Oleh : Marinus Yaung (Akademisi dan Pemerhati Pemerintahan dan Politik Papua)

Tanggal 1 April 2019, saya datang jenguk Pater Neles di RS. St. Carolus Jakarta. Melihat kondisi Pater, saya langsung teringat kondisi ( Almarhum ) Muridan Widjojo. Pater menyambut saya ” Nai sudah datang..Pater langsung mulai cerita panjang lembar ttg harapannya dan keinginannya melihat Papua ke depan,dstnya.. ( ..persis sama seperti saat – saat terakhir Pak Muridhan mau pergi…😭😭😭 ), dan saya harus menghentikan cerita Pater karena kondisi kesehatan…Pater lanjut lagi “..kalau begitu Nai berdoa serahkan saya sudah, saya sudah capek..SAYA MAU PULANG KE DOGIAY..

Saya bilang ke Pater, saya tidak datang berdoa untuk serahkan Pater, saya datang berdoa untuk Pater Sembuh…

Besoknya lagi 2 April saya datang berdoa Pater..bahasa yg sama Pater keluarkan “..Nai saya sudah capek..BAWAH SAYA PULANG KE DOGIAY..”. Saya berusaha untuk menahan air mata saya tidak menangis depan Pater tapi tidak bisa juga…

Dari hari sabtu 13 April 2019 mendengar kondisi Pater terakhir, saya cuma bilang ke Tuhan..” Tidak Tuhan Yesus…tolong..pleasee ..”

Pastor Neles Tebay lahir di Kamu Utara, Dogiyai, Papua,13 Februari 1964. Pastor Neles pernah menjadi wartawan The Jakarta Post (1998-2000) dan sebelumnya wartawan Tifa Irian (1984-1994). Sekarang Ketua STFT Fajar Timur. Pastor Neles Tebay mendapatkan penghargaan dari The Tji Haksoon dari Yayasan Keadilan dan Perdamaian Tji Hak-soon yang berada di Seoul, Korea. (Sebagaimana disadur dari http://www.jurnaltimur.com/2017/06/selamat-pesta-perak-imamat-pastor-neles.html) (Foto Istimewa dikirim di berbagai Grup WA)

Minggu siang di jam saya pukul 12.20 WIB Pater Neles Kebadabi Tebay Pr, pergi pulang ke surga bertemu Tuhan Yesus dan tinggal selamanya disana. Di ruang ICU lantai 3 RS. St. Carolus Jakarta, saya menatap tubuhnya dengan seluruh alat – alat operasi yang masih ada melekat di tubuhnya, saya menangis hancur betul.

Tangan kanan saya memegang tubuh Pater dan saya berdoa ” Tuhan Yesus, apapun yg terjadi Engkau tetap Tuhan yg baik utk Pater dan kami orang Papua. Tidak ada keputusanMu yang salah dan keliru. Saya mengucap syukur Tuhan panggil pulang Pater di hari minggu terakhir menjelang Paskah..”

Kedua berjuang untuk Papua dan Demokrasi yang damai di Negeri Cenderawasih. Muridan dan Pastor Neles Tebay. PAPUA BERDUKA (Foto dari halaman facebook Marinus Yaung)

Saya terus menunggu sampai semua urusan selesai di ruang ICU. Bersama dua perawat kami mengangkat tubuh Pater memindahkan ke ” tempat tidur” khusus utk di dorong ke rumah duka Carolus. Saya ikut mendorong tubuh Pater dan sampai di luar ruang ICU, sudah menunggu Ibu Dr. Adriana Elisabeth dan Pak Yorris Raweyai, dan ikut mendampingi saya dan perawat dorong Pater.

Malam sebelum saya pamit pulang karena harus kejar pesawat batik di bandarah, saya bicara ke masyarakat Mee yg datang bersama tokoh orang Mee Natalius Pigai kawan saya, saya cuma minta “..Saya bicara dgn menangis di hadapan Natalis dan masyarakat Mee, PATER NELES MINTA BAWAH PULANG DIA KE DOGIAY..!

Caption Foto : Beberapa suasana ibadah dan Berkat di akhir misa requiem Almarhum Pater Neles Tebay malam ini di RS Carolus., sebelum akhirnya diberangkatkan ke Papua. (Foto dari WA Grup Spirit of Papua)

Saya pamit pulang dgn berat hati dan rasa kehilangan yg dalam. Ketika mau boarding di Bandara jam 11.18 WIB, ada WA masuk dari kakak Jenderal Tito Karnavian, tanya Pater Neles di taruh dimana. Saya jawab dan saya langsung telpon Natalius Pigai, dia sudah mau tidur di rumahnya tapi saya perintah dia bangun dan kembali ke RS. Carolus segera ( katanya tidak ada yang bisa perintah dia selain tukang parkir mobil yang bisa perintah dia undur…😀 )…

Terimakasih untuk semua yang sudah terlibat mendukung Pater Neles dan Besok Pagi kita sama – sama ikut sambut Pater Neles di Airport Sentani. Pater Neles ” sudah buka jalan ( kebadabi ) ” dan Pak Muridhan ikut juga merintis jalan itu, kita akan terus melanjutkannya…
———————————————————————–
Sangat menghormati dan mencintai dua orang ini.

(tulisan ini dukutip seutuhnya dari statu  halaman facebook Marinus Yaung, pada Senin, 15 April 2019, sehari setelah Almarhum Pastor Neles Tebay di panggil pada Minggu, 14 April 2019, sebuah duka mendalam bagi Papua, karena perhatian dan kerjakeras almarhum dalam mendorong situasi yang damai di Tanah Papua.)