ISLAMOPHOBIA DI DUNIA BARAT DAN AUSTRALIA: CATATAN ATAS PERISTIWA PENEMBAKAN DI NEW ZEALAND

Oleh : Ridwan al-Makassary

 

Pengantar

New Zealand berduka. Duka semesta yang melumatkan martabat kemanusiaan, tak perduli apa ras, agama dan kebangsaan yang disematkan pada korban. Pada 15 Maret 2019, Jumat yang penuh berkah (hari raya kecil umat Islam), telah tercederai aksi kebiadaban terhadap kemanusiaan. Empat puluh sembilang Muslim meregang nyawa dalam penembakan terhadap dua masjid, yaitu masjid An-Nuur dan masjid Linwood, di Christchurch, New Zealand.

Pelakunya adalah Brenton Harrison Tarrant (28 tahun), seorang ekstremis nasionalis, yang telah memposting sebuah Manifesto online bernada rasis dan menyiarkan kejadian nahas tersebut melalui Facebooknya. Tarrant adalah pemuda dari Australia yang tidak termasuk daftar orang yang dipandang berbahaya. Dia telah memilih New Zealand untuk menuntaskan aksi biadabnya.

Pelaku segera dibekuk aparat keamanan tiga puluh menit setelah kejadian dan telah diajukan ke meja hijau kota Christchurch Sabtu pagi, sehari setelah tragedi tersebut. Kepolisian New Zealand mengutarakan bahwa Tarrant akan menghadapi tuntutan tambahan. Pelaku lainnya, seorang pemuda berusia 18 tahun telah didakwa dengan tuntutan “intent to excite hostily or ill-will” (niat memantik permusuhan). Sementara itu, Perdana Mentri New Zealand, Jacinda Arden, menggambarkan penyerangan itu sebagai “aksi kejahatan yang luar biasa dan belum pernah terjadi sebelumnya”, dan berjanji untuk mengubah peraturan kepemilikan senjata. Sayangnya, Presiden Trump, yang dikutip di Manifesto sebagai sumber inspirasi, berpandangan tidak melihat nasionalisme putih (supremasi kulit putih) sebagai sesuatu yang sementara berkembang di dunia. Setali tiga uang, seorang senator kontroversial Australia dari negara bagian Queensland, Fraser Anning, berkomentar miring bahwa penembakan massal itu menyoroti ketakutan yang bertambah atas meningkatnya populasi keberadaan Muslim. Lebih jauh ia menulis bahwa “Penyebab pertumpahan darah sesungguhnya di jalanan Selandia Baru hari ini adalah program imigrasi yang memungkinkan kaum Muslim fanatik untuk bermigrasi ke Selandia Baru,” tulisnya seperti dilansir media Telegraph, Jumat (15/3/2019).

Karenanya, tulisan ini mencoba memberikan sebuah diskursus untuk memahami Islamophobia yang tampaknya menjadi dasar dari aksi-aksi biadab, sebagaimana yang dilakoni oleh Tarrant. Mungkin di luar sana Tarrant-Tarrant yang lain sedang menyusun agenda serupa sehingga kita ada membangun kewaspadaan. Singkatnya, tulisan ini akan menjelaskan secara singkat defenisi Islamophobia dan wacana Islamophobia di Dunia Barat dan Australia untuk dicarikan cara memeranginya secara kolektif.

 

Pengertian Islamophobia

Sebagai seorang yang lahir dan besar di Indonesia di mana penduduknya mayoritas Muslim, tentunya kita tidak mengenal istilah Islamophobia, yaitu ketakutan terhadap Islam. Kecuali mungkin di daerah yang mayoritas Kristen bisa terhjadi dalam derajat yang beragam. Sejak tragedi hitam 11 September 2001 di Amerika Serikat, tidak dipungkiri, telah timbul gelombang Islamophobia di beberapa negara di dunia, termasuk negara Australia. Awalnya saya berpikir, di negara multikultural tidak akan timbul yang dinamakan Islamophobia, yang dalam kehidupan sosial karena berbalut ketakutan terhadap Muslim dan agama Islam kemudian melahirkan sikap antipati, intimidasi, rasis dan sebagainya yang ditujukan kepada pemeluk agama Islam.

Terma Islamofobia mengandung arti “. . . permusuhan yang tidak berdasar terhadap Islam” (Laporan Runnymede Trust, 1997). Dalam praktik nyata kehidupan termanifestasi permusuhan kepada Muslim dalam bentuk diskriminasi yang tidak adil terhadap individu dan komunitas Muslim, dan akhirnya memarjinalisasi umat Islam dari arus utama politik dan urusan sosial. Lebih jauh, sebagian menilai bahwa Islamofobia adalah fenomena yang mirip dengan anti-Semitisme. Laporan Runnymede Trust menuturkan: Kata “Islamophobia” diigunakan oleh karena ada kenyataan baru untuk memenuhi kebutuhan penamaan — prasangka anti-Muslim telah berkembang sangat pesat beberapa tahun terakhir. Item baru dalam kosakata diperlukan untuk diidentifikasi dan ditindaklanjuti. Dengan cara yang sama, sejarah kelam di Eropa ketika sebuah kata baru, anti-Semitisme, diciptakan untuk disoroti meningkatnya bahaya permusuhan anti-Yahudi.

 

 

Badai Islamophobia di Barat

Dewasa ini, Minoritas Muslim telah terbit di sejumlah negara Barat. Sejak 1950-an, migran Muslim sebagai akibat dari transnasionalisme telah membanjiri negara Inggris, Prancis, dan Jerman pada khususnya. Baru-baru ini mereka juga mendatangi negara-negara lain seperti Amerika Serikat dan Kanada. Singkatnya, secara perlahan populasi Muslim berevolusi menjadi “minoritas Muslim”.  Mereka dibedakan secara tajam dari sisa populasi (yang “Kita” versus “mereka” fenomena) dengan “suara” sendiri.

Uni Eropa memiliki 15 juta Muslim, kelompok agama terbesar kedua di blok 25 negara. Tidak terbantahkan, Muslim Eropa telah menghadapi diskriminasi yang mendalam di bidang pendidikan, perumahan dan pekerjaan, tetapi juga mengatakan mereka bisa berbuat lebih banyak untuk berhubungan dengan masyarakat luas. Lebih jauh, minoritas Muslim tersebut menghadapi Islamophobia. “Islamofobia”, yang lebih sering berbentuk verbal daripada kekerasan fisik, hadir dari trend untuk mengidentikkan umat Islam secara umum dengan aksi-aksi teroris oleh segelintir orang dan telah terjalin dengan xenophobia yang sudah ada sebelumnya.

Islamophobia telah dikaitkan dalam literatur dengan dua kecenderungan: keinginan populasi yang menetap dan akomodasi kelembagaan dari kebutuhan mereka (pendirian masjid, sekolah, penyediaan daging halal dan sejenisnya) dan perlunya respons bersama untuk meningkatkan Islamofobia dalam beberapa tahun terakhir. Tren pertama, misalnya ditunjukkan Al Sayyad dan Castells dalam studi mereka memiliki bagian yang disebut “Bagaimana Islam di Prancis Berbeda dari Islam di Eropa?  Sementara tren kedua, yaitu tumbuh Islamofobia, secara paradoks terkait dengan yang pertama, seperti Vertovec menunjukkan bagaimana Islamofobia meningkat di Inggris “bersamaan dengan kemajuan di Pengakuan Muslim melalui semacam operasi yang terkait. Terlebih lagi Islamofobia bangkit, semakin banyak umat Islam yang mengorganisir “komunitas Muslim” yang muncul, dan kecenderungan yang lebih Islamifobia dapat menguatkan. Peristiwa dunia telah berperan dalam membuat minoritas Muslim di Barat tampak mencurigakan bagi anggota mayoritas.

Begitu mengakar memiliki fenomena ini menjadi dalam 10 tahun terakhir atau lebih sehingga Pusat Pemantauan Eropa tentang Rasisme dan Xenophobia (EUMC) telah memantau insiden rasis dan publik dan politik sikap di semua Negara Anggota UE. Islamophobia Ini telah menghasilkan sejumlah laporan yang mendokumentasikan Islamophobia, yang dipahami sebagai rasisme terhadap populasi Muslim mirip dengan anti-Semitisme

Memang, setelah diterima (di Uni Eropa) Islamophobia dipandang sebagai satu gejala yang mirip dengan anti-Semitisme, di mana definisi diskriminasi ras diperbesar untuk memasukkan diskriminasi atas dasar agama dan perubahan dimasukkan dalam Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia. Tidak diragukan, bahwa perkembangan ini merupakan hasil dari kerisauan atas Islamophobia yang mengejala. Selain itu, perkembangan politik baru-baru ini seperti “perang melawan terorisme”, pemboman di  berbagai negara dan kekerasan yang terkait dengan hubungan Muslim-Barat telah memicu Islamofobia, yang menutut kita sebagai satu kolektifitas untuk memeranginya.

 

Gelombang Islamophobia di Australia

Menurut Professor Riaz Hassan, dalam risetnya tahun 2015 menunjukan bahwa  terdapat sekitar 10 % orang Australia  yang benar-benar Islamophobik, dan juga 70%  yang sedikit Islamophobik. Sedangkan 20 % lainnya tidak menunjukkan posisinya. Senada dengan itu, seorang muslimah Australia keturunan Malaysia merasakan tindakan diskriminatif yang dialaminya karena mengenakan hijab. Bahkan, kuliahnya mesti dia tinggalkan.

Hari Kamis, 10 Agustus 2017, saya telah mengikuti diskusi panel tentang “Islamophobia di Australia” yang dihelat di University of Western Australia. Diskusi tersebut pada dasarnya bertujuan untuk mensosialisasikan dan mendiskusikan laporan tentang “Islamophobia di Australia 2014-2016”. Acara yang dihadiri sekitar 100 orang, dipandu oleh Professor Samina Yasmeen, cukup menarik perhatian peserta tidak hanya dari mahasiswa, melainkan juga peserta dari pemerintah dan masyarakat umum. Tulisan ini mencoba meringkas laporan yang baru diterbitkan, untuk diketahui oleh publik di Indonesia sebagai wahana untuk kita lebih toleran terhadap agama yang berbeda.

Laporan utuh, pada dasarnya, terdiri dari 2 bagian. Keseluruhan laporan tersebut ingin menunjukkan bahwa hari ini  telah dan sedang terjadi sejumlah praktik Islamophobia yang mengganggu di Australia. Wujud dari Islamophobia tersebut terjadi secara institusi atau personal. Meskipun sebagai negara yang secara resmi menyatakan diri sebagai negara pluralis dan inklusif, namun, terdapat  minoritas eksklusif  secara individu maupun entitas politik yang melihat  Australia sebagai negara Kristen dengan mana tidak ada ruang bagi Muslim untuk eksis di dalam masyarakatnya. Selanjutnya, Islamophobia bersalin rupa sebagai sebuah retorika politik yang normal, sebagai kelompok anti Islam sayap kanan, yang berkicau menjadi lebih nyaring dalam arena politik. Bahkan, tendensi Islamophobik tidak terbatas pada kelompok yang bermotivasi agama, namun juga  bentuk islamophobik sekuler yang dapat diobservasi dalam politik, media, media sosial.

Secara khusus, kecenderungan media yang ada di Australia secara cepat mengkriminalisasi Muslim atas segala tuduhan kejahatan atau kriminal yang terjadi. Pada saat yang sama, media tersebut tergolong lambat dalam mencatat, mendetekasi dan menghukum para pelaku yang melakukan tindakan Islamophobik. Lebih jauh, potensi bahaya dari organisasi sayap kanan yang keras dapat diminimalkan sementara pemerintah, polisi, media dan komunitas sebagian besarnya hanya fokus pada kekerasan ekstrimis di dalam kamp Muslim. Secara nyata, analisis Islamophobia online menunjukkan bahwa 51,4% pelecehan online ditemukan  sebagai sebuah kakater kekerasan, yang meliputi ekspresi diri, mengarahkan dan memfasilitasi kekerasan. Selain kekerasan secara online tersebut, terbit juga semakin banyak artikel atau esai yang isinya melecehkan dan merendahkan Muslim dan agama Islam. Namun, secara keseluruhan, mesti diingat bahwa sejumlah media arus utama di Australia tidak ikut-ikutan menggambarkan secara negative dan pejoratif mengenai Muslim dan agama Islam.

Terkait dengan perwujudan Islamophobik secara individu yang menargetkan Muslim, maka di laporan ini kita menemukan bahwa kebanyakan para saksi mata  yang melaporkan kejadian miris tersebut adalah non-Muslim, meskipun mereka dalam hal ini tidak melakukan intervensi atau tidak turut campur tangan menyelesaikan. Kenyataan ini menjadi problematik, oleh karena kasus tersebut kebanyakan melibatkan perempuan, anak kecil, orang hamil dan orang yang lagi sendiri. Meskipun kita bisa memahami bahwa orang yang melaporkan akan menjadi target serangan, namun sering perempuan Muslim mesti menanggung sendiri tindakan Islamophobik yang dihadapinya.

Seharusnya karena Islamophobia adalah prsoalan sosial, atau public issue, jika meminjam C. Wright Mills,  maka masyarakat dengan mengabaikan agama, suku dan ras mesti bangkit melawannya.  Dengan kata lain, mesti ada kesadaran terutama melalui pendidikan  untuk memberdayakan masyakarat secara luas untuk  memandang bahwa  melawan Islamophobia  sebagai satu tanggung jawab social dan kewargaan masyarakat.

Laporan ini juga menunjukkan bahwa Islamphobia bukanlah semata-mata reaksi atas terorisme yang marak dilakukan oleh oknum Muslim, tetapi juga karena keberadaan dan tampilan Muslim dan agama Islam di Australia. Misalnya, perempuan yang berhijab (79,6%)  telah menjadi target Islamophobia. Dalam 56,6% kasus Islamophobia, pakaian dengan model keagamaan menjadi penyebab sebagaimana disampaikan para pelaku. Level pelecehan akan semakin tinggi dengan mengata-ngatai perempuan Muslim sebagai “pelacur” (whore) dsb, dengan mengimbuhkan label agama korban.

Lebih jauh laporan menyatakan bahwa perempuan Muslim akan lebih mudah menjadi target, oleh karena tampilan pakaian mereka terutama dengan hijab. Mereka akan menjadi lebih rentan sebagai korban ketika sendirian dan tidak ditemani, dengan anak kecil dan lagi hamil pada saat terjadi insiden. Dampak psikologi dan sosial dari korban tindak Islamophobik perlu diakui dan diteliti lebih jauh. Selain itu, dampak terjauhnya adalah mengancam multikulturalisme Australia, kebebasan kewargaan Barat dan nilai kemanusiaan universal. Dalam tahap, ini mesti ada sinergi semua pihak untuk melawan tindak Islamophobik ini.

Penulis, Ridwan al-Makassary. (Foto Pribadi)

Melawan segala bentuk pelecehan terhadap suku agama maupun ras apapun adalah tanggung jawab sosial bersama pada level institusi dan personal.  Memperluas budaya inklusif dan pluralistik secara murni mesti dipromosikan ke seluruh masyarakat Australia. Tindakan yang bisa dilakukan untuk melawan Islamophobik secara khusus di Australia adalah memperkuat kembali etika jurnalisme, dulu di Indonesia dikenal sebagai jurnalisme profetik,  diskusi publik dan politik yang  menjaga martabat manusia dan keamanan publik masyarakat Muslim.

 

(Penulis adalah: Co-Founder Lembaga Perdamaian Indonesia dan Presiden Association of Indonesian Postgraduate Students and Scholars in Australia (AIPSSA). Pandangan ini tidak mencerminkan sikap resmi lembaga.)