Ilustrasi Anak - Anak Sekolah di Kabupaten Jayapura. (LintasPapua.com)

JAYAPURA (LINTAS  PAPUA) – Pengamat pendidikan Papua, John Rahail menilai, potret pembangunan pendidikan di Bumi Cenderawasih telah tergambar dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang masih tergolong rendah, meski setiap tahunnya mengalami kenaikan.

Hal demikian juga terlihat dari bangunan fisik sekolah yang telah dibangun, namun belum dimanfaatkan secara maksimal untuk membangun sumber daya manusia (SDM) di bumi cenderawasih.

“Sekarang ruang sekolah sudah ada, tapi untuk bagaimana anak-anak bisa melihat sekolah sebagai kebutuhan utama ini yang belum jalan. Yang pasti mereka masih melihat sekolah sebagai kewajiban,” ujar John Rahail,  kepada pers di Jayapura, Kamis (2/5/2019).

Menurut ia, pembangunan pendidikan di Papua, semestinya dilakukan dengan pendekatan yang lebih kontekstual berbasis kearifan lokal. Tujuannya agar anak-anak Papua kedepannya bisa melihat sekolah sebagai kebutuhan dasar dan yang paling utama.

“Karena ketika bicara bahwa sekolah adalah kewajiban, anak-anak akan merasa itu beban. Sehinga saya pikir di momen hari pendidikan nasional ini, pendekatan pembagunan pendidikan di Papua jangan cuma fisik saja”.

“Namun bagaimana pendekatan pembangunan pendidikan yang lebih kontekstual bebasis kerarifan lokal,” tegasnya.

Dia menilai, pembangunan pendidikan di Papua sesuai Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dinilai sudah berjalan dengan baik. Hanya saja pendekatannya masih terlalu difokuskan pada pembangunan fisik.

“Makanya saya menyebut, gedung sekolah di kampung-kampung itu hanya monumen. Karena sekolah ada, siswa ada, tetapi guru tidak ada. Akibatnya berdampak pada proses dan kualitas pembelajaran. Ini juga dikarenakan penyebaran guru yang belum merata dan masih terkonsentasi di pusat Kota. Hal seperti ini yang saya harap bisa dibenahi di masa mendatang,” tegasnya. (Erwin / Koran Harian Pagi Papua)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here