Oleh :  Rudi S. Kamri

Apabila kita membandingkan dua kontestan Pilpres 2019, kita seperti memperbandingkan sesuatu yang sejatinya memang tidak sebanding. Seperti membandingkan bumi dengan langit. Sangat njomplang. Sangat kontras. Yang satu selalu tersenyum penuh ketulusan, yang satu lagi sering menampilkan diri dengan wajah jengah, gundah dan pongah.

Yang satu menjejak karier sebagai pemimpin publik dari level bawah, mulai dari walikota, gubernur sampai menjadi Presiden. Dan semua jejak sejarahnya diukir dengan tinta emas, kerja keras dan hasilnya penuh kesuksesan.

Sedangkan yang satu lagi hanya punya pengalaman memimpin pasukan tempur dan tidak pernah sekalipun bersentuhan secara langsung dengan rakyat. Ada rekam jejak yang tidak bisa dihapuskan saat dia divonis bersalah oleh institusi TNI sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa penculikan aktivis mahasiswa pada tahun 1997/98. Kemudian dia dipecat dari kedinasan kemiliteran TNI. Dia telah menulis buku sejarah dirinya dengan tangan yang berlumuran darah.

Dalam perjalanan kepemimpinannya JOKOWI selalu menjalankan tugasnya dengan penuh AMANAH. Semua tanggungjawabnya dituntaskan dengan kerja keras dan berujung pada hasil yang luar biasa. JOKOWI adalah tipikal pemimpin pekerja keras dengan motto kerja, kerja dan kerja. Beliau mampu dengan ikhlas dan tawadhu menyerap aspirasi rakyat. Dan dengan sikap kesederhanaannya, JOKOWI juga seolah merepresentasikan kepentingan kita, rakyat Indonesia.

Di sisi lain, pesaingnya mempunyai tipikal yang temperamental dan mudah mengumbar AMARAH. Dia tidak akan pernah mampu menyerap keringat rakyat karena dia pada dasarnya selalu berjarak dengan rakyat. Sebagai contoh nyata, tempat tinggalnya dibangun bak istana yang begitu kontras, berbeda dan berjarak dengan masyarakat di sekelilingnya. Dia bersikap dan memposisikan diri layaknya seorang raja yang dikelilingi para pengawal yang tidak perlu harus bersentuhan dengan rakyat secara langsung. Rekam jejaknya bisa kita lihat selama ini, dia hanya menyapa rakyat pada saat mendekati Pemilu. Di luar kepentingan Pemilu, dia selalu mengambil jarak nyata dengan rakyat. Itulah realita yang harus diketahui oleh para pendukungnya.

JOKOWI dalam setiap kesempatan selalu mentransfer energi positif kepada rakyat. Dan di setiap langkahnya JOKOWI selalu memancarkan aura optimisme kepada seluruh rakyat. Agar kita menatap masa depan dengan penuh semangat dan penuh harapan.

Di sisi lain pesaingnya di setiap waktu selalu mentransfer energi negatif dan pesimisme. Dia selalu menghujat dan merendahkan bangsanya sendiri. Data-data palsu penuh kebohongan selalu ditebarkan. Dan dalam setiap pidatonya selalu memancarkan aura hitam pekat kepada bangsa ini. Akhirnya rakyat merasa diteror dengan ketakutan menghadapi masa depan.

Jokowi dan pesaingnya adalah sebuah PARADOKS. Memilih siapa diantara mereka yang lebih baik sebetulnya amat sangat mudah. Kita hanya tinggal menggunakan nalar yang sehat dan hati yang bersih. Kita pasti akan dengan mudah bisa memilih siapa yang PUTIH BERSIH dan siapa yang HITAM PEKAT.

Memilih JOKOWI adalah memastikan kesinambungan pembangunan Indonesia yang saat ini sudah di jalur yang tepat akan TETAP pada arah yang benar yaitu bermuara pada kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Sedangkan memilih pesaing JOKOWI dipastikan kita akan berbalik arah menuju jaman yang penuh ketidakpastian. Kalau menilik rekam jejaknya, kita akan masuk pada jaman ototarian dimana perbedaan pendapat akan diselesaikan dengan pembungkaman bahkan mungkin dengan penghilangan nyawa secara paksa seperti tahun 1998.
Anda mau seperti itu ?

Salam SATU Indonesia
15012019

#2019JokowiPresidenRI
#2019CoblosJokowi
#IndonesiaJuaraBersamaJokowi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here