Pater Neles Tebay, Sang Tokoh Perdamaian Papua, Dalam Kenangan : Oleh Ridwan Al-Makassary

0
294
Pastor Neles Tebay, dalam sebuah aktivitas selalu ceria dan memberikan senyuman dengan mengajak semua pihak untuk cinta damai. (Foto facebook Papua Peace Network)

Oleh : Ridwan Al-Makassary

 

“Kalau anak-anak Papua diajarkan menghormati rumah agama, maka tidak akan pernah ada konflik agama di Papua”

Pastor Neles Tebay

Pater Neles Tebay adalah salah satu seorang legenda dan tokoh perdamaian Papua yang terkemuka. Saya mengenal Pater Tebay, selain dari menyelami buku-bukunya dan karyanya yang jenial tentang “Dialog Papua dan Jakarta” dan “Papua Tanah Damai”, dan juga karena beliau sebagai anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Papua dan Forum Komunikasi Para Pimpinan Agama (FKPPA) Papua dan saya sebagai staf khusus FKUB Papua, kami acap berjumpa dalam acara yang dihelat oleh FKUB dan FKPPA Papua.

Selain itu, kami sama-sama sebagai Koordinator Jaringan Antar Iman Indonesia (JAII) wilayah Papua yang acap menggelar konferensi dan seminar tentang Papua Tanah Damai. Pater Tebay adalah seorang pekerja keras yang bertungkus lumus mempromosikan perdamaian dan dialog damai antara Papua dan Jakarta dalam rangka menyelesaikan konflik Papua.

Penulis (baju putih) bersama rekan lainnya, saat menjenguk almarhum, ketika masih terbaring dalam pengobatan di rumah sakit. (Foto Pribadi)

Dunia mengakui kiprahnya. Pada 2013, ia dianugerahi Penghargaan Keadilan dan Perdamaian Tji Haksoon ke-16 atas karyanya untuk mempromosikan dialog damai antara pemerintah Indonesia dan penduduk asli Papua untuk menyelesaikan konflik Papua secara damai. Singkatnya, beliau telah mewariskan legacy bagi penyelesaian Papua secara damai melalui dialog.

 

Pater Neles Tebay memiliki pengetahuan luas tentang dialog perdamaian yang disikapi secara pro dan kontra di tanah air. Dia memperjuangkan dialog tersebut hingga maut yang jumawa menghampiri tubuhnya yang ringkih. Dalam pelbagai pertemuan tersebut beliau acap memulai diskusi dengan “wa wa wa wa wa” (salam ala masyarakat pengunungan di Papua), yang teguh mendorong peyelesaian Papua melalui jalur dialog Papua dan Jakarta, yang telah menimbulkan pro dan kontra.

Pihak yang berkepentingan di Jakarta agak alergi dan menolak gagasan tersebut karena dipandang sebagai satu cara bermartabat agar Papua lepas dari Indonesia. Posisi Pastor Tebay memang tidak mudah karena bisa diserang dari dua arah, dari pihak NKRI menuding Pastor Neles bermain untuk pihak nasionalis Papua, sedangkan dari pihak nasionalis Papua mencurigai upaya dialog akan tetap membuat Papua tidak akan lepas dari NKRI.

Pastor Neles Tebay lahir di Kamu Utara, Dogiyai, Papua,13 Februari 1964. Pastor Neles pernah menjadi wartawan The Jakarta Post (1998-2000) dan sebelumnya wartawan Tifa Irian (1984-1994). Sekarang Ketua STFT Fajar Timur. Pastor Neles Tebay mendapatkan penghargaan dari The Tji Haksoon dari Yayasan Keadilan dan Perdamaian Tji Hak-soon yang berada di Seoul, Korea. (Sebagaimana disadur dari http://www.jurnaltimur.com/2017/06/selamat-pesta-perak-imamat-pastor-neles.html) (Foto Istimewa dikirim di berbagai Grup WA)

Awal April 2019, ketika berada di Jakarta menanti keberangkatan ke kota Perth Australia, saya mendengar Pater Neles Tebay sedang terbaring lemah di sebuah rumah sakit di sekitar Salemba Jakarta Pusat.

Kak Anum Siregar dan Kak Elga Sarapung yang telah mengabarkan berita menyedihkan tersebut. Ingatan saya seketika kembali pada saat turla riset di Papua akhir tahun 2018, di mana saya telah berkomunikasi dengan Pater untuk silaturahmi dan wawancara, namun beliau mengatakan lagi sangat sibuk dan kurang sehat sehingga kami tidak sempat bersua hingga saya kembali ke Jakarta melanjutkan wawancara dan mengumpulkan bahan-bahan riset.

Maka, ketika mendengar beliau dirawat di rumah sakit ST Carolus saya janjian dengan Kak Elga, yang berencana ke Jakarta untuk menghadiri sebuah acara, dan juga untuk menjeguk beliau bersama ke rumah sakit. Kami, akhirnya berjumpa di rumah sakit sore hari dan melihat kondisinya yang tidak berdaya telah mencemaskan kami.

Pertemuan saya dengan Pater berlangsung di rumah sakit. Hari itu Pater baru keluar dari ruang IGD dan dibawa ke kamarnya. Ada seorang pastor suruhan Uskup Leo Labadjar yang memantau dan menjaga Pater, serta anggota keluarganya yang menjaga.

Cukup banyak tamu yang menjenguk, di antaranya ada pak Rifki Muna dan beberapa teman sekolah Pater yang sebagian besar menganut Islam. Sedih melihatnya dalam kondisi dirawat, saya hamper-hampir tidak mengenali rupa beliau yang jauh berbeda. Mungkin karena banyaknya orang yang ingin membesuk beliau, maka waktu kunjungan telah dibatasi untuk memberi ruang Pater untuk beristirahat.

Pater adalah orang yang humoris dan senang tertawa terpingkal-pingkal, seingat saya dalam beberapa pertemuan bersama beliau. Hari itu saya sangat sedih karena tidak lagi mengenal Pater yang selama ini ceria dan kuat bercerita.

Tubuhnya yang ringkih ditindih sakit kanker tulang dan brewok jenggot yang menutupi wajahnya yang tirus membuat saya tidak mengenalinya. Kak Elga mengatakan semoga ada keajaiban buat Pater untuk kembali pulih seperti biasa, sembari kami agak khawatir umurnya tidak akan lama dengan kondisinya yang terakhir. Puncaknya, kami mengkhawatirkan masa depan Dialog Papua dan Jakarta yang telah menjadi medan perjuangannya beberapa tahun terakhir.

Beliau adalah figure luar biasa di bidang studi teologi dan perdamaian dan juga aktif diberbagai organisasi. Pater Neles adalah anggota Dewan Pengurus Yayasan Tifa sejak tahun 2009. Pater Neles memimpin Jaringan Damai Papua, organisasi yang mengkampanyekan hak-hak masyarakat lokal di Papua. Ia juga dipercaya untuk menjabat sebagai Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur di Jayapura.

Setelah menyelesaikan pendidikan seminari di STFT Fajar Timur tahun 1990, Ia melanjutkan studi pascasarjana di East Asian Pastoral Institute, Ateneo de Manila University, Filipina, dan meraih gelar Doktor Filsafat dari Pontificia Università Urbaniana, Roma, di tahun 2006.

Ketika terbaring kaku dalam peti jenazah, almarhum Pater Neles Tebay,   sempat mendapatkan kunjungan dari berbagai sahabat dan keluarga serta di doakan di rumah sakit dan selanjutnya diterbangkan dari Jakarta ke Papua. Foto Istimewa)

Dewasa ini Papua selain dibalut konflik politik yang akut, juga dihantui ancaman konflik agama dengan kehadiran Islam transnasional. Penulis teringat pada beberapa perjumpaan, beliau mengatakan kata-kata sakti di atas kepada penulis” “Kalau anak-anak Papua diajarkan menghormati rumah agama, maka tidak akan pernah ada konflik agama di Papua”.

Saya masih tidak menyangka Pater dipanggil Tuhan yang maha kuasa. Kemarin, saat saya membaca berita lelayu tersebut, saya yakin Indonesia, khususnya Papua kehilangan putra terbaiknya. Mungkin butuh waktu untuk menantikan lahirnya kembali seorang seperti Pater. Selamat jalan Pastor Neles Tebay, pejuang perdamaian Papua. Legacymu tentang Dialog Perdamaian akan kami teruskan.

(Ridwan al-Makassary, Pekerja Perdamaian Papua dan Co-Koordinator Jaringan Antar Iman Indonesia Wilayah Papua. )