Oleh : Ridwan al-Makassary

Tulisan ini didedikasikan untuk menyambut HUT Kota Jayapura dengan mendeskripsikan Kota Jayapura dan profil walikota Jayapura, Benhur Tommy Mano (BTM), sebagai pemimpin pluralis dari Negeri Matahari Terbit.

Kota Jayapura adalah wajah utama Provinsi Papua, dan juga merupakan miniatur Indonesia oleh karena semua suku, agama, etnis dapat ditemui di sini. Nama kota Jayapura awalnya adalah Hollandia, sebuah nama yang disematkan oleh Kapten Sachse pada tarikh 7 Maret 1910. Hollandia berasal dari kata Hol yang berarti lengkung, teluk, sedangkan land mengandung arti tanah.

Jadi, Hollandia berarti tanah yang melengkung atau tempat yang berteluk. Negeri Belanda juga geografinya berteluk, di mana kota Jayapura menyerupai garis pantai utara Negeri Belanda tersebut. Nama asli kota ini, sejatinya, adalah Numbay. Sepanjang sejarah nama Numbay telah berganti empat kali, yaitu Hollandia, Kotabaru, Sukarnopura dan Jayapura. Secara administratif kotamadya Jayapura berdiri pada 21 September 1993 berdasarkan UU No 6 tahun 1993.

 

Selain Numbay, kota Jayapura disebut juga dengan Negeri Tabi. Ada yang menyebutnya “Tanah babi”. Sejatinya, Tabi dalam cerita mitos orang Enggros Tobati merupakan suatu Negeri tempat asalnya manusia dari matahari yang berkuasa atas segala sesuatu di dunia, yang dianugrahi Teluk Youtefa yang indah bagi sejumlah suku yang hidup di Teluk Humboldt.

 

Tabi adalah Firdaus yang terhilang itu karena alamnya yang sangat indah. Zendeling F.J.F. van Hasselt menulis keindahan Teluk Youteva, yang pertama kali tiba pada 1897 sebagai berikut: “Daerah Teluk Youteva yang seindah mutiara itu terhampar bagaikan suatu tempayan besar yang memancar dengan dasar yang warna-warni berupa taman-taman laut di bagian yang dangkal tempat itu merupakan firdaus bagi penduduknya…”.

Kota Jayapura. (Eveerth Joumilena / lintaspapua.com )

Jumlah penduduk Kota Jayapura sekarang kurang lebih adalah 498,608 jiwa, yang mendiami Kota Jayapura dengan luas kurang 94.000 ha. Lanskapnya bervariasi yaitu perbukitan, rawa-rawa dan hutan. Kota Jayapura terdiri dari 5 Distrik, yaitu Jayapura Utara, Jayapura Selatan, Hedam, Heram dan Muara Tami dan terdiri dari 45 keluarahan dan 14 Kampung dengan jumlah RT/RW sebanyak 1.203.

 

Kota Jayapura berbatasan langsung dengan Negara Papua New Guinea (PNG). Kota Jayapura adalah sebuah kota yang unik. Dalam sistem Pemerintahan Republik Indonesia, sejatinya, kota tidak boleh ada kampung di dalamnya. Semuanya harus kelurahan, tetapi mengapa di kota Jayapura terdapat kampung dalam kota? Menurut BTM, alasannya adalah “Ingin mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal di kampung-kampung tersebut, tatanan-tatanan, nilai-nilai budaya mereka tidak boleh hilang, tarian-tarian adat mereka, makanan khas di kampung tidak boleh hilang, ukiran-ukiran mereka di kampung-kampung tidak boleh hilang. Itulah sebabnya, saya mempertahankan kampung di dalam kota”.

 

Kota Jayapura memiliki 90 jumlah paguyuban/kerukunan. Terdapat 34 denominasi gereja; ada 157 Mushola & Masjid di kota Jayapura; juga ada Vihara dan Kuil/Pura. Dalam pemikiran BTM, Kota Jayapura hendak diwujudkan menjadi satu kota yang aman.

 

Dalam imajinasi teologisnya, Jayapura sebuah kota yang damai bagi semua orang, sebagai Kota Tebu “Taman Eden Buatan”, oleh karena terinspirasi dengan Taman Eden. Di Taman Eden itu terdapat sungai-sungai yang mengalir indah, di kota Jayapura juga ada sungai-sungai yang mengalir ke Teluk Yotefa.

Wali Kota dan Wakil Wali Kota Jayapura, Dr. Benhur Tomi Mano, MM dan Ir. H. Rustan Saru MM. (Humas Setda Kota Jayapura)

Benhur Tommy Mano Pemimpin pluralis dari Negeri Matahari Terbit. Sisa tulisan ini akan mengeksplor kiprah BTM, yang membuatnya pantas disebut sebagai “pemimpin pluralis dari negeri matahari terbit”. Sebagai putra asli Port Numbay, yang memimpin kota untuk priode ke-2 (2017-2022), BTM telah dan sedang bekerja keras menjaga kerukunan dan toleransi kota Jayapura agar warga kota bisa bekerja dengan tenang dan mencapai kesejahteraan.

 

 

Kondisi toleransi yang relatif stabil atau tidak adanya konflik agama di Kota Jayapura, menurut penulis, adalah salah satu catatan keberhasilan BTM, yang mesti diketahui dan patut diapresiasi tinggi. Untuk mendukung toleransi, melalui kebijakannya Pemerintah Kota Jayapura telah dan sedang menyalurkan bantuan pembangunan keagamaan kepada seluruh umat.

 

Secara rutin, setiap tahun dianggarkan bantuan bagi pembangunan rumah ibadah dan juga perayaan-perayaan hari besar keagamaan, seperti idul fitri, natal dan lain-lain. Selain itu, beliau melakukan safari Ramadhan ke masjid-masjid di kota Jayapura. Sebagai tambahan, BTM datang mengunjungi masjid/mushola dan melakukan buka puasa bersama, sekaligus melihat dari dekat perkembangan masjid/mushola, yang jumlahnya mencapai 157 masjid/mushola.

Demikian juga, pada Hari Raya Natal, Pemerintah Kota Jayapura melakukan safari Natal ke gereja-gereja, baik Protestan maupun Katholik, di mana terdapat 34 denominasi gereja di kota Jayapura. Di hari Raya Natal pemuda-pemuda Muslim menjaga gereja yang akan melakukan ibadah Malam Kudus dan pada sebaliknya pada saat Sholat ‘Id pemuda-pemuda Kristen menjaga beberapa titik-titik tempat umat Muslim menjalankan sholat tersebut. Inilah potret toleransi nyata yang semestinya bisa direplikasi di tempat-tempat yang luntur toleransi beragamanya.

 

Pemerintah kota membantu lembaga-lembaga keagamaan di kota Jayapura. Secara khusus, juga membantu pengadaan baju batik Port Numbay untuk Muslim yang akan menunaikan ibadah Haji setiap tahunnya, untuk mempromosikan batik khas Papua kepada negara-negara luar dan juga Indonesia secara khusus. Selain itu, membiayai Muslim untuk umroh ke Mekkah dan ke tanah perjanjian Israel bagi penganut Kristen.

 

Sebagai tambahan, pemerintah melaksanakan lomba-lomba keagamaan di kota Jayapura dan juga Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), Pesparawi di tingkat kota Jayapura, ada juga lomba-lomba kebersihan rumah-rumah Ibadah dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia, HUT Kota Jayapura, dan juga Umat Nasrani terus melakukan Seminar Kebangkitan dan Kebangunan Rohani (KKR) diseluruh wilayah kota Jayapura dan Umat Muslim melakukan Tabligh Akbar yang disponsori oleh Pemerintah Kota.

Foto bersama dengan Wali Kota Jayapura dalam suasana 93 pasangan suami istri beragama Islam dinikahkan secara massal di Gedung Aula Sian Soor Kantor Wali Kota Jayapura, Rabu (6/3/19). (Ardiles / lintaspapua.com )

Sementara itu, nikah pencatatan sipil diberikan gratis untuk seluruh umat setiap tahun, ang dilakukan dalam rangka HUT Kota Jayapura. Tahun 2016, misalnya, tercatat sekitar 300 pasangan suami-isteri dari umat Kristen Protestan/Katholik dan untuk Muslim sekitar 200 lebih pasangan suami-isteri yang akan mengikuti nikah pencatatan sipil. Hingga tahun 2018 Dan setiap tahun juga dilaksanakan khitanan/sunat massal bagi seluruh warga Kota Jayapura dan juga komunikasi-komunikasi lain yang dilakukan dalam bimbingan umat dikota Jayapura ini.

 

Untuk menjaga temperatur kerukunan dalam derajat yang aman, Pemkot telah membentuk Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan membentuk Persatuan Gereja-Gereja se-kota Jayapura (PGGS) dengan menyiapkan pendanaan dan fasilitas kantor, meskipun masih belum ideal dalam bentuk jumlah. Selain itu, juga ada Majelis Ulama se-kota Jayapura dan juga setiap tahun melakukan Coffee Morning, bersama pimpinan-pimpinan umat, paguyuban, kerukunan-kerukunan dan juga seluruh stakeholder di kota Jayapura.

 

Secara khusus, FKUB Kota Jayapura, yang didukung dana oleh pemkot, telah berhasil tampil sebagai penjaga gawang moral umat beragama di kota Jayapura. Semua kompleksitas perselisihan dan masalah seputar umat, baik level interen dan eksteren antara umat beragama secara relatif mampu diselesaikan dengan baik pada tingkat FKUB Kota. Pak Walikota menceritakan dalam suatu acara bahwa sebelumnya pernah terjadi ada orang Muslim yang dipanah oleh orang Kristen menjelang sholat Subuh pada suatu masjid, dan kejadian itu bisa diselesaikan dengan baik oleh FKUB kota Jayapura. Beberapa tahun lalu, dengan pembiayaan Pemkot FKUB melakukan kunjungan balasan kerukunan ke kota Surabaya. Singkatnya, setiap tahun FKUB kota memiliki agenda kunjungan studi banding untuk sharing pengalaman kerukunan dengan kota lain yang mengunjungi Negeri Matahari Terbit.

Wali Kota Jayapura, Dr. Benhur Tomi Mano, MM., Menari Menabuh Tifa Bersama Warga Kampung Kayu Batu Dalam Peresmian Para Para Adat. (Foto Humas Setda Kota Jayapura)

Dalam rencana Tablig dan Pawai Akbar Tegakkan Khilafah, acara besutan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di PTC Entrop, 9 Mei 2015, BTM, dengan rekomendasi moral dari FKUB Kota Jayapura, telah menelpon pihak berwenang untuk membatalkan acara yang meresahkan dan memperkeruh toleransi tersebut.

 

 

 

Mungkin karena itu pula, penulis mendengar beliau telah dianugerahi gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) dari Keraton Surakarta, yang salah satu kriterianya adalah pengayom kerukunan bagi warganya, meski beliau tidak sempat menerimanya dalam perhelatan keratin karena berhalangan.

 

Info terakhir juga dari pak Dr Eko Siswanto, pegiat kerukunan dari FKUB Kota Jayapura, dosen IAIN Fattahul Muluk Papua, telah memberitakan ke penulis bahwa BTM akan mendapatkan harmony award, oleh karena ketokohan beliau menjaga toleransi di kota, yang hingga tulisan ini dibuat belum terealisir.

 

Karenanya, poin utamanya adalah sikap pluralis beliau adalah teladan untuk terciptanya kota Jayapura sebagai kota toleransi beragama. Demikian halnya, dengan respons positif dan kepekaan beliau yang telah membentuk tim dari pihak Muslim menemui Jafar Umar Thalib (JUT) untuk membuat kotanya aman dari kehadiran JUT dan santri-santrinya di Koya, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura.

 

Sebagai tambahan, ketika pecah keributan antara orang Papua dengan pendatang akibat pembunuhan seorang warga tengah malam buta BTM mengajak kapolres untuk mengamankan situasi dari amukan konflik komunal.

Wakil Wali Kota Jayapura Ir. H. Rustan Saru, MM., saat berikan imunisasi pada pencanangan imunisasi Measles dan Rubella (MR) di Taman Yos Sudarso. (Elsye / HPP)

Perwujudan toleransi di kota juga tercermin melalui semboyan kota Jayapura Hen Tecahi Yo Onomi T’mar Ni Hanased (Satu hati membangun kota demi Kemulyaan Tuhan) yang pemberlakuannya dengan Perda No. 6 Tahun 2013.

 

Motto itu hakikatnya adalah “kearifan lokal” yang telah hidup di masyarakat Port Numbay, yaitu bagaimana membangun nama besar atau untuk kemulyaan ondoafi. Berasal dari bahasa Tobati Enggros dan Nafri/Sentani, motto itu dimaksudkan untuk motivasi membangun kota demi kemulyaan Tuhan. Kira-kira dalam Islam disebut “Baldatun Toyyibah wa Robbun Ghafur” (kota yang baik dalam ampunan Tuhan). Ia menjadi visi, inspirasi dan semangat yang bisa mengikat kepaduan dan kerukunan antar iman yang ada di kota Jayapura. Tidak mengherankan, kita bisa melihat adanya toleransi dalam bentuk bangunan rumah ibadah yang berhadap-hadapan, seperti masjid dan gereja di Hamadi, yang mengokohkan kota Jayapura sebagai kota beriman.

 

BTM sangat peduli pada kepatuhan warganya kepada Tuhan. Beliau menyampaikan, “Saya ingin masyarakat yang tinggal di kota Jayapura adalah masyarakat yang takut kepada Tuhan; masyarakat yang bertakwa kepada Tuhan; yang menjalankan ajaran agamanya dengan baik. Hari minggu umat Kristen pergi ke gereja, hari Jumat umat Muslim ke masjid untuk salat dan juga agama-agama yang lain dengan visi Kota Beriman. Saya ingin di kota Jayapura tidak ada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), tidak ada masyarakat saya memakai narkoba, miras. Kita harus hidup rukun dan damai di kota ini”.

 

Secara keseluruhan, BTM telah meletakkan legacy untuk terjaganya kerukunan dan perdamaian di Kota Jayapura, bagi siapapun yang memimpin kota Jayapura di masa depan, setelah periode ke dua kepemimpinan beliau. Bahkan, mungkin sekali beliau dengan kelebihan sebagai tokoh pluralis sangat berpotensi untuk memimpin Provinsi Papua ke depan, jika Tuhan menghendaki (insha Allah).

 

Penulis, Ridwan al-Makassary. (Foto Pribadi)

Dalam hal ini, BTM adalah sosok teladan pemimpin pluralis dari Negeri Matahari Terbit yang bisa jadi inspirasi untuk kota-kota yang masih bermasalah dengan intoleransi Pungkasannya, penulis terngiang-ngiang ucapan pak Walikota, di salah satu Coffe Morning dengan muspida sekota Jayapura, bahwa “Orang kalau mau belajar Toleransi Beragama datanglah ke Port Numbay (kota Jayapura), Negeri Matahari Terbit, di ujung timur Indonesia”.

*) Penulis adalah   Pegiat Damai Papua dan Co- Koordinator Jaringan Antar Iman Indonesia (JAII) wilayah Papua dan Papua Barat.