Mengapa Papua Ingin Merdeka : Refleksi Sejarah Benturan Peradaban Eropa dan Melayu

0
437
Suasana Akrab seorang anak kecil dari Luar Negeri dengan anak - anak asli Papua dalam sebuah persahabatan saat bermain di halaman rumah. (Foto Dikutip dari Facebook Marinus Yaung)

Oleh : Marinus Yaung

Setelah Papua menerimah dan mengenal peradaban baru Masyarakat Eropa, yakni peradaban Injil yang diuraikan dalam paham Calvinis sebagai fondasi dan struktur peradaban Eropa, orang Papua akhirnya terbangun juga peradabannya oleh kekuatan Injil.

Karena kekuatan Injil, orang Papua memiliki ikatan emosional yg cukup kuat dengan Masyarakat Eropa. Karena kekuatan Injil, orang Eropa tidak perna mewariskan ” memoria passionis ” atau ingatan penderitaan akibat tindakan kejam dan tdk berperikemanusian terhadap orang Papua.

Dalam catatan generasi pertama Eropa yang datang ke Papua, ada prasyarat tertentu yang harus dipatuhi dan diindahkan apabila seorang asing non asli Papua mau datang dan tinggal bersama orang Papua secara damai. Pertama, tidak boleh datang dengan membawah ” harta ” yang banyak tapi juga tdk boleh datang dengan ” kemiskinan ” ke Papua.

Peta Pulau Papua. (http://ppibelanda.org/press-release-menuju-konvergensi-papua-damai-papua-tanpa-kekerasan/ )

Kedua, tidak boleh datang membawah senjata atau alat perang. Ketiga, tidak boleh menggangu anak Perempuan Papua ( Dikutip dari buku Fajar Mereka di Tanah Papua karya Reiner Scheunemann ). Tiga prasyarat ini sangat dipatuhi para pekerja kemanusian Eropa ketika mereka datang ke Papua dan mereka mampu merebut hati orang Papua dan mentransferkan nilai – nilai Peradaban Injil dalam hati dan pikiran orang Papua.

Ketika Peradaban baru Melayu masuk ke Papua menggantikan Peradaban Eropa pada awal tahun 1960-an, ketiga prasyarat diatas tidak diindahkan dan dipatuhi. Banyak tenaga kemanusian dengan latar belakang Peradaban Melayu yang numpang dalam Pasukan Soekarno untuk merebut Papua melalui operasi militer dengan sandi operasi Trikora, adalah mayoritas Melayu Abangan yang MISKIN dan terbelakang ekonominya ( Antropolog Clifford Geertz membagi struktur Masyarakat Jawa Melayu dalam tiga strata sosial. Pertama, kelas masyarakat Priyayi.

Kedua kelas masyarakat Santri. Ketiga, kelas masyarakat Abangan, kelas masyarakat rendahan, miskin dan kebanyakan belum terdidik dgn baik ). Kelompok Melayu Abangan ini waktu masuk ke Papua dan melihat keadaan ekonomi Papua lebih maju dari kota – kota asal mereka di pedesaan Jawa, mulai merampok dan menjarah barang – barang mewah yang orang – orang Eropa tinggalkan bagi orang Papua dan membawahnya ke Jawa. Ini awal mulanya benturan Peradaban Melanesia Papua dengan Peradaban Melayu.

Pasukan Brimob Polda Papua, saat megamankan pengibaran Bendera Bintang Kejora yang menuntut Papua Merdeka depan Kantor Majelis Rakyat Papua pada tanggal 16 November 2009. Hingga kini gerakan rakyat masih terus terlihat, sehingga Pemerintah Perlu Memberikan Perhatian dan Solusi atas Persoalan Papua. (lintaspapua.com)

Prasyarat kedua tidak boleh bawah senjata atau alat perangpun dilanggar dan tidak dipatuhi. Peradaban Melayu masuk ke Papua melalui todongan senjata. Melalui kekerasan senjata hingga banyak nyawa orang Papua harus hilang.

Merebut Papua dengan senjata dan memerintah di atas tanah Papua dengan senjata sampai hari ini, adalah karakteristik Peradaban baru Melayu yang dikenal dan diketahui oleh orang Papua dari generasi ke generasi. Selama para prajurit masih terus berdatangan dalam jumlah besar ke Papua dengan menenteng senjata, selama itu pula Presiden Jokowi hanya bisa bermimpi utk merebut hati orang Papua dan menghentikan keinginan orang Papua untuk merdeka.

Prasyarat ketiga jangan ganggu Perempuan Papua memiliki makna ganda. Makna yang pertama jangan menggangu seorang anak gadis atau seorang Perempuan dewasa Papua karena Perempuan itu salah satu harta kekayaan masyarakat Papua. Apakah ada prajurit yang datang ke Papua dan menggangu Perempuan Papua ?.

Ada gosip yang beredar tapi belum bisa dibuktikan kebenarannya. Butuh investigasi lebih jauh namun secara umum di wilayah konflik seperti Papua, perempuan dewasa atau anak gadis rentan sekali untuk mengalami pelecehan seksual dan selalu menjadi korban – korban kekerasan.
Makna yang kedua, dalam filosofis orang Papua, tanah Papua adalah simbol Perempuan Papua. Ketika Peradaban Melayu yang sangat agresif dan bernuansa imperialis masuk awal tahun 1960an, tujuan utamanya adalah mengeruk perut bumi Papua yang sangat kaya akan sumber daya alam.

Perut bumi Papua yang dalam mitologi Papua adalah Perut seorang Perempuan Papua, ketika diperlakukan seperti itu, tentu akan melukai hati anak – anak Perempuan tersebut. Sehingga tidak heran kalau generasi muda Papua hari ini yang bangkit membelah ” Mama mereka ” dari tangan – tangan jahat dan rakus seperti elit politik Jakarta, Freeport dan koorporasi Internasional lainnya dan terus berjuang untuk keluar dari PENGARUH BURUK Peradaban Melayu dengan membentuk Negara sendiri West Papua adalah generasi yang sedang terluka batinya. Generasi muda yang sulit ditaklukan hatinya oleh kunjungan Presiden Jokowi berkali – kali ke Papua.

Saat melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Kepulauan Solomon Rick Houenipwela, Presiden Joko Widodo mengharapkan hubungan yang lebih erat di antara kedua negara tersebut. Untuk meningkatkan kerja sama antarkedua negara, Presiden menyampaikan beberapa hal, diantaranya dengan meningkatkan investasi Indonesia di Kepulauan Solomon. (Foto Biro Pers Setpres)

Akhirnya, kalau Presiden Jokowi masih mau melihat peradan Melayu tetap bertahan di Papua, lakukanlah langka – langka strategis untuk memulihkan kembali tiga prasyarat utama yang harus dipatuhi dan diindahkan orang asing non Papua ketika mau masuk ke Papua seperti yang direkomendasikan oleh generasi Eropa pertama yang datang ke Papua seperti yang diuraikan diatas.

Kalau tetap memandang bahwa kebijakan apa yang dilakukan selama ini terhadap Papua sudah tepat, maka Presiden Jokowi sebenarnya sedang ikut mendukung Peradaban Melayu yang buruk karena mewariskan Memoria Pessionis bagi orang Papua, ditendang keluar dari Papua.

Papua lebih tepat dan lebih bagus hidup dalam pengaruh peradaban Injil Eropa karena kami bisa duduk dekat dan ketawa bersama tanpa ada jarak secara fisik maupun dalam hati dan pikiran ( seperti foto indah dan nenarik di bawah ini ).

Tahun depan, pemerintah akan kembali membangun PLBN Sota di Merauke, Papua. Rencananya PLBN Sota akan mulai dibangun pada Januari 2019 mendatang.
“Selama empat tahun kita telah membangun 7 pos perbatasan di Aruk, Badau, Entikong, Wini, Motaain, Motamasin, dan Skouw. Tiba saatnya juga di Sota ini akan kita mulai di Januari 2019,” kata Presiden Joko Widodo, didampingi Ibu Iriana Jokowi, saat meninjau lokasi PLBN Sota pada Jumat, 16 November 2018. (Foto Biro Pers Setpres)

Dengan Peradaban Melayu, secara fisik mungkin bisa duduk dekat, tapi dalam hati dan pikiran, ada jarak yang jauh seperti jauhnya jarak Jakarta dengan Jayapura yang harus ditempuh dalam 5 jam penerbangan pesawat dengan harga tiket yang mahalnya luar biasa.

Marinus Yaung, Selaku Pemerhati Politik Luar Negeri dari Papua (Foto Pribadi)

Mungkinkah Peradaban Melayu akan ditendang keluar dari Papua ?. Kita tunggu hasil akhir Pleno KPU kabupaten dan kota di Papua. Kalau wakil legislator dari Peradaban Melayu mendominasi mayoritas kursi Parlemen lokal, kita harus berjiwa besar menerimah proses politik ini..hanya dengan kekalahan telaklah yang bisa menjadi alat pemersatu orang Papua untuk keluar dari pengaruh buruk Peradaban Melayu. (***)

(Penulis Adalah Dosen Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poilitik pada Universitas Cenderawasih )