Perspektif Rocky Gerung Terhadap Isu Politik Papua

0
160
Paskali Kossay, dalam sebuah kegiatan. (jurnaltimur.com)

Oleh : Paskalis Kossay

Siapa tidak kenal yang namanya Rocky Gerung yang belakangan ini mulai tenar namanya dikalangan politisi nasional. Dia mulai terkenal karena kekritisannya yang cukup tajam terhadap perbincangan suatu masalah terutama di forum Indonesia Lowyer Club ( ILC ) yang dipandu Karni Ellyas , wartawan senior TV One.

Seorang Guru Besar Filsafat politik Universitas Indonesia ini , tampil begitu percaya diri disetiap moment diskusi ILC dengan melempar gagasan, ide dan komentar begitu tajam sehingga membuat lawan bicara seperti menjadi kikuk kehilangan argumentasi rasional.
Baru – baru ini awal tahun 2019 , seorang Rocky Gerung dihadirkan di Jayapura oleh sekelompok pemuda milenial papua , beliau didaulat sebagai pembicara dengan topik, perspektif sosial politik terhadap isu Papua.

 

Menarik disimak , ketika Rocky Gerung , menyoroti isu Papua dari perspektif dirinya sebagai seorang akademisi. Rocky Gerung menyatakan , jika mau melihat masalah Papua jangan terlalu merapat, terapi mengambil posisi jarak , yang dianalogkan seperti ilmu burung. Kebiasaan seekor burung buas memburu bangsanya di pantau dari udara selama beterbangan. Setelah dipantau posisi mangsa secara jelas , lalu turun menekam mangsanya.

Sejalan dengan filosofi ilmu burung, kalau mau menyelesaikan masalah papua, jangan terlalu merapat . Harus mengambil posisi jauh, supaya akar masalahnya bisa dapat terbaca jelas . Karena itu menurut Rocky Gerung, yang bisa membaca masalah Papua secara jernih adalah kelompok akademisi.

Akademisi akan membaca masalah papua berdasarkan pendekatan akademis yang berbasis fakta dan data dimana akurasi obyektivitasnya bisa dipertanggung jawabkan.
Menurut Rocky Gerung , selama ini pemerintah melihat masalah Papua dari perspektif keutuhan wilayah, dengan slogan NKRI harga mati. Karena itu banyak investasi masalah yang dibuat oleh negara.

Caption Foto : Rocky Gerung saat berbicara di Jayapura pada tanggal 13 Desemnber 2018 lalu (Foto dari Youtube)

Dicontohkan oleh Rocky Gerung , seperti investasi kekerasan, pelanggaran HAM, marginalisasi dan diskriminasi terhadap orang asli Papua , dan lain – lain. Menurut Rucky, secara akademis LIPI sudah merekomendasikan 4 akar utama masalah papua dengan langkah solusinya , namun pemerintah tidak tertarik dengan rekomendasi LIPI itu.

Adapun 4 akar masalah utama yang direkomendasikan LIPI tersebut adalah :

1. Marginalisasi dan diskriminasi yang dirasakan oleh orang asli papua sebagai akibat pembangunan ekonomi, kebijakan budaya, dan migrasi masal sejak 1970 hingga hari ini. Untuk solusi masalah ini, LIPI merekomendasikan , perlu kebijakan afirmative dalam bentuk recognisi.
2. Kegagalan pembangunan. Solusi untuk masalah ini, LIPI merekomendasikan, perlunya paradigma baru pembangunan.
3. Kontradisi pemahaman sejarah integrasi dan konstruksi identitas politik diantara papua dan Jakarta. Solusi yang ditawarkan LIPI untuk masalah ini adalah perlunya dialog.
4. Pengalaman sejarah panjang kekerasan politik di Papua , terutama yang dilakukan oleh aktor negara terhadap warga negara Indonesia di Papua . Solusi yang direkomendasikan LIPI untuk masalah ini adalah perlunya rekonsiliasi .

Akan tetapi keempat rekomendasi akar masalah Papua yang disampaikan LIPI tersebut tidak pernah ditanggapi serius oleh pemerintah. Karena itu menurut Rocky Gerung, cara pandang pemerintah terhadap masalah Papua masih berpikir secara posibilitas. Artinya, negara tidak terpengaruh oleh berbagai kekuatan politik yang berkembang disekitar kita atau kekuatan politik yang berdekatan secara geografis .

Padahal isu papua sudah menjadi incaran oleh berbagai kekuatan politik disekitar kita. Kelimpahan potensi sumber daya alam yang dimiliki Papua menjadi incaran berbagai kekuatan politik disekitar kita . Tetapi cara pandang pemerintah terhadap masalah papua tetap pada kekuatan posibilitas tadi.

Kita tidak sadar kalau kekuatan politik dunia tengah berekspansi penguasaan lahan pengelolaan sumber ekonomi. Perang dagang antara Amerika Serikat dengan China sedang berlangsung disekitar kawasan kita. Jalur laut Cina Selatan menjadi taruhan kepentingan lalulintas ekonomi perdagangan Amerika terutama melalui negara – negara kawasan Asia Timur dan Pasifik Selatan .

Maka isu Papua menjadi strategis jika dilihat dari geo politik kawasan. Apakah Indonesia tetap berdiri sebagai negara posibilitas atau negara determinis segera menyesuaikan dengan pengaruh dua kekuatan perang dagang tersebut. Sekarang tinggal memilih , untuk kepentingan keutuhan wilayah, sikap politik Indonesia akan cenderung kemana . Ke Cina atau Amerika tergantung tingkat probabilitas , kemungkinan terjadinya resiko politik yang paling rendah.

Kalau itu yang terjadi maka Indonesia pasti berpihak pada Amerika secara dagang politik, namun secara dagang ekonomi , Indonesia akan tetap pada prinsip politik luar negerinya, yaitu politik bebas aktif. Dari sisi ini kemungkinan papua diobok – obok Amerika sangat terbuka. Sebab Amerika pasti membaca ternyata Indonesia masih menganut ambivalensi politik dalam menyikapi perang dagang dua kekuatan dunia itu.

Maka dalam perspektif Rocky Gerung , kemungkinan terjadi perubahan konstelasi isu politik papua sangat besar. Menurutnya, isu politik Papua bukan harga mati, tetapi dia hidup, masih berkembang , suatu saat bisa berubah. Karena itu Rocky Gerung menantang , calon presiden sekarang ini harus diuji kemampuannya mengelola negara ini ditengah tekanan kekuatan politik dunia ini seperti apa.  Jangan – jangan tidak punya konsep mengatasi masalah Papua dan Papua lepas, sayunara kepada Indonesia .

Catatan : Tulisan ini bukan ilusi atau bukan pula realita melainkan perspektif Rucky Gerung sedikit kolaborasi dengan perspektif penulis.
Semoga bermanfaat.

(Penulis adalah Pemerhati Masalah Politik dan Pemerintahan Nasional dan Papua serta Mantan Anggota DPR RI)