SENTANI (LINTAS PAPUA)  –  Ada pepatah yang mengatakan bahwa ‘di ujung rotan ada emas’, itu adalah anggapan yang keliru atau tidak benar.

Karena menurut Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Jayapura, Dra. Maria Bano, jika orang tua selalu melakukan tindak kekerasan terhadap anak maka anak-anak akan tumbuh dengan trauma dan ketakutan.

 

“Pepatah itu tidak benar. Sudah tahu itu tidak benar, tapi masih saja ada orang tua yang melakukan kekerasan terhadap anak dengan alasan mendidik anak dengan keras,” kata Maria Bano, saat ditemui wartawan usai Seminar Sehari Perlindungan Anak yang dilaksanakan di Aula Lantai III Kantor Bupati Jayapura, Gunung Merah, Sentani, Kabupaten Jayapura, Rabu (27/02/2019) siang.

 

Dikatakannya, jika anak tumbuh dalam trauma dan ketakutan yang sama juga bisa saja dilakukan oleh anak tersebut ketika sudah berkeluarga dan memiliki anak nantinya.

 

Ditanyai wartawan soal jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan selama setahun terakhir, Maria Bano mentuturkan sepanjang tahun 2018 lalu pihak menangani 15 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

 

“10 kasus kekerasan terhadap anak dan 5 kasus kekerasan terhadap orang dewasa (perempuan). Ada yang dilanjutkan ke proses hukum ada juga yang dikembalikan ke keluarga” ujarnya.

 

Dijelaskannya, 15 kasus yang berhasil ditangani pihanya ini hanyalah sekian persen saja. Tetapi sesungguhnya ada banyak sekali kasus kekerasan terhadap anak di Kabupaten Jayapura.

 

“Sebenarnya banyak sekali tapi banyak juga yang tidak melaporkan itu, baik kepada kami ataupun pihak kepolisian. Kami melihat sangat tinggi kekerasan fisik terhadap anak. Menurut mereka (orang tua) memukul anak itu adalah hal yang biasa tetapi menurut undang-undang itu salah” jelasnya.

 

Oleh sebab itu, untuk menurunkan angka kekerasan terhadap anak saat ini pihaknya telah menjalin kerja sama dengan beberapa LSM untuk melakukan pendampingan terhadap seluruh masyarakat, khususnya yang berada di kampung-kampung.

 

“Selain bekerjasama dengan LSM, kami juga punya kader atau pendamping disetiap kampung. Untuk mendapingi korban kekerasan di kampung” tukasnya.

 

Lebih lanjut dikatakan Maria, kekerasan tidak mengenal waktu sehingga perlu komitmen untuk melindungi perempuan dan anak. “Jadi kita tidak bisa menghilangkan itu, kalau kita sepakat untuk menurunkan itu bisa, tapi dari sisi yang orang bilang diujung Rotan ada emas itu salah. Jadi kita akan kawal bersama-sama sehingga kita bisa bersama-sama memimalisir tindakan kekerasan terhadap anak” pungkas Maria Bano. (Irfan / Koran Harian Pagi Papua)