JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  –  Papua adalah sebuah wilayah yang terdiri dari 312 suku asli dan masih menjaga baik pola-pola hidup nenek moyangnya.Pulau ini memiliki hutan menghampar luas, lautnya menyimpan berjuta jenis ikan dan tumbuhan sumber protein bagi kehidupan.

Wirya Supriadi (SEKNAS PV) Kiri. Elisabeth Apeyaka, Bendahara Nasional PV dan , selaku Koordinato PV Wilayah Keerom. (ISTIMEWA)

Kandungan mineral di perut buminya, mulai dari minyak hingga emas, menjadikan pulau ini dipandang sebagai harta karun tak ternilai harganya. Papua adalah surga bagi para antropolog sekalligus bagi para investor pribumi dan mulltinasional yang melihat alamnya sebagai faktor produksi yang bisa mendatangkan keuntungan tak terperi.

 

Sesungguhnya, dalam konsep budaya Orang Papua, kaum perempuan mendapat tempat yang cukup baik, seperti pada beberapa suku yang menggambarkan perempuan dalam simbol-simbol keagungan seperti misalnya simbol pohon sagu yang artinya sumber kehidupan. Namun hal ini bukan berarti sama dalam praktek kehidupan sehari-hari dimana perempuan justru tidak mendapatkan banyak kesempatan untuk memuliakan dirinya.

 

Dalam kehidupan keluarga sehari-hari kadang ditemui ada perempuan menyatakan tak mampu melawan kehendak suami atau keluarganya karena telah “dibeli” dengan harga “mahal”.Mereka harus bekerja keras dan menyimpan dengan rela berbagai bentuk ketidakadilan pada batin dan tubuh, sampai akhir hayatnya.

 

Ironisnya, kaum perempuan sendiri merasakan bahwa ini adalah hal yang biasa, sudah takdir dan bahkan merasa apa yang dialaminya memang sudah semestinya diterima sebagai seorang perempuan.

Perempuan kampung di Papua sungguh menanggung beban berlapis-lapis dalam kondisi kekinian. Kekerasan berbasis gender  terhadap perempuan  dengan pelaku utama anggota keluarga, anggota masyarakat maupun aparatur negara, merupakan kenyataan yang dapat dijumpai setiap saat. Kekerasan yang dialami oleh perempuan ini terjadi baik di ruang domestik maupun publik, oleh keluarga, lingkungan, maupun pemerintah.

Saat ini isu Perempuan Papua banyak mendapat apresiasi dari berbagai elemen masyarakat.Narasi mama-mama Papua dalam pemberdayaan ekonomi, perlindungan keluarga, pendidikan, dan lain sebagainya, telah banyak terekam dalam benak orang Papua yang terus memperjuangkan keadilan.

Pada tanggal 6 – 9 Agustus 2019 mendatang, Papuan Voices akan kembali menyelenggara Festival Film Papua (FFP) ke-III . FFP Ke- III akan dilaksanakan di Kota Sorong, Papua Barat. Tema FFP II adalah “Perempuan Penjaga Tanah Papua”.

 Tema ini kami pilih sebagai sikap Papuan Voices  terhadap situasi dan kondisi perempuan Papua di Tanah Papua dengan beragam tekanan yang dialami baik dibidang Ekonomi, Sosial, Budaya dan Sipil Politik namun tetap menjaga “Tanah Papua” “.

Kami berharap tema ini memberi ruang bagi para filmaker untuk mengabadikan perjuangan perempuan Papua di Tanah Papua terkait dalam menjaga kelestraian lingkungan dan pemenuhan hak Sipil, Politik, Ekonomi, Sosial dan budaya serta mendokumentasikan  praktek baik yang kaum perempuan lakukan saat ini. Sehingga dapat memberikan kesadaran  kritis khususnya bagi kaum perempuan Papua lainnya dan masyarakat adat Papua pada umumnya  yang peduli tentang masa depan Tanah Papua .

Kami berharap bahwa dengan adanya FFP Ke- III akan semakin banyak  Filmmaker muda Papua yang akan berpartisipasi dalam mengirimkan karya -karya mereka.

 

 Sekilas Mengenal Papuan Voices

Papuan Voices adalah Komunitas Filmmaker Papua yang fokus memproduksi film dokumenter berdurasi pendek tentang Manusia dan Tanah Papua. Filmmaker Papua hendak menyampaikan pesan-pesan kepada seluruh lapisan komunitas masyarakat di Tanah Papua, Indonesia dan Internasional untuk melihat Tanah Papua melalui “mata” orang Papua sendiri dalam bentuk film dokumenter.

 

Papuan Voices terbentuk Tahun 2011 ketika Engage Media, Justice Peace and Integration of Creation (JPIC) MSC Indonesia dan Sekretariat Keadilan Perdamaan dan Keutuhan Ciptaan (SKPKC) Franciscan Papua (FP) bekerjasama dan mulai melatih para filmmaker baru di Papua. Papuan Voices sudah memproduksi beragaman jenis film dokumenter serta menyelenggarakan pelatihan-pelatihan untuk melahirkan para filmmaker di Tanah Papua.

 

Hingga 2019  Papuan Voices telah berdiri  di 8 daerah di Tanah Papua, yakni:  Papuan Voices Biak, Papuan Voices Jayapura, Papuan Voices Keerom, Papuan Voices Wamena, Papuan Vocies Merauke, Papuan Voices Timika, Papua Voices Sorong Raya dan Papua Voices Tambrauw. (*)

 

Kontak Penghubung kegiatan :

Papua Barat:

  1. Max Binur 0821 9849 6915
  2. Agus Kalalu, Ketua Panitia FFP Ke- III 0821 9888 3681
  3. Eliezer Ulimpa, Sekretaris Panitia FPP Ke-III : ………..

Papua :

  1. Bernard Koten Koordinator Umum Papuan Voices : 0812 6024 1970
  2. Wirya Supriyadi 0852 4330 4009
  3. Harun Rumbarar 0812 4756 2890

 

Dalam rangka Festival Film Papua ke-III ini, maka akan didahului dengan kegiatan perdana yaitu :

  1. Workshop dan Talkshow “Mendengar Suara Perempuan Penjaga Tanah Papua Dulu, Kini dan Harapan Masa Depan. Kegiatan ini akan menjadi sarana dialog untuk merumuskan rekomendasi-rekomendasi penting yang berkaitan dengan permasalahan perempuan Papua.
  2. Pelaksanaan Festival Film Papua ke III

 

Kegiatan Festival Film Papua ke-III

 

  Jenis Kegiatan Waktu Pelaksanaan Keterangan
1 Publikasi Festival Film Papua III Januari- Agustus 2019 Panitia
2 Publikasi Kompetisi Film 6 Mei-10 Juni Panitia dan PVN dan Semua Wilayah PV
3 Penerimaan Karya Film oleh Panitia 6 Mei-10 Juni 2019 Promosi FFP III,
4 Penjurian 10 Juni- 31 Juli 2019 Juri
5 Pengumuman 10 Besar Film Nominasi 01-05 Agustus 2019 Panitia
6 Pengumuman 3 Film Terbaik 05-08 Agustus 2019 Panitia
7 Pelaksanaan Festival Film Papua III 06-09 Agustus 2019 Panitia
8 Pengumunan  Pemenang Festival Film Papua III 09 Agustus 2019 Penutupan Festival Film Papua III Panitia dan PVN

 

 

Logo FFP III

Arti dan makna dari logo FFP III ini adalah :

  1. Sosok perempuan Papua
  2. Noken sebagai lambang Kehidupan
  3. Pulau Papua yang dipeluk, menggambarkan bagaimana perempuan Papua menjaga Papua dengan kasih
  4. Megaphone, alat yang kerap digunakan dalam aksi/demonstrasi untuk menunjukkan peran perempuan Papua di ranah perjuangan demokrasi