PAPUA DALAM BINGKAI COPENHAGEN SCHOOL (Suatu Catatan Kecil Menuju Parlemen )

0
487
Melyana Ratana Pugu (Foto Pribadi)

Oleh :  Melyana R Pugu (Akademisi Uncen)

Berbicara tentang Papua, sebuah pulau besar yang adalah bagian dari Indonesia selalu menjadi isu yang menarik. Banyak permasalahan yang terjadi di wilayah ini sejak bergabung dengan Indonesia baik masalah pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, budaya dan terutama masalah keamanan.

Secara umum, jumlah penduduk Papua saat ini kurang lebih 3,6 juta jiwa dengan komposisi penduduk laki-laki kira-kira 1,90 juta jiwa dan penduduk perempuan diperkirakan berjumlah 1,70 juta jiwa (databoks.katadata.co.id). dengan luas wilayah 808.105 km2 merupakan pulau terluas dan terbesar di Indonesia.

Permasalahan di Papua menjadi isu kompleks yang penting untuk dikaji, di evaluasi dan diberikan solusi bagi pembangunan Papua dan masyarakat Papua yang tinggal didalamnya baik masalah pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, budaya dan keamanan. Untuk melihat kondisi tersebut Penulis berusaha memahaminya dengan sederhana dalam frame hubungan internasional khususnya memakai konsep keamanan non-tradisional dari Copenhagen School.

Bahwa menurut Barry Buzan dalam bukunya People, States and Fear: The National Security Problem in International relations 1983 terdapat 5 macam ancaman keamanan yaitu dalam sektor militer, lingkungan, ekonomi, politik dan sosial.

Dimana dunia pasca pernag dingin tidak lagi melihat ancaman perang antar negara sebagai ancaman kedaulatan negara tetapi lebih melihat ancaman internal yang berasal dari dalam negara.

Dalam pemikiran Copenhagen School, negara seharusnya menjadikan warga negaranya sebagai unsur utama dalam keamanan dan bukannya menjadikan masyarakat sebagai obyek keamanan. Pergeseran paradigma ini menjadi menarik ketika melihat masalah di Papua terutama menyangkut konsep rasa aman yang ingin dibangun dalam masyarakat.

Seperti yang dikatakan oleh Barry Buzan, Ola Waever, Jaap de Wilde, bahwa keamanan itu terbangun ketika masyarakat aman dari serangan luar negara maupun dalam negara, aman atas ketersediaan lingkungan yang bersih dan bebas polusi termasuk ketersediaan air bersih dan sumberdaya alam,  secara ekonomi bebas dari rasa lapar sebagai ancaman keamanan akibat ketersediaan sumber pangan, bebas menjalankan hak dan kewajibannya sebagai manusia politik tanpa ancaman dan dilindungi negara, dan dapat melaksanakan kehidupan sosialnya baik pendidikan dan kesehatan yang terjamin atas nama negara.

Konsep keamanan non-tradisional diatas perlu dipahami dengan baik oleh mereka yang akan duduk dalam lembaga legislatif dalam pemilu 17 April 2019 ini khususnya daerah pemilihan Papua baik DPR RI, DPRP Papua maupun DPRD Kabupaten/Kota dan Dewan Perwakilan Daerah Papua (DPD).

Ketika pemahaman terkait permasalahan dari daerah pemilihannya tercover jelas dalam benak legislator maka akan tercipta ruang kebijakan, Undang-Undang, Peraturan daerah, peraturan daerah khusus provinsi atau kebijakan apapun namanya yang akan  melindungi dan memberikan rasa aman bagi masyarakatnya.

Secara sederhana Penulis ingin  melihat Kabupaten Nduga dalam analisa keamanan Non-Tradisional. Mengapa Nduga? Karena kabupaten ini adalah kabupaten pemekaran sejak tahun 2008 berpisah dari kabupaten induk Jayawijaya dengan jumlah distrik sebanyak 8 distrik dan jumlah kampung 36 kampung. Kabupaten ini memiliki luas 2168 km 2 dengan jumlah penduduk 106.354 jiwa (2017).

Kabupaten ini terletak di sebelah barat dengan distrik Jila, sebelah timur dengan distrik Pelebaga dan Wamena. Sebelah utara berbatasan dengan distrik Kuyawage, distrik Balingga, Distrik Pirime dan Makki. Sebelah selatan berbatasan dengan Sawaerma, Asmat. Kabupaten ini adalah kabupaten dengan bentang alam hamparan Lembah Baliem yaitu sebuah lembah terbentang pada areal ketinggian 1500-2000 m diatas permukaan laut dengan temperature udara berkisar 14,5 derajat hingga 24,5 derajat Celsius. Sebagai kabupaten pemekaran jumlah sarana prasaran masih dapat dikatakan minim seperti dalam sektor kesehatan; rumash sakit yang baru diresmikan pada tanggal 12 Juni 2017 dengan Tipe D. Pratama, jumlah puskemas yang sangat terbatas, jumlah petugas medis yang kurang. Dalam sektor pendidikan, jumlah TK,SD,SMP dan SMA sangat terbatas dengan jumlah siswa dan guru yang juga sangat sedikit.

Dalam sektor politik, sosial, ekonomi, penduduk kabupaten ini merupakan penduduk yang hidup dari bertani untuk keperluan hidup sehari-hari. Dalam sektor militer, kabupaten ini baru saja mendapat sorotan terkait masalah keamanan (baca penembakan) pada Desember 2018 lalu. yang berdampak pada gelombang pengsungsi dari kabupaten ini ke Jayawijaya Wamena (liputan6.com) dan kedalam hutan-hutan belantara yang tentu dalam kondisi terbatas dalam sektor-sektor diatas. Kondisi ini secara nyata menunjukan bahwa ada masalah dalam penanganan dan pemberian rasa ‘aman’ bagi manusianya serta juga menunjukan bahwa dalam perspektif Copenhagen, masih ada ancaman nyata yang dirasakan oleh masyarakat.

Hal ini dalam pandangan Buzan merupakan ancaman keamanan yang perlu diperhatikan oleh negara yang juga diwakili oleh para wakil rakyat yang duduk dalam parlemen baik tingkat lokal hingga nasional. Sekali lagi ancaman keamanan itu bukan hanya perang nyata tetapi juga kelaparan, kemiskinan dan rasa takut adalah juga merupakan ancaman keamanan yang nyata yang perlu di perbaiki dengan merubah pengelolaan yang berbasis kesejahteraan bagi masyarakat.

Ketika masyarakat tidak merasa terancam secara jasmani dan rohani maka akan tercipta kehidupan yang aman, nyaman dan berkualitas dan sebaliknya tanpa rasa aman akan menciptakan ketakutan, ancaman, kemiskinan dan perpecahan.

Siapa yang dapat menciptakan kondisi tersebut yaitu negara yang didalamnya ada wakil-wakil rakyat yang dapat berkolaborasi menciptakan kebijakan-kebijakan yang melindungi masyarakat dan kebijakan-kebijakan yang memajukan masyarakat. Secara sederhana dapat dikatakan: 1 suara individu saat pemilu sangat berarti bagi keamanan dirinya dan komunitasnya 5 tahun kedepan. Jangan abaikan suara mereka apalagi lupakan karena tetap terekam dalam sejarah bangsa.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Amin.

(Penulis adalah Dosen Hubungan Internasional Fisip Universitas Cenderawasih (Uncen) di Kota Jayapura)

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here