Oleh :  Ridwan al-Makassary

Pada 21 April 2019, perayaan hari paskah Minggu yang syahdu di Srilanka telah menjelma menjadi tragedi nasional dan dunia. Sedikitnya 290 orang dari berbagai usia meregang nyawa, dan juga melukai lebih dari 500 korban.

CENDERAWASIH PAPUA (Istimewa)

Sekitar 39 orang luar negeri yang meninggal dunia, termasuk dari Amerika Serikat, Inggris, India, dan negara lainnya. Sembilang ledakan bom beruntun yang menargetkan gereja dan hotel-hotel mewah merupakan bentuk aksi kekerasan yang mematikan sejak perang sipil berakhir satu dekade yang lalu. Dugaan kuat dialamatkan pada organisasi Islam militan lokal yaitu National Taufik Jemaat (NTJ) dengan keterlibatan pihak-pihak luar, termasuk ISIS yang sudah gulung tikar. Dalam hal ini, ISIS telah mengklaim sebagai dalang di balik tragedi tersebut.

Tulisan singkat ini ingin menambahkan satu aspek yang belum banyak disentuh dalam diskursus Easter Berdarah tersebut, yaitu bagaimana menarik pelajaran dari kasus tersebut agar tidak terjadi di wilayah-wilayah non-Muslim di tanah air, seperti Papua.

Tulisan ini bersumber dari satu seminar CMSS, pada Rabu, 1 Meib 2019, di mana Professor Ameer Ali, seorang dosen dari Srilanka yang mengajar di Murdoch University, mempresentasikan topik “Behind the Islamist Carnage: Sri lankan Ethno-Religious Democracy in Disarray”. Selain itu, tulisan ini diperkaya dengan tulisan-tulisan akademik lain dan refleksi penulis terkait masa depan Papua Tanah Damai (PTD).

Dalam pidatonya sekitar satu jam, di kampus University of Western Australia (UWA), Profesor Ali menggunakan sebuah pendekatan deksrispi historis mengenai Srilanka, terutama mengulik aspek sosiologis dan hubungan antara Muslim dengan pemeluk agama lain di Srilanka. Profesor Ali menjelaskan bahwa penduduk Muslim dapat dijumpai di seluruh wilayah Srilanka.

Jadi mereka tidak terkonsentrasi di satu wilayah saja. Sekitar 9.7 persen Muslim merupakan pengikut Sunni, termasuk penganut Sufi dan Jemaah Tabligh. Sebagian besar mereka berbicara dalam bahasa ibu mereka, Bahasa Tamil, yang acap menempatkan mereka sebagai bagian dari minoritas Tamil, selain kategori Hindu dan Kristen. Meskipun demikian, terdapat sejumlah Muslim yang berbicara dengan bahasa mayoritas, yaitu Sinhala.

Lebih jauh, Ali menuturkan bahwa Srilanka semenjak abad ke 8M hingga pungkasan tahun 1948 tidak pernah mengalami ketegangan antar umat beragama, khususnya antar Muslim dan penganut Budha.

Terhitung sejak 1956 hingga 1977, politik Muslim menganut pragmatisme. Sejak tahun 1980-an, Islam berkembang cukup pesat di Srilanka dengan ditandai lahirnya organisasi Sri Lanka Muslim Congress (SLMC) and All Ceylon Makkal Congress (ACMC).

Perkembangan Salafi Wahabi global juga menyentuh Srilanka. Inilah yang menjadi pangkal mengapa yang menjadi target dari bom di Srilanka adalah gereja, bukan vihara? Hemat penulis, pilihan menyerang umat Kristen dan gereja adalah kelompok militan mungkin diilhami oleh paham salafi jihadi yang memandang barat dan segala manifestasinya, termasuk gereja Kristen sebagai musuh global yang mesti dimusnahkan.

Menurut Professor Ali, hadirnya Islam transnasional di Srilanka, terutama Jemaah Tabligh dan Salafi Wahabbi (dengan kecenderungan Salafi Jihadi) telah membuat hubungan harmoni masyarakat terganggu. Kattankudy telah menjelam sebagai “Den of Wahhabi fundamentalism”. Kembalinya para veteran ISIS telah mengokohkan eksistensi NTJ.

Perkembangan pemahaman Salafi Wahhabi dipengaruhi oleh perkembangan internet dan gadget yang luar biasa, terutama menjangkiti para pemuda. Selain itu, sebagian masjid secara perlahan banyak dikuasai kelompok Salafi Jihadi ini yang akhirnya menternakkan paham yang radikal di masyarakat. Kemunculan Islam transnasional ini yang perlu menjadi perhatian kita semua akan kemungkinan terjadinya aksi kekerasan lainnya, terutama di Papua.

Islam transnasional di Indonesia adalah sebuah fenomena modern. Berbeda dengan Islam transnasional di Eropa dan Amerika terkait dengan migrasi dari Muslim di wilayah Asia dan Afrika ke wilayah Eropa untuk mencari penghidupan yang lebih baik, dan belakangan juga berciri khilafatis dan jihadis.

Di Indonesia, Islam transnasional lebih terkait dengan ekspansi gerakan Islam transnasional yang sudah dimulai pada 1980-an yang bergerak di bawah tanah. Jika mengacu pada tipologi Mandaville (2009) tentang transnasional Islam dengan kecenderungan khilfatis dan jihadis, maka ada tiga aktor Islam transnasional di Indonesia yang berhaluan tersebut, yaitu, Jemaah Tarbiyah dengan sayap politiknya Partai Keadilan Sejahtera/PKS; Hizbut Tahrir Indonesia /HTI; Salafi-Wahabi Groups: 1. Salafi Jihadis. 2. Salafi Takfiry. Selain, yang berorientasi khilafatis dan jihadis, terdapat juga Islam transnasional yang berdasar pada purifikasi moral yaitu Jemaah Tabligh.

Kelompok yang terakhir sejauh ini lebih bergumul pada wilayah membangun kesalehan individu dengan masjid sebagai pusat kegiatan.
Kelompok Tarbiyah, sebagai anak ideologis Ihkwanul Muslimin, yang melahirkan PKS menghadapi dilema moral oleh karena tujuan ideologis mereka adalah pendirian negara Islam.

 

Sementara mereka telah masuk ke dalam sebuah sistem negara dan berpartisipasi dalam politik demokrasi. Penulis berpandangan selama PKS tidak bisa meyakinkan bangsa Indonesia tentang tujuan ideologisnya bukan negara Islam, selama itu akan tetap ada kabut keraguan dari masyarakat Indonesia untuk mendukungnya.

Sementara, Hizbut Tahrir Indonesia yang paling getol berjuang untuk promulgasi kekhalifahan Islam saat ini sudah dibekukan ijin beroperasinya. Pada akhirnya, gerakan salafi yang terdesentralisasi, dan secara umum apolitis, berbenturan dengan Islam moderat karena menolak praktik-praktik yang mengakomodasi aspek budaya serta dianggap bid’ah dan khurafat.

Studi gerakan Islam transnasional di Papua masih terbatas. Beberapa kajian yang telah dilakukan misalnya oleh The International Crisis Group (ICG) (2008), Noor (2010), Al-Hamid (2013) and Al-Makassary (2016). ICG telah menyediakan laporan awal tentang kehadiran HTI, Salafism dan Jemaah Tabligh di Papua. Noor secara khusus menginvestigasi kehadiran Jemaah Tabligh dan penyebarannya di Papua. Kajian tersebut perlu ditindaklanjuti melihat fenomena terkini.

Sementara itu, Al-Hamid telah merefleksikan kehadiran Islam politik dan budaya Islam dan bagaimana perjumpaan antara Islamisasi yang dibawa oleh Islam transnasional dengan organisasi Islam di Papua, dan juga non-Muslim. Penulis telah mulai mengkaji faksi Salafi Jafar Umar Thalib, mantan panglima perang Laskar Jihad dalam perang Muslim melawan Kristen di Ambon (1999-2003).

Kehadiran Jafar Umar Thalib dengan santrinya di Jayapura dan pindah ke Keerom untuk mendirikan sebuah pesantren telah memercikkan api ketegangan di kalangan Muslim dan non-Muslim yang tidak setuju pesantren tersebut akan menjadi basis proyek jihad di Papua.

Insiden Koya Barat 2 yang menempatkan JUT sebagai tersangka penganiayaan adalah impak dari kehadiran Salafi Wahhabi yang cenderung intoleran.

Saat ini selain HTI (yang sudah dilarang secara nasional pada Mei 2017), terdapat Jemaah Tabligh, Salafi Wahabi, Syi’ah dan Global Ikhwan yang mengembangkan narasi perjuangannya masing-masing. Penulis berasumsi kehadiran sebagian kelompok Islam transnasional ini rawan menimbulkan konflik, oleh karena sebagian mereka, untuk beberapa derajat, sedang mengembangkan ajaran Islam yang berbeda dengan Islam arus utama yang dikembangkan oleh NU dan Muhammadiyah.

Dengan memudarnya Salafi faksi Jafar Umar Thalib, yang hengkang ke Papua untuk proyek jihadnya berkembang Salafi takfiry dan Salafi jihady yang terkait dengan aksi-aksi terorisme, dan sebagian bergabung dengan ISIS. Baik Salafi takfiry dan Salafy jihady bertujuan untuk mendirikan negara Islam, dan mencapai tujuan dengan jalan jihad. Sementara takfiry memusuhi non-Muslim dan dipandang wajib diperangi.

Di sini kita bisa memahami mengapa gereja menjadi sasaran target teror. Sedangkan polisi juga dijadikan sasaran diantaranya karena dianggap mengganggu proses perjuangan mereka.

Serangan teroris di Indonesia umumnya berkaitan dengan ISIS, termasuk kasus bom di Surabaya dan aksi teror di Jakarta. Tentu saja yang terakhir Easter berdaran di Srilanka.

Berdasarkan berita yang terdengar riuh di media, beberapa hari terakhir, bahwa Kabupaten Keerom dan Kabupaten Merauke telah menjadi medan jihad para teroris yang berjubah agama Islam. Diberitakan pada hari Senin, 6 Mei 2019 Densus 88/Anti teror telah menangkap terduga teroris yang merupakan bagian dari jaringan teroris SL atau Abu Faisa yang diduga pimpinan kelompok Jaringan JAD Lampung. Polda Papua mencurigai SL melarikan diri ke Papua dan membangun basis di sana.

Penulis sendiri dalam riset terakhir (2018) tidak menemukan adanya gejala tersebut. Ada kemungkinan kalaupun benar, mereka bergerak di bawah tanah. Sikap yang baik adalah memelihara kehati-hatian agar tidak lengah. Jika kita tidak membangun hubungan lintas agama dengan baik, dan juga membendung gerakan Islam transnasional dengan orientasi khilfatis dan jihadis, Papua dan wilayah-wilayah non-Muslim akan menjadi target serangan bom yang mematikan.

(Penulis Adalah Peneliti Centre for Muslim States and Societies (CMSS) UWA, Pegiat perdamaian Papua dan sedang menulis Islam Transnasional di Papua.)