Pasca Banjir, Kabupaten Jayapura Masuki Transisi Darurat

0
131
Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, S.E., M.Si., menyatakan Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua memasuki periode transisi darurat menuju peralihan pasca tanggap darurat bencana. (Irfan / HPP)

SENTANI (LINTAS PAPUA) – Pascabencana banjir bandang yang menerjang Sentani, Bupati Jayapura Mathius Awoitauw, SE, M.Si., menyatakan Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua memasuki periode transisi darurat menuju peralihan pasca tanggap darurat bencana.

“Ini juga kami sudah komunikasi ke pemerintah pusat dan pemerintah provinsi, supaya ini bisa kita tangani bersama-sama. Oleh karena itu, setelah masa tanggap darurat ini kita akan masuk pada masa-masa transisi darurat dan pasca bencana,” kata Mathius Awoitauw, SE, M.Si., dalam keterangan persnya di Media Center, yang terletak di Posko Induk Tanggap Darurat Banjir Bandang, Lapangan Upacara Kantor Bupati Jayapura, Gunung Merah, Sentani, Kabupaten Jayapura, Minggu (24/3/2019) siang pekan kemarin.

Wakapolres Merauke Kompol Y. S. Kadang, S.Sos, mewakili Kapolres Merauke, AKBP Bahara Marpaung, S.H., mengatakan, kegiatan ini merupakan sebuah bentuk kepedulian kepada korban banjir bandang di wilayah Kabupaten Jayapura. Tampak saat penyerahan bantuan dilakukan. (Irfan / HPP)

Mathius mengatakan, selama masa transisi darurat akan dibangun hunian sementara (Huntara) untuk menampung pengungsi yang rumahnya rusak berat dan rusak ringan. Huntara diperlukan untuk meminimalisasi gejolak sosial dan mengantisipasi persoalan-persoalan lain.

“Pasti kita akan melakukan rehabilitasi, ya tahap (tanggap darurat) ini selesai dulu. Selesai masa tanggap darurat ini selama 14 hari, kemudian kita masuk dalam masa transisi darurat. Nah, di masa transisi ini kita coba bangun apa yang bisa kita bangun juga serba darurat, apakah itu perumahan (hunian sementara). Tidak mungkin mereka akan ada terus di pengungsian dan pengungsian yang layak itu mungkin kita akan akomodir untuk beberapa waktu kedepan,” kata Mathius.

Suasana pengungsi banjir bandang di Sentani. (Irfan / HPP)

Tempat pengungsian yang ada saat ini, kata Mathius, seperti GOR Toware dan Stadion Bas Youwe (SBY) ini tidak mungkin terus digunakan sebagai tempat pengungsian, karena dua tempat ini akan digunakan juga untuk persiapan PON XX Tahun 2020 mendatang. Karena itu, rehabilitasi atau perbaikan dan sebagainya itu sebenarnya juga masuk dalam agenda persiapan PON 20020 nanti.

“Tapi, mungkin kita akan tunda sedikit setelah pengungsian semua kita tangani. Apakah di pembangunan perumahan sementara (hunian sementara), atau mereka mungkin ada yang bisa kembali ke rumahnya yang masih layak digunakan atau di huni. Hal-hal ini yang coba kita lakukan, tinggal hanya berapa yang benar-benar memang rumahnya hancur atau tidak punya fasilitas perumahan apapun. Nah, ini mungkin nanti yang akan kita tangani secara khusus,” katanya.

Selama masa transisi darurat, kata Mathius, pihaknya akan bertanggungjawab untuk merelokasi maupun pembangunan-pembangunan yang terkena bencana, termasuk juga fasilitas-fasilitas umum lainnya.

“Jadi, pemerintah akan bertanggung jawab untuk relokasi maupun pembangunan-pembangunan perumahan yang terkena bencana, termasuk juga fasilitas-fasilitas umum lainnya. Oleh karena itu, setelah masa tanggap darurat (selesai) kita akan masuk pada masa-masa transisi darurat dan pasca bencana,” kata Bupati Mathius.

Pemda Kabupaten Jayapura, kata Mathius, pihak pemerintah mempunyai APBD dan APBN untuk pembangunan hunian atau perumahan sementara. “Kita akan tanggulangi bersama karena ini bencana besar. Kita sedang komunikasikan dengan pemerintah pusat dan ini semua akan menjadi agenda bersama,” katanya.

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, SE. M, Si saat menerima bantuan secara simbolis dari panglima TNI Marsekal  Hadi Tjahjanto, di saksikan Kapolri Jendral Pol. Prof. Drs. H. Muhamad Tito Karnavian, M. A, Ph. D. (Irfan / HPP)

Sebagai gambaran, hingga saat ini Minggu (24/3/2019) pekan kemarin, jumlah korban banjir bandang Sentani tercatat 105 orang meninggal dunia, 94 orang hilang, 75 sampai 104 orang alami luka ringan maupun berat dan 11 ribu lebih orang mengungsi.
“Kita sedang komunikasikan dengan pemerintah pusat dan pemerintah provinsi terkait relokasi dan pembangunan hunian sementara,” kata Mathius.

“Dari segi medis, penanganan korban itu semua ditangani secara maksimal. Jadi seluruh tim dokter, baik itu rumah sakit maupun puskesmas itu siap dan selalu menangani itu terus. Termasuk juga rumah sakit Bhayangkara yang menangani korban meninggal dunia,” kata Mathius Awoitauw diakhir wawancaranya. (Irfan / Koran Harian Pagi Papua)