Sebagai Pangan Alternatif : Diana Widiastuti, Peraih Women Award Ajak Warga Papua Tanam Sorgum

0
1123
Diana Widiastuti (baju putih) saat berada di Timika Papua bersama mama - mama Papua. (Foto Istimewa)

JAKARTA (LINTAS PAPUA)  –  Diana Widiastuti, seorang pengusaha wanita dan juga penggiat tanaman sorgum di Indonesia mengajak masyarakat Papua membudidayakan tanaman sorgum sebagai upaya menambah ketahanan pangan, disamping pangan lokal yang sudah ada selama ini.

Menurut pengusaha yang bergerak di bidang industri pembuatan pakaian jadi (garmen) yang sukses meraih Woman Icon Summit dan Award 2017 untuk kategori tokoh inpirasi dan inovasi dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) dan Seven Media ini, tanaman sorgum dapat menjadi pangan alternatif bagi masyarakat Papua, terutama bagi mereka yang hidup pada daerah yang lahannya kurang subur untuk pertanian.

Diana Widiastuti saat berada di lahan sorgum. (Foto Istimewa)

“Intinya jika sorgum dapat ditanam lalu tumbuh dan bisa dipanen, ini bisa menambah kecukupan pangan bagi mereka yang mengalami kekurangan pangan dan menambah asupan gizi,” kata CEO PT Handal Cipta Sarana ini disela-sela diskusi lepas mengenai pentingnya budidaya tanaman sorgum, kepada lintaspapua.com di Jakarta, Rabu (15/1/2019).

Menurut pengusaha berparas cantik, energik dan kreatif yang telah mengunjungi beberapa daerah di Indonesia, termasuk Timika Papua dan negara Timor Leste guna mengkampanyekan pentingnya budidaya  tanaman sorgum untuk ketahanan pangan dan kemanusiaan, tanaman sorgum sangat mudah dibudidayakan karena tahan terhadap hama penyakit.

Selain itu tanaman sejenis serealia yang dapat dipanen dalam waktu 2-3 bulan ini memiliki keunggulan karena bisa tumbuh pada lahan tandus yang kurang subur. Karena itu cocok pada daerah seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) dan negara tetangga Timor Leste yang juga memiliki lahan tandus.

Dari pengalamanya selama ini, kata Diana Widiastuti, selain dapat diolah dan dikonsumsi sebagai bahan pangan alternatif yang sehat berupa beras dan tepung sorgum, tanaman ini juga dapat diolah menjadi aneka produk turunan. Misalnya, sirup, gula cair, kecap, bahan bakar alternatif bio ethanol, pakan ternak,  pelet/briket, serbuk ampas batang, pupuk organik, pestisida organik, komestik, hingga sapu sorgum.

 

“Sorgum juga punya manfaat kesehatan untuk kecukupan gizi penderita penyakit gula dan pengidap HIV-AIDS,” tutur wanita yang pernah beberapa kali mengunjungi Timiki Papua dan Timor Leste selain untuk berbisnis, juga mendorong pengembangan ekonomi masyarakat lokal lewat budi daya tanaman sorgum.

 

Lebih jauh kata Diana, dirinya selaku pengusaha dan pengrajin bersama kelompoknya yang sudah berpengelaman dalam mengelola tanaman sorgum sebagai produk makanan maupun produk lain, sangat terbuka untuk diajak bekerjasama dengan Pemerintah Daerah di Tanah Papua, LSM, dan komunitas lokal guna budi daya tanaman sorgum.

 

“Soal bisnis atau cari untung dari tanaman ini, itu urusan belakangan. Yang penting tujuan sosialnya masyarakat bisa makan, bisa kita berdayakan untuk kecukupan pangan dan gizinya lewat tanaman sorgum,” cetus wanita asal Jogjakarta yang kini berbisnis di Jakarta sambil membina sejumlah komunitas pembudidaya sorgum untuk tujuan kecukupan pangan dan kemanusiaan.

 

Selain beras, gandum dan jagung, tanaman sorgum yang memiliki nama latin ‘sorghum spp’ merupakan tanaman biji-bijian atau padi-padian (serealia) yang telah lama menjadi bahan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk dunia, terutama di Asia Selatan dan Afrika Sub Sahara.

Untuk Tanah Papua yang memiliki lahan yang luas dan subur, pengembangan lahan pertanian sorgum dapat diarahkan untuk menjadi bahan makanan alternatif tanpa mengganti bahan makanan pokok penduduk asli Papua yang telah dikonsumsi secara turun temurun seperti; sagu maupun ubi kayu/singkong (kasbi), keladi (talas) dan ubi jalar (betatas) yang termasuk dalam tanaman umbi-umbian.

 

Sebagai tanaman yang tidak terlalu banyak membutuhkan air atau pengairan secara teratur dan dapat tumbuh pada lahan tandus, sorgum juga dapat menjadi tanaman pengganti (konversi) lahan perkebunan sawit yang sudah tidak lagi produktif dan telah ditebang.

 

Di Indonesia tanaman ini dikenal sengan sejumlah nama lokal seperti; cantel, gandrung, buleleng dan lain-lain. Tanaman sorgum yang dikenal di dunia terdiri dari 30 jenis spesies dan dapat dibudidayakan secara luas pada berbagai jenis lahan pertanian, mulai dari yang subur hingga kurang subur. (Julian Howay / lintaspapua.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here