ANCAMAN NYATA RADIKALISME DI PAPUA

0
1216
Paskalis Kossay. (http://www.jurnaltimur.com)

Oleh :  Paskalis Kossay

Peristiwa pengerangan rumah keluarga Hanok di Koya Barat Distrik Muara Tami Kota Jayapura ( 27/2/2019 ) menunjukan bukti radikalisme SARA Sedang berkembang luas ditanah Papua.

Kita tidak bisa pungkiri motif prnyerangan dirumah korban ini adalah Sara. Sudah terang benderang dari pandangan kita semua bahwa sebab pemicu dilakukan penyerangan oleh karena merasa terganggu suara keras lagu – lagu rohani yang diputar dirumah korban.
Dengan demikian pihak kepolisian tidak bisa mengalihkan isu peristiwa ini ke isu lain isu kriminal. Dari motif penyerangan sudah jelas yaitu menyerang untuk menghancurkan properti milik kotban yang dianggap terganggu pelaksanaan sholat subuh. Bukan bermotif ingin merampas harta korban.

Dari esensi motif penyerangan tersrbut diatas sudah jelas bahwa masalah penyerangan koya barat termasuk masalah SARA. Polda Papua hendaknya jangan buru – buru mengambil kesimpulan motif masalah ini keranah lain ranah hukum kriminal.

Seluruh rakyat Papua sudah lama tahu dan menjadi resah keberadaan kelompok ini. Sudah berkali – kali diminta kepada pemerintah daerah khususnya Pemda Keerom supaya segera diambil tindakan tegas pulangkan Ustadz Jafar Umar Tholib dan kelompoknya ini kedaerah asal mereka.

Namun Pemda Keerom terkesan melindungi kelompok ini berkembang disana . Dibiarkan berkembang , menguasai lahan 28 hektar dibangun pondok pesantren disana. Seluruh rakyat Indonesia tahu kelompok Jafar Umar Tholib ini kelompok Islam garis keras ( radikal ) yang memiliki track record merah dalam isu Sara di Indonesia.
Sudah menjadi rahasia umum kelompok Jafar Umar Tholib adalah islam radikalis yang paling berbahaya di Indonesia, akan tetapi sungguh aneh Pemerintah Daerah tidak pernah merespon segera merespon desakan rakyat pulangkan kelompok ini kembali kedaerahnya.

Jika pemerintah daerah memiliki niat baik untuk menjaga stabilitas keamanan umat beragama dipapua , sebenarnya kasus ini menjadi alasan kuat untuk segera pulangkan kelompok ini kedaerah masing – masing.

Polisipun tidak boleh tergesa – gesa menyimpulkan motif kasus ini tidak isu Sara. Jangan bermain kata mengalihkan isu ke isu lain tak ada kaitannya sama sekali . Kita perlu pertanyakan , punya motif apa polisi bisa menyimpulkan kasus dikoya barat ini bukan isu Sara ? Polisi mesti menjelaskan kepada publik bukti apa yang ditemukan polisi sehingga disimpulkan bukan isu Sara.

Polisi jangan main api, selidiki baik dan ungkap motif kasus ini sesuai fakta yang dilihat banyak orang. Sudah lama sejak 2003 , para tokoh – tokoh agama di tanah papua ( papua dan papua barat ) mendeklarasikan tanah papua sebagai tanah damai.

Deklarasi tersebut masih relevan dengan kasus – kasus seperti Koya Barat ini. Setiap gejala yang merusak kerukunan umat beragama ditanah papua mestinya segera diusir keluar dari tanah yang sudah ditahbis menjadi tanah damai ini.

Sejak nenek moyang kita , tidak pernah ada pertentangan umat beragama. Kita hidup aman berdampingan antar sesama umat beragama. Perbedaan agama tidak pernah menghalangi hubungan dan interaksi sosial dan budaya antar sesama kami orang papua. Biarpun secara religius dalam satu keluarga bisa menganut beda agama.

Oleh karena itu ada ajaran agama tertentu yang beraliran radikal harus diusir dari tanah damai ini. Ditanah penuh damai ini hanya dikenal agama – agama tua , yaitu Kristen Protestan, Katolik dan Islam terutama dua ormas besar yaitu NU dan Muhamdyah. Kedua Ormas besar Islam ini sangat berperan besar membangun peradaban baru orang papua bersama – sama dengan gereja – gereja Kristen dan Katolik .

Selain agama tua tersebut diatas ini kita wajib mewaspadai kehadirannya disini. Misi kehadirannya apa . Datang ikut membangun papua atau datang merusak papua. Kehadiran kelompok JUT Ini sudah , datang kesini bukan untuk membangun papua melainkan merusak . Karena itu harus diusir paksa untuk segera angkat kaki keluar dari tanah papua.

Polisi dan juga pemda jangan main – main dengan kehadiran kelompok ini. Gunakan landasan moral deklarasi para tokoh agama yang dijadikan tanah papua sebagai tanah damai itu untuk bertindak tegas kepada penyebar aliran radikal yang coba mau bangun di Papua.

Kelompok JUT ini sudah jelas kelompok radikal yang bertujuan mau mengobrak abrik kedamaian ditanah papua. Pemerintah Daerah dan pihak tidak pakai perasaan toleransi , sikat tegas . Kalau dibiarkan apalagi dikomporomikan pasti mereka merasa diberikan ruang bergerak lebih bebas menyebar luaskan ajaran radikalisme itu kepada generasi orang Papua.

Polisi jangan ragu keberadaan kelompok radikal ini. Walaupun konon katanya, keberadaan kelompok JUT ini di back up oleh orang – orang dari Jakarta maupin didaerah.
Pernyataan Kapolda Papua yang menyatakan peristiwa penyerangan koya barat bukan isu sara, sudah jelas kelihatan pengaruh orang kuat yang membsck up kelompok JUT tersrbut mulai mempengaruhi kerja polisi dalam penyelidikan kasus koya barat tersebut.

Siapa sebenarnya orang kuat yang memback up keberadaan JUT ini masuk disini ( Arso 14 ) . Jika dicermati baik konstelasi politik nasional selama ini ada dua kekuatan besar yang mempengaruhi konstelasi politik nasional. Satu kekuatan radikalis dan satunya lagi kekuatan moderat nasionalis. Dari dua peta kekuatan ini kita bisa baca dengan jelas para tokoh nasional ini ada pada kekuatan mana. Tanpa disebut nama saja sudah kelihatan orientasi politik mereka.

Pengaruh kuat para tokoh dipusat itu mempengaruhi para tokoh didaerah supaya dilindungi kebersdaan kelompok radikal ini untuk berkembang subur didaerah ini. Meraka tentu punya tujuan dan target tertentu terhadap papua dalam pemerintshan di Republik ini. Tetapi yang rusak dan rugi adalah kami rakyat papua. Ulah radikalisme itu bisa meresahkan nilai – nilai perdamaian yang bersemi sudah ratusan tahun ditanah ini tanah papua.

oleh karena itu kita didaerah harus tegas dalam menghadapi pengaruh radikalisme ini. Pemda dan pihak kepolisian harus tegas menghadapi kelompok ini. Mesti ikuti desakan aspirasi rakyat. Bukan mrngamankan pengaruh orang kuat dipusat. Dampaknya jelas merusak nilai – nilai perdamaian ditanah Papua. (*)

(Penulis Mantan Anggota DPR dan Pengamat Pemerintah dan Politik Nasional )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here