Aksi Pemalangan SD Onomi Flavouw, YPK Akui Telah Temui Bupati Jayapura

0
498
Siswa Siswi SD YPK Onomi Flafouw Sentani sedang beraktivitas belajar di Gereja GKI Onomi Flafouw Sentani. beberapa waktu lalusaat terjadi pemalangan. (Berto /Harian Pagi Papua)

SENTANI (LINTAS PAPUA) – Terkait dengan aksi pemalangan terhadap Sekolah Dasar (SD) Onomi Flavouw yang dilakukan oleh pemilik lahan ini, maka pihak Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) mengakui telah menemui Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, S.E, M.Si.

Demikian dikatakan Ketua Badan Pengurus – Yayasan Pendidikan Kristen (BP-YPK) Tanah Papua, Dr. Nomensen Mambraku, ketika dikonfirmasi wartawan usai dirinya bersama dua rekannya menemui Bupati Jayapura, di Lobby Kantor Bupati Jayapura, Gunung Merah, Sentani, Kabupaten Jayapura, Senin (11/2/2019) siang lalu.

“Dengan adanya pemalangan ini, kami telah menemui Bupati Jayapura Mathius Awoitauw. Dan, pak Bupati sudah bersedia untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan para pemilik tanah secara bertanggungjawab serta secara kemanusiaan, baik kepada pihak kelompok pemilik tanah dan juga kami di yayasan,” akunya.

“Maka itu, dalam waktu dekat ini kami akan menyerahkan berkas-berkas yang kami punya kepada pak Bupati untuk  dipelajari oleh beliau saat mengambil kebijakan nantinya,” sambung Nommensen Mambraku.

Terkait pemalangan sekolah tersebut , menurut pengakuan Nommensen, bahwa aksi ini adalah yang kesekian kalinya terjadi.

Dirinya juga mengaku, bahwa saat ini pihaknya tengah mencari format penyelesaian yang baik dengan semua pihak yang berkepentingan dengan lokasi berdirinya sekolah tersebut saat ini.

“Dua Tahun lalu masalah ini sudah sampai ke kami, dan saya sudah turun langsung. Tetapi, disitu ada dua kubu yang bersilang kepentingan, sehingga kalau saya menyelesaikan pada satu kelompok pasti kelompok yang satu akan komplain,” urainya.

Nommesen mengungkapkan pada pertemuan dua tahun lalu di Obhe (Rumah Adat Suku Sentani) dengan keluarga besar Yoku, dirinya sudah meminta kepada Franz Alberth Yoku selaku Ondo di Kampung Ifar Besar agar dapat merangkul dua kubu yang berseberangan untuk menyelesaikan masalah ini secara internal.

“Setelah selesai secara internal baru hasil dari pembicaraan itu dibawa ke YPK untuk kami melihat, guna mencari jalan keluar untuk memecahkan permasalahan ini  dengan perhitungan-perhitungan dasar,” imbuhnya.

Dirinya juga menuturkan bahwa YPK bukanlah organisasi yang mengejar profit semata. Tetapi, YPK adalah lembaga swadaya masyarakat yang berkembang atas dasar kemanusiaan untuk pelayanan sosial.

Nommesen kembali mengungkapkan bahwa kedua belah pihak ini memiliki tujuan yang sama hanya saja ada posisi mereka saja yang berbeda,  sehingga pihaknya tidak bisa menyelesaikan permasalahan ini sepihak saja.

“Mestinya, kedua belah pihak ini duduk bersama-sama baru diselesaikan. Itu juga sudah saya laporkan kepada pak Bupati sebagai penguasa di Kabupaten Jayapura,” imbuhnya.

Dijelaskan, SD YPK Onomi ini dahulunya berada di Ajau. Berdasarkan pertimbangan keluarga besar Yoku pada masa itu, sehingga Ondoafi Besar Yoku meminta sekolah itu dipindahkan dari Ajau ke Flavouw karena jaraknya terlalu jauh.

“Dengan tanah yang diserahkan oleh keluarga Yoku pada waktu itu. Sehingga pada penyerahan tanah waktu itu tidak ada penyelesaian dan pembicaraan soal teken gift memberi dan menerima. Karena waktu keluarga Yoku memberikan tanah itu kepada YPK untuk membangun sebuah lokasi disitu untuk kependtingan pendidikan anak-anak mereka,” jelasnya.

“Paradigma seperti ini adalah paradigma yang biasa saja pada masa lalu. Tetapi, paradigma seperti itu akan berubah pada masyarakat modern. Jadi sampai saya menjabat sebagai ketua BP-YPK memang tidak ada proses penyelesaian pembayaran tanah di wilayah itu. Karena memang tidak pernah dibicarakan sebelumnya dengan YPK. Yang mana, dibicarakan adalah bagaimana YPK punya sekolah, sehingga anak-anak bisa mengikuti semua proses belajar mengajar,” sambungnya.

Lebih lanjut dikatakannya, dirinya sudah dua kali bertemu dengan Franz Alberth Yoku untuk membicarakan hal ini, karena ini untuk kepentingan sekolah anak-anak yang menjalani pendidikan di sekolah tersebut.

“Saya selesaikan,  kalau saya sudah bilang ‘A’ ya A dan saat saya bilang finis maka finis tidak pernah tertunda-tunda ibarat tali saya taru diatas kayu dan saya potong sekaligus putus. Dan Albert Yoku tahu sikap saya tetapi yang satu ini tidak bisa karena ada dua kubu yang silang kepentingan dan beliau disitu saya minta sebagai ondoafi besar harus menyelesaikan masalah ini. Jangan serahkan masalah ini ke YPK karena YPK tidak ada kepentingan tentang itu. Saya dengan Beliau ngomong begitu” tambahnya.

Menurutnya, apabila pemalangan ini terus berlarut-larut maka yang akan jadi korban bukanlah pihak YPK ataupun keluarga besar Yoku tetapi adalah anak-anak peserta didik.

“Jadi pak Yoku sebagai seorang pimpinan besar ya, harus bertemu dengan saya lalu bicara agar konsisten. Sampai hari ini persoalannya menggantung, mengantung bukan di YPK tapi di Bapak Frans Albert Yoku. Sampai saat ini masih dipalang dan anak-anak sekarang belajar di gereja” tukasnya.

Ditanyai soal tutuntan, Dr. Nomensen Mambraku, menuturukan bahwa nilai yang dituntut oleh Frans Alberth Yoku adalah sebesar Rp. 600. 000.000,- tetapi pihak yang kedua menuntut kepada pihaknya sebesar sebesar Rp. 4.1 Miliar.

“Jadi ini kamu harus sama sama duduk baru bicara itu saya mau mereka harus bicara secara terbuka supaya semua orang mengerti persoalan persoalan seperti itu. Sebagai seorang ondo beliau harus bicara tegas kepada bawahannya kalau kita sudah putuskan begini itu gini jangan sudah diputuskan begini satu datang dengan cara yang lain” jawabnya.

“Yang dulu mengajukan sekolah ini adalah orang-orang kita disitu dan sebagai tanggung jawab yayasan wajib melaksanakan itu karena orang tua kita dulu menyerahkan tanah untuk pembangunan sekolah itu supaya anak-anak mereka dididik disitu. Singkat saya memang tanah itu belum pernah kita bayar karena sejak tanah itu diserahakn oleh orang tua tidak pernah dibicarakan berapa banyak uang yang harus dibayarkan untuk tanah itu” pungkas Nommensen Mambraku. (Irfan / Koran Harian Pagi Papua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here