Produksi Industri Manufaktur Papua Alami Pertumbuhan Negatif

0
139
Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Papua Bambang,  Wahyu Ponco Aji, saat menyampaikan keterangan pers, kemarin. (Erwin / HPP)

JAYAPURA (LINTAS  PAPUA) – Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang (q-to-q) Provinsi Papua pada triwulan I 2019, tercatat mengalami pertumbuhan negatif sebesar 3,8 persen dari triwulan IV-2018.

Hal demikian diakui, Kepala Bidang Statistik Produksi BPS Papua,  Beti Yayu Yuningsih, dalam keterangannya kepada pers di Jayapura, kemarin.

Beti pun memastikan, angka pertumbuhan negatif ini disebabkan terjadinya penurunan produksi selama trilwulan I 2019, lebih khusus pada industri makanan (KLBI 10), khususnya minyak kelapa sawit dan industri kayu. Penurunan juga terjadi pada barang dari kayu (tidak termausk furniture) dan anyaman bambu, rotan maupun sejenisnya.

“Nah kalau untuk penurunan minyak kelapa sawit ini memang dikarenakan pengaruh cuaca dimana terjadi banjir di banyak daerah penanaman kelapa sawit yang menyebabkan produksi buahnya menurun”.

“Dilain pihak produksi kayu juga mengalami penurunan karena pihak perusahaan kesulitan memperoleh ijin untuk memperluas Lahan Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Dengan demikian, pihak perusahaan harus mengambil langkah untuk melaukan efisiensi produk,” kata ia.

Kendati demikian, sambungnya, kondisi yang berbead terjadi produksi industri minuman (KLBI 11). Dimana komoditi ini, selama triwulan I-2019 mengalami pertumbuhan positif sama seperti pada triwulan IV-2018.

Fenomena ini terjadi karena begitu besarnya permintaan masyarakat pada saat perayaan tahun baru.

Sementara jika dibandingkan dengan pertumbuhan produksi triwulan I 2018, tambah ia, produksi industri manufaktur besar dan sedang secara (y-on-y) Papua selama triwulan I 2019 tumbuh positif 4,78 persen.

Pertumbuhan positif ini disebabkan meningkatnya produksi komoditi industri makanan (KLBI 10), lebih khusus untuk produk minyak kelapa sawit serta produksi industri minuman (KLBI 11) pada 2019, dibanding tahun sebelumnya.

“Sebalinya, kalau untuk industri kayu, barang dari kayu (tidak termasuk forniture) dan barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya (KBLI 16), mengalami penurunan secara (y-on-y) pada triwulan I 2019. (Erwin / Koran Harian Pagi Papua)