuk menata kebutuhan-kebutuhan mengelola, kebutuhan-kebutuhan yang akan dikomitmenkan bersama, untuk membawa sebuah kesejahteraan bagi masyarakat” terangnya.

Dewasa ini jika mendengar kata “politik” dalam kajian  teologis dalam perspektif keagamaan, kita akan melihat bahwa politik itu adalah sesuatu yang kotor, sesuatu yang haram, tidak berkenan. Tetapi bagaimana dalam diskusi ini kita melihat dalam perspektif  teologi bahwa politik tidak selamanya kotor, haram atau tak berkenan.

Bahkan menurut Herry Ario Naap, orang-orang politikus adalah orang-orang yang tidak selamanya harus didiskriminatif, atau membangun imits terhadap mereka tentang hal-hal yang negatif, karena teologi ini ketika memberikan pemahaman yang baik tentang makna, dan arti dari sebuah politik yang benar,

maka Gereja secara khusus teologi agama akan mempersiapkan Sumber Daya Manusia untuk ditempatkan  melaksanakan tupoksi dan tanggungjawab sebagai warga gereja yang dilibatkan dalam politik maupun birokrasi untuk pelayanan, untuk sebuah perubahan menuju kesejahteraan.

Oleh sebab itu, melihat tantangan hari ini secara teologi, harus diakui bahwa Papua diakui sebagai Surga Kecil yang Jatuh ke Bumi, tetapi pertanyaannya apakah orang-orang yang hidup di Surga Kecil ini, suda hidup sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan atau belum…? Yang berikut adalah dengan berbicara politik di Tanah Papua hari ini, warga gereja atau umat kristen sendiri, harus menghitung dengan tidak terlibatnya warga gereja, atau gereja melihat politik sebagai sesuatu yang kotor, yang harus di jauhi, berapa prosentase keterwakilan anak gereja yang terlibat dan non kristiani secara khusus di parlemen maupun di legislatif, ini harus menjadi sebuah tantangan persepsi bagaimana bisa menempatkan teologi dalam politik sebagai bagian dalam transformasi Gereja Di Tanah Papua.

Diakuinya dengan melihat perkembangan perpolitikan saat ini, dimana seluruh warga Papua yang adalah warga gereja, anak-anak gereja banyak yang tidak berhasil atau kalah dalam pesta demokrasi pileg 17 April 2019. Ini menandakan bahwa gereja masi menganggap politik sebagai sesuatu yang kotor dan tak berkenan. Sehingga kita akui dan tidak bisa pungkiri hari ini sudara-sudara kita umat lain diluar kristen mereka punya jumlah suara yang tinggi.

Bahkan didukung oleh anak-anak gereja sendiri. Ini menjadi perenungan bagi pemerintah Papua di era kekhususan Otsus, tetapi juga stekholder di dalan Gereja tentang apa arah kebijakan untuk memberikan dukungan, saling menopang saling mendukung untuk keterwakilan anak-anak gereja di Parlemen.” Jadi saran konkritnya Gereja harus berani mempersiapkan kadernya untuk ditempatkan dalan parlemen dalam menghadapi arah kebijakan pembangunan. sebab ketika ketidak berpihakan kebijakan dan program dalam gereja, maka konsekuensinya harus gereja menerima itu. (Mozes Baab)