Jhon Manansang: Kehadiran Purtier Placenta Bukan untuk Mengganti ARV. Tapi, Hanya Sebagai Pendukung dari ARV

SENTANI (LINTAS   PAPUA) – Baru-baru ini beredar di tengah masyarakat yang mengatakan obat ARV (antiretroviral) akan diganti dengan vitamin atau suplemen. Tidak hanya itu, suplemen dari Purtier Placenta ini akan menggantikan obat ARV untuk pasien Human Immunodeficieny Virus (HIV) atau ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS).

Lalu apa pendapat dari dr. Jhon Manansang, yang juga selaku Team Elite PAVO Papua di perusahan Riway International di Singapura yang memproduksi Purtier Placenta Sixth Edition yang diminta tanggapannya terkait polemik yang terjadi di tengah masyarakat terkait kemunculan produk Purtier Placenta yang dikabarkan akan menggantikan obat ARV untuk terapi pengidap HIV/AIDS.

“Jadi, kehadiran Purtier Placenta itu bukan untuk mengganti ARV. Tapi, hanya sebagai pendukung dari ARV,” tegas dr. Jhon Manansang saat ditemui di Kediamannya, di Bukit Formokho, Kampung Netar, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Jumat (10/5/2019) sore pekan lalu.

Lanjut Jhon Manangsang mengungkapkan, bahwa produk Purtier Placenta yang diproduksi dari New Zealand ini di organisir oleh perusahaan Riway International yang ada di Singapura dan sampai hari ini sudah 80 negara yang mengkonsumsi Purtier Plasenta yang sudah masuk edisi keenam ini.

“Yang mana, Indonesia merupakan negara kedelapan yang mengkonsumsi atau merima Purtier Plasenta ini di lima wilayah,” ungkap pria yang pernah menjabat sebagai Direktur RSUD Abepura ini.

Dirinya menyebutkan, isi Purtier Placenta yang dalam bentuk kapsul itu salah satu kandungan zatnya adalah steamcell 100 mg ditambah 12 bahan-bahan alami atau herbal.

“Isinya menurut saya, dari ilmu pengetahuan yang saya baca atau yang saya ketahui, ini memang sebuah produk dengan nilai yang sangat unik dan sangat luar biasa. Dia (Purtier Placenta) bisa memberikan peningkatkan kekebalan (imunitas), dia juga bisa memperbaiki sel-sel yang rusak dan sel-sel yang mati bisa dihidupkan kembali,” tuturnya.

Jhon menilai, manfat dari Kapsul itu sangat bagus untuk hal-hal pada pasien-pasien yang memang di dalam tubuhnya mengalami kematian sel secara permanen. Sebagaimana dalam kasus gagal ginjal, diabetes mellitus, dan juga kematian sel akibat inveksi HIV yang mematikan T-limfosit atau sel kekebalan tubuh manusia.

Beberapa waktu lalu, Jhon Manansang menceritakan, produk Stemcell tersebut pertama kali dirinya berikan ke salah satu pasiennnya yang datang dengan keluhan inveksi HIV dan merasa bosan atau jenuh minum obt ARV.

“Pasien yang pertama saya tangani itu, dia pasien yang telah minum ARV selama tiga tahun. Karena berhenti minum ARV, sehingga kondisinya drop dan saat hendak kembali meminta ARV ke pusat layanan ditolak. Karena kondisi HIV/AIDS-nya sudah mencapai stadium tiga, sehingga tidak bisa minum lagi obat ARV ini. Nah, Dalam kondisi tersebut dan tidak minum obat apa-apa, saya suruh dia untuk mencoba produk Purtier Stimcell dan ternyata keesokan harinya mulai ada semangat dan perubahannya begitu cepat, sehingga satu minggu kemudian disarankan kembali ke pusat layanan untuk kembali mendapatkan ARV,” ungkap Manangsang menceritakan.

“Setelah dia diperiksa apakah pantas untuk kembali mengkonsumsi ARV, dia dinyatakan berhak untuk mendapatkan ARV karena kondisinya sudah membaik. Jadi anjuran kita dia harus tetap minum ARV nanti malam sebelum tidur kita suruh minum purtier placenta sebagai pendukung untuk menambah kekebalan tubuh serta sel-sel yang sebelumnya telah mati,” jelas Jhon Manansang yang juga salasatu member dari produk tersebut.

Dari pengalaman tersebut, kemudian dirinya menginformasikan ke pengurus KPA Provinsi Papua, dengan maksud untuk melihat produk Purtier Stemcell tersebut.

“Laporkan ke pemerintah, laporkan ke dinas kesehatan, laporkan kepada semua institusi yang terkait. Supaya coba lihat, ini peluang ini baik atau tidak,” ujar Manangsang kepada Ketua KPA Papua.

Ditekankan, bahwa ia belum pernah dan belum pernah ada keinginan untuk menghentikan ARV dari seorang penderita.

“Kita selalu tanyakan, positif?, sudah minum ARV belum? Kalau belum kembali minta, karena kita tahu itu tujuannya jelas,” tandasnya.

Dikatakan, secara pribadi tetap mengatakan bahwa ARV adalah lini primer (lini pertama) untuk pengobatan menekan virus. Sedangkan produk Purtier Plasenta sebagai penunjang/pendukung terhadap harapan pasien untuk mendapat kesembuhan.

“Jadi memang untuk sembuh itu harus diukur dari viral account dan dari CD4. Viral account harus nol (undetectable), tidak terdeteksinya virus ini tidak selamanya virus sudah tidak ada, tapi kita akan ukur lagi CD4,” terangnya.

Dan kalau CD4 susah diatas 600, baru dikatakan bahwa pasien tersebut telah bebas dari HIV.

“Nah ini mimpi dari saya. Suatu ketika dunia ini mengetahui bahwa ada obat atau ada kombinasi obat yang bisa menyembuhkan orang dari HIV. Dia harus sembuh supaya dia kembali kepada keluarga yang normal,” lanjut Jhon Manansang.

Masalah harganya yang mahal, diakui produk tersebut barang mahal, karena hidup orang Papua mahal.

“Untuk hidup ini mahal. Apalagi pak Gubernur bilang, “Selamatkan yang sisa dari yang tersisa”. Yang tersisa sedikit stok itu sangat mahal,” imbuhnya.

Disinggung tentang legalitas yang disebut Balai Besar POM Jayapura belum teregister, hal itu ditepis oleh dr. Jhon Manansang, karena Purtier Placenta sudah ada di lima wilayah di Indonesia, dan sangat terbuka di Jakarta dan dimana-mana.

“Kenapa sampai yang edisi keenam ini belum terlabel nomor, karena masih diperiksa. Dia kan baru selesai di edisi kelima, baru masuk di edisi keenam ini baru beberapa bulan terakhir ini. Itu Balai Besar POM belum selesai memeriksa. Kalau sudah selesai pasti akan dikasihi nomor register,” paparnya.

Dikatakan, target dari perusahaan Riway selaku produsen Purtier Stemcell adalah bagaimana bisa memberikan nomor Balai Besar POM yang konstan untuk beberapa waktu kedepan.

“Karena kita tiap dua tahun sudah ubah, untuk menghindari pemalsuan dan juga menghindari masa expired (kadaluwarsa),” bebernya.

Sehingga ditekankan bahwa terkait situasi yang terakhir berkembang di wilayah Kota Jayapura dan Papua pada umumnya bahwa seolah-olah kehadiran Purtier Placenta akan menggantikan ARV, adalah satu pandangan yang keliru.

“Karena ARV dengan Purtier Placenta merupakan dua produk atau dua zat yang berbeda. Sebagai seorang medis sangat mengerti, ARV diperuntukkan untuk menekan atau merepresi virus HIV. Itu jelas sekali, dan itu merupakan prioritas primer dalam penanganan HIV di seluruh dunia,” tandas Jhon Manansang. (Irfan / Koran Harian Pagi Papua)