Renungan Harian : KEKUATAN INJIL MENJANGKAU GENERASI MILENIAL

52
Anthonius M Ayorbaba, SH, M.Si. (Kakanwil Kemenkumham Papua Barat), dalam sebuah kegiatan pelayanan. (Foto Pribadi)

Oleh  : Anthonius M Ayorbaba, SH, M.Si. (Kakanwil Kemenkumham Papua Barat)

 

Tanggal 5 Februari 2019 merupakan momentum paling dikenang di seluruh dataran Tanah Papua. Mengapa? Tentu saja, ada alasan bahwa hari ini dipandang sebagai momentum strategis yang memberi dampak bagi kehidupan di atas tanah Papua.

Yah, tanggal 5 Februari bagi orang Papua adalah sebuah peristiwa yang memberi “jalan baru” bagi siklus kehidupan baru dan membuat Papua dilirik “dunia” luar. Dahulu, kehidupan di Papua diwarnai dengan hukum rimba, dan setiap suku hidup dalam keterisolasian dengan suku lain, saling serang dan mempertahankan dirinya sendiri dan komunitas dalam lingkup yang sangat terbatas (Baca : mengayau dan meramu). Berbagai cerita menakutkan dan kondisi ketika itu membuat Tanah Papua bagai “daerah” yang terlupakan dalam lintasan sejarah dunia. Wilayah ini sepi dari kehadiran “dunia barat”.

Ia hidup dengan dirinya sendiri, dan jauh dari peradaban modern.  Namun Allah tetap mengasihi ciptaanNya meski dunia melupakannya.  Seperti dikatakan dalam Kitab Roma 1:16  bahwa Injil itu KEKUATAN ALLAH (The Power of God). Allah memiliki kekuatan maha dasyat. Kekuatan ini yang mampu merobah dunia. Hal ini telah terbukti. Dimana  Tanah Papua yang dahulu begitu menakutkan bagi bangsa-bangsa di dunia (baca: utamanya pada penjelejah dunia) tetapi hanya karena Injil Yesus Kristus saja, daerah ini dapat ditaklukkan.

“Dunia” telah mencatat dengan tinta emas dan mengenangnya sebagai Sejarah Peradaban Orang Papua.  Telah banyak buku ditulis (red—untuk mengenang sekaligus menjadi bukti jika kita baca) oleh para Antropolog dunia seperti Yan Boolars, maupun antropolog tanah air sekelas Koentjaraningrat dan Harsja Bachtiar dalam bukunya Penduduk Irian Barat atau Tulisan PIM School (editor) buku Belanda di Irian Jaya), yang menjelaskan bahwa bangsa-bangsa dengan tingkat pengetahuan tinggi seperti Inggris yang pernah mencoba membangun benteng di Doreh Baai (teluk Manokwari) pada tahun 1793, tetapi harus meninggalkannya pada dua tahun kemudian yakni 1795 karena sikap permusuhan dari penduduk setempat.

 

Demikian pun bangsa Belanda setelah itu, juga pernah mencoba membangun benteng di daerah Selatan Papua sekitar tahun 1828, dengan bentengnya yang terkenal yakni Benteng Du Bus, tetapi benteng itu akhirnya harus ditinggalkan pada tahun 1835 dengan korban di pihak Belanda sebanyak 110 prajurit (termasuk di dalamnya10 perwira) tewas di sana.

 

Padahal sejak 1828 Belanda telah mengklaim Tanah Papua sebagai milik Kerajaannya. Belanda terpaksa meninggalkan benteng Du Bus dan mencari tempat lain utk mendirikan benteng, namun tetap gagal alias tidak terwujud.

 

Nah, setelah kedua Rasul Papua Car William Ottow dan Johan Gottlob Geissler hadir membawa INJIL ke Tanah Papua tepat nya di Pulau Mansinam pada Minggu dini hari pada 5 Februari 1855, (red— sekitar 164 tahun yang lalu sampai hari ini) barulah pada tahun 1898, setelah 43 tahun setelah INJIL hadir di tengah Orang Papua barulah Belanda berani membuka  pos pelayanan pemerintahan pertama di Fakfak dan Manokwari. Hal ini dapat dimaknai bahwa walaupun negara-negara sang penakluk dengan kekuatan teknologinya yang terhebat dan perlengkapan perangnya yang mumpuni tetapi semua upaya dan rencananya gagal.

 

Hanya INJIL yang di dalamnya terpancar Kasih Kristus, itulah yang dapat menaklukkan, menawan dan memenangkan Tanah dan Hati Orang Papua. Semua karena anugerahNya, dan karena INJIL adalah Kekuatan ALLAH yang mampu menyelamatkan manusia. Artinya apa, bahwa Papua dimenangkan bagi Kemuliaan Kristus oleh karena kekuatan berita Injil.

 

Jika hari ini, kita dapat merayakan momentum yang sangat strategis ini sesungguhnya hanyalah Kasih Karunia Allah bagi kita. Kita patut menaikkan syukur bagi Allah karena ini semua adalah inisiatif Allah untuk mencari dan menyelamatkan orang Papua.

 

Allah sangat mengasihi orang Papua sebagai ciptaanNya yang mulia dan sangat berharga sehingga dengan karya dan desainnya yang sulit dibayangkan logika manusia, Allah  menggerakkan kehendakNya dan memilih dari sekian juta penduduk dunia, ia memilih Ottow dan Geisller untuk menjadi Rasul Papua.

 

Momentum ini, seharusnya menjadi permenungan umat Tuhan di atas tanah ini (baca : dari generasi ke generasi) bahwa apa maksud Allah dengan semua ini. Thema sentral dalam perayaan ini : pergilah jadikan semua bangsa muridKu. Tema ini menarik dan menjadi sebuah perintah yang harus dilanjutkan oleh semua umat Tuhan yang percaya akan kuasa dan Kasih Yesus Kristus.

 

Mewartakan kasih dan kemurahan Tuhan dengan memanfaatkan seluruh potensi sumber daya yang ada. Potensi Sumber daya manusia, sumber daya finansial, sumber daya sistem, dan kebijakan-kebijakan termasuk berbagai regulasi yang dapat dibuat untuk menyambung amanat agung ini bagi bangsa-bangsa.

Dahulu, sebelum para Zendeling hendak meninggalkan Papua, ada kalimat sederhana  yang diucapkan Dr F.C. Kamma bahwa barang siapa menyebut Papua maka Ia menyebut Injil. Hal ini dikarenakan Tanah Papua, telah ditebus dengan darah Kristus, artinya bahwa Doa Sulung Kedua Rasul sesaat ketika menginjakan kakinya untuk pertama kali di tepi pantai Pulau Mansinam keduanya berdoa seraya mengucapkan credo “ Dengan nama Tuhan Kami Menginjak Tanah ini”. Credo ini kemudian menjadi semacam doa sulung untuk mengurapi seluruh mahluk dan seisi bumi di atas negeri yang indah ini. Doa ini bagai sebuah berkat yang membungkusi seluruh isi negeri ini dengan berkat urapan dan kasih karunia.

 

Tak heran sampai hari ini semua orang menjadikan negeri ini sebagai “surga” yang dijanjikan itu. Namun persoalannya tidak sesederhana yang dibayangkan keduanya. Karena berbagai hambatan dan gangguan datang silih berganti. Kisah-kisah awal tentang pendaratan injilpun tidak sepi dari “gelombang tsunami”.

 

Artinya bahwa momentum pekabaran injil bukan berjalan mulus dan tanpa masalah. Berlaksa-laksa masalah menghantam para penyiar dan pekabar injil di atas negeri ini. Sehingga tanah ini dapat terbuka bagi peradaban manusia. Injil mempersatukan suku-suku yang bertikai, injil juga mempertemukan orang Papua dengan penduduk dari luar. Injil adalah kekuatan Allah yang mendamaikan orang dari berbagai belahan dunia dengan berbagai keperbedaan diantara mereka. Saat ini tumbuh banyak organisasi gereja dengan paham dan dogmatika yang satu dengan lainnya berbeda, namun tetap meyakini dan mengusung tema yang sama yakni keselamatan manusia dari hukuman kekal hanya ada dalam Yesus Kristus.

 

Dari berita injil lahirlah pemerintahan yang diawali dari Pemerintahan Belanda sampai masuk pada pemerintahan saat ini. Bahkan di Tanah ini telah ada dua buah pemerintahan Provinsi yakni Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Walau berbeda provinsi namun dalam batas iman dan keyakinan adalah satu, di Tanah Papua Injil tetap diberitakan untuk kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.

 

Di era kekinian, Injil pun harus tetap diberitakan. Kalau dahulu para penyiar Injil mewartakan kabar keselamatan dan sukacita itu melalui sumber daya yang ada dan sangat terbatas, namun saat ini keterbatasan itu nyaris tidak ada. Teknologi modern telah merambah dunia. Era mesin uap telah berlalu, era mesin-mesin juga telah berlalu, kini kita diperhadapkan dengan era teknologi komunikasi dan teknologi yang nyaris mengubah dunia, teknologi yang diadaptasi dalam smartphone telah mengubah banyak hal.

 

Oleh sebab itu, gereja sebagai organisasi harus mampu beradapsi dengan perubahan global. Gereja tidak boleh terpengaruh apalagi hancur oleh kekuatan teknologi. Warga gereja tidak boleh berdiam diri apalagi menutup diri dengan kecepatan dan daya rambat teknologi. Sebaliknya gereja harus bangkit dan menghadapi tantangan global dan segera beradaptasi dengan lingkungan global yang berubah secara cepat.

 

Itu sebabnya dalam momentum perayaan pekabaran Injil ini, setidaknya gereja menyadari akan laju perkembangan zaman dan era industri 4.0. sehingga dengan kehadiran era digitalisasi ini gerejapun harus menyesuaikan diri (red—yakni penguasaan teknologi dan sistemnya). Proses pekabaran Injil pun harus bisa dilakukan dengan memanfaatkan kekuatan teknologi.

 

Pekabaran Injil adalah pekerjaan Allah yang suci. Allah sanggup menggunakan semua cara dan sarana untuk menyampaikan maksudNya, sehingga kita tidak boleh menggagalkan rencana Allah hanya karena tidak mampu beradaptasi dengan irama global. Gereja harus ikut andil dalam era globalisasi dengan memanfaatkan kekuatan teknologi untuk menjangkau generasi milenial.

 

Generasi milenial adalah sebuah generasi baru yang terlahir, hidup, bertumbuh dan berkembang di atas kekuatan teknologi modern, yakni teknologi informasi dan komunikasi. Kepada mereka harus diperkenalkan kabar dan berita sukacita. Sehingga mereka pun dapat mengerti dan mengenal Kasih Karunia Allah. Informasi tentang Kasih Kristus itu dari dulu sampai sekarang tetap sama, tidak pernah berubah. Yang berubah adalah “media” atau “sarana” yang digunakan dapat disesuaikan dengan kondisi dan keadaan.

Itu sebabnya untuk era kekinian, gereja perlu memainkan peran untuk menjangkau generasi baru, yakni Generasi Zaman Now dengan mengisi Berita Firman Tuhan dalam berbagai aplikasi teknologi sehingga generasi milenial ini dapat mengakses informasi Berita Anugerah dan Kasih Karunia itu sehingga mereka pun dapat merasakan jamahan kuasa ilahi yuang menembus segala ruang dan waktu.

 

Momentum perayaan ini menjadi titik balik bagi upaya penyebarluasan berita anugerah kepada semua mahluk. Gereja baik secara organisasi, persekutuan, keluarga dan pribadi-pribadi harus dapat mengevaluasi berbagai aspek yang terkait dengan pelayanan pekerjaan pekabaran injil di atas negeri ini. Sudah 164 tahun injil diberitakan di atas tanah ini. Apakah yang berubah dari orang Papua? Apakah orang Papua telah hidup sesuai dengan berita Injil yang diberitakan atau lebih mencintai hal yang lain?

Momentum ini menjadi bersifat strategis karena : Pertama, peristiwa hari ini dapat dijadikan “monumen” peradaban baru manusia Papua. Kedua, Injil yang adalah kekuatan Allah telah mengubah orang papua dan masuk pada sebuah era peradaban baru.

 

Ketiga, Orang Papua menjadi manusia yang sangat terbuka dan mampu menerima perubahan dengan sangat cepat. Keempat, dengan hadirnya berita injil melalui proses dan mekanisme Pekabaran Injil, hadir ratusan  denominasi gereja di Tanah ini yang nyaris menimbulkan konflik karena saling menuding “rebutan” umat. Itu sebabnya, setiap gereja harus saling menghormati dan menghargai, sehingga tidak terjadi konflik yang pada akhirnya mencoreng kemuliaan Kasih karunia hanya karena perbedaan yang tidak dipahami. Kelima, kiranya kata bijak Domine Izaac Samuel Kijne bahwa barang siapa yang bekerja dengan jujur, setia dan dengar-dengaran pada Firman Allah di Tanah ini, maka ia akan berjalan dari satu pendapatan heran yang satu ke pendapatan heran yang lain,, menjadi nyata dalam kehidupan kita. Keenam, kita boleh pegang kemudi atau kendali atas apa saja di tanah ini, tapi kita tidak dapat menentukan arah kehidupan dan masa depan yang Tuhan telah tentukan.

Semoga momentum 164 Pekabaran InjiL di Tanah Papua kali ini menjadi kisah sejarah yang memberi makna bagi setiap orang untuk merenungkan bahwa kedasyatan berita Injil mampu membawa perubahan positif di Tanah Papua. Hanya karena kasih Kristus segala perbedaan dapat dipersatukan dan kita menjadi berkat bagi orang lain yang berbeda dengan kita. * Tuhan Yesus Berkati.

(Dikutip dari https://papua-barat.kemenkumham.go.id/berita-kanwil/berita-utama/2582-kekuatan-injil-menjangkau-generasi-milenial )