KPA Provinsi Papua Berencana Bangun Pusat Rehabilitasi HIV – AIDS

92
Ketua KPA Papua, Yan Matuan saat diwawacara. (Irfan / HPP)

SENTANI (LINTAS PAPUA) – Dalam rangka memberikan rasa kepercayaan terhadap Orang Dengan HIV AIDS (ODHA), Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua berencana membangun pusat rehabilitasi di lima (5) wilayah adat yang ada di Provinsi Papua.

Hal itu disampaikan Ketua KPA Provinsi Papua, Yan Matuan, di Expo, Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Minggu (3/2/2019) pekan lalu usai acara pertemuan akbar Relawan KPA Papua.

Menurut Yan Matuan, untuk memberikan rasa percaya terhadap ODHA kepada pihaknya, maka pembangunan pusat rehabilitasi ini sangat penting. Karena selama ini ODHA tidak pernah diterima dengan baik oleh masyarakat.

“Untuk itulah mengapa tempat rehabilitasi ini akan dibangun KPA Papua di lima wilayah adat. Karena kami bermaksud membangun suatu rasa percaya kepada kami, sehingga mereka (penderita HIV/AIDS) bisa datang menemui kita sendiri. Tidak perlu lagi kita cari-cari, dan pembangunan pusat rehabiltasi ini nanti akan kita bahas dalam rapat kerja yang akan dilaksanakan di Grand Abe Hotel nanti saat DIPA sudah diturunkan,” ujar Yan Matuan.

Yan mengungkapkan, pusat rehabilitasi yang akan dibangun di lima wilayah adat ini meliputi Tabi, Saireri, Laapago, Meepago dan Animha.

“Kedepan juga kami akan membangun pusat rehabilitasi di setiap kabupaten/kota,” ungkapnya.

Selain membangun pusat rehabilitasi, Yan Matuan mengungkapkan, bahwa ada empat pokok tugas yang harus dilaksanakan oleh para relawan HIV/AIDS di Provinsi Papua.

Pertama adalah mempromosikan serta memberikan arahan hidup sehat kepada seluruh masyarakat di Provinsi Papua.

Dijelaskannya promosi hidup sehat ini dilakukan dengan tujuan agar mereka yang terinfeksi HIV/AIDS ini tidak putus asa untuk hidup.

 

“Selama ini ODHA selalu dikucilkan dan tersingkirkan. Dengan ini kami bermaksud membangun suatu rasa percaya kepada kami, sehingga mereka (penderita HIV/AIDS) bisa datang menemui kita sendiri, tidak perlu lagi kita car-cari,” tuturnya.

Tugas kedua adalah dengan melakukan upaya prefentif atau pencegahan-pencegahan, tugas ketiga adalah kuraitif.

“Kuratif ini lebih ke medis, baik dari melakukan tes dan segala macam itu lebih ke medis,” paparnya.

Tugas ke empat adalah rehabilitasi, menurut Yan Matuan, para penderita HIV/AIDS atau ODHA juga perlu diberikan jaminan.

Ketika ditanya wartawan apakah KPA Papua akan menggandeng Yulianus Mikan dari Kabupaten Boven Digoel yang mengklaim telah menemukan ramuan obat untuk menyembuhkan HIV/AIDS, Yan Matuan mengatakan bahwa pihaknya akan melakukan hal itu.

“Itu penting, karena dokter bilang ARV tidak bisa dijadikan jaminan untuk menyembuhkan penyakit ini. Karena ARV ini hanya untuk menghambat pertumbuhan virus. Sepanjang hidup manusia tidak mungkin minum obat ini sampai mati,” akunya.

“Jadi harus ada upaya lain, kita akan ajak beliau (Yulianus Mikan) untuk kerjasama dan dokter-dokter ini juga harus cari jalan dan minta hikmat sama Tuhan dan cari obat untuk sembuhkan AIDS. Jika ramuan yang dibuat oleh beliau (Yulianus Mikan) ini bisa menyembuhkan AIDS, maka obat ARV tidak perlu lagi,” tukasnya. (Irfan / Koran Harian Pagi Papua)