Martha Triasih Karafir :  Polisi Hutan Papua Perlu Dibekali Aplikasi Pemantau

0
453
: Peneliti untuk Kantor WRI Indonesia pada Provinsi Papua dan Papua Barat, Martha Triasih Karafir., saat memberikan materi. (Erwin / HPP)

JAYAPURA (LINTAS  PAPUA)  –  Guna memaksimalkan pengawasan cagar alam Cycloop agar kembali lestari, World Resources Institute (WRI Indonesia) yang dikenal dengan nama Yayasan Institut Sumber Daya Dunia mendorong penggunaan aplikasi pemantau bagi polisi hutan Bumi Cenderawasih.

 

Hal demikian disampaikan, Peneliti untuk Kantor WRI Indonesia pada Provinsi Papua dan Papua Barat, Martha Triasih Karafir, di Jayapura, kemarin.

Keindahan Danau Sentani dengan tampak cerah wajah Gunung Cycloop. Kini butuh reboisasi, akibat adanya penebangan liar di kawasan – kasawan hutan yang ada diareal tersebut. (Foto Facebook Neles Monim)

Dia katakan, dengan adanya sistem pengawasan aplikasi pemantau tersebut, polisi hutan dapat mengetahui kondisi Cycloop melalui citra satelit. Dalam artian, polisi hutan bakall mendapat data lapangan yang bisa langsung dikroscek ke lapangan.

 

“Aplikasi pemantau hutan ini kan dari sepengetahuan kami ada dua bagian. Antara lain, website “Global Forest Watch” beserta item di dalamnya yang disebut Forest Watcher”.

 

“Dimana aplikasi ini juga bisa digunakan secara ‘offline’. Aplikasi ini bisa mengetahui kondisi tutupan pohon pada suatu kawasan misalnya cagar alam Cycloop. Sehingga ketika mengecek di lapangan tidak ada signal, aplikasi ini masih bisa digunakan karena ada fasilitas’offline tadi. Namun yang pasti data yang diperoleh berasal dari citra satelit,” terangya.

 

Dia tambahkan meskipun aplikasi itu hanya berupa alat pendukung dan bukan pendeteksi dini, namun diyakini mampu memberikan analisis tutupan pohon yang berkurang pada suatu kawasan misalnya Cycloop secara cepat.

Keindahan Danau Sentani. Tampak Pegunungan Cycloop sebagai mama yang memberikan kehidupan kepada masyarakat disekitarnya. (Foto Facebook Neles Monim)

“Yang pasti aplikasi Global Forest Watch ini sebenarnya cocok digunakan oleh dinas kehutanan, BKSDA dan masyarakat ada pemilik hutan. Hanya memang aplikasi ini hanya berupa pendukung dan bukan alat pendeteksi dini bencana alam”.

“Sebab untuk di Papua Barat, aplikasi ini sudah sering disosialisasikan. Hanya untuk di Papua belum faimiliar dan dikenal banyak pihak,”pungkasnya. (Erwin / Koran Harian Pagi Papua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here