Oleh : Abdul Munib (Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Papua )

Melepas kepergian orang tua, sahabat sekaligus guru Bapak Usman Fakaubun, kemarin adalah kehilangan besar bagi insan pers di Papua. Beliau adalah ketua PWI Papua dua periode, yakni tahun 1994 – 2004. Sampai meningalnya beliau pada 3 Januari 2019 di RSUD Dok II Jayapura, masih menjabat Ketua Dewan Kehormatan PWI Papua.

Ada banyak pelajaran yang dapat diambil dari sosok Usman Fakaubun. Ia pribadi yang gemar bersilaturahmi. Hingga dalam sakitnya pun ia masih tanya Hari Pers Nadional untuk kami betangkat ke Surabaya. Betapa ia suka sekali silaturrahmi. Ia senang sekali sibuk menjamu tamu. Kalau melihat orang banyak makan di rumahnya itulah kebahagiaannya. Kalau ada tamu siapa saja dari PWI Pusat, dia menggubungi saya untuk para tamu itu dijamu kudapan yang dimasak Mbah Putri, isterinya. Selalu seperti itu. ” Maitua sudah masak. Ada papeda dan ikan bakar segar. Ikannya baru diambil dari nelayan di Hamadi. Bawa tamu-tamu itu semua kesini, ” petintahnya pada kesempatan UKW 2008 di Jayapura beberapa waktu lalu.

Caption Foto : Suasana Pemakaman Almarhum Bapak Usman Fakaubun. (Foto Istimewa)

Usman Fakaubun. Kepergiannya membuat kehilangan besar insan Pers Papua. Rumah duka padat dengan manusia. Aula Wisma Soccer seharian bergema dengan lantunan bacaan Al Quran. Bukan masyarakat Pers saja yang kehiangan. Juga masyarakat olahraga dan beliau juga tokoh masyarakat Kei.

Selain silaturahmi juga hal kepedulian. Ketika mendengar ada kawan atau handai taulan sedang susah, ia pasti datang. Memberi penguatan. Ia adalah backbound bagi banyak orang. Ia tulang punggung yang kokoh. Ratapan kehilangan dari mereka di depan jenazahnya betapa memilukan. Kebaikan-kebaikan yang pernah ada dan tertanam dalam hati masyarakat terungkap dalam kesedihan yang bercampur antara kehilangan dan kenangan jasa baiknya. Rasa itu bergelayut pada air nata para pelayat.

Bagi masyarakat Pers Nasional, khususnya PWI, September kemarin Kongres Solo adalah pertemuan terakhir. Beliau mengikuti Kongres dari awal sampai akhir dengan kehadiran seratus persen. Ia selalu seperti itu. Perjumpaannya dengan teman-teman lamanya adalah kebahagiaan tersendiri buatnya. Nampak dari kehangatan bicara antar mereka. Demikian pun HPN Padang tahun lalu, ia mengikuti seluruh rangkaian acara. Pergi ke Bukit Tinggi dan rangkaian acara lainnya.

Yang paling memukul batin saya atas kepergiannya adalah diskusi-diskusi terakhir kami soal Pers Nasional. Memang antara kami berdua ada fashion yang berbeda. Saya cenderung ke logis filosofis beliau berbicara dengan kacamata cinta.

Adik Ketua, katanya, PWI tidak boleh mati walaupun era digital. Pers Nasional harus tetap hidup bagaimanapun caranya. Ini tantangan kalian. Tantangan jaman saya sudah lewat, ujarnya.

Tapi bos, kata saya, bagaimana mau hidup kalau iklannya dalam digital sudah tidak ada. Di media digital, ada ribuan jenis iklan yang bukan melalui Pers Nasional. Kita orang asing di dunia baru itu. Ada pemain-pemain iklan yang lebih hebat dalam jumlah yang banyak, sebanyak jumlah masyarakat. Pers Nasional kehilangan piring makannya.

Adik Ketua tidak boleh menyerah, katanya. Bagi setiap yang menekuni permasalahan selalu ada jalan. Saya didik kalian itu supaya pintar, supaya bisa menjawab persoalan-persoalan berat seperti sekarang.
Pasti ada solusi, katanya optimis.

Yang ada sekarang kami jual berita, bos. Itu yang kami bisa makan hari ini. Jadi humas pihak ketiga buat pemerintah atau institusi apa saja. Kalau yang uangnya agak banyak ya cari kasus untuk Lapan Anam. Atau ikut-ikut framing, berpihak ke salah satu kandidat atau siapa saja yang ingin memimpin opini menggunakan pers. Sehingga makna pers yang standar sesuai kaidah penulisan jurnalistik maupun etika jurnakistik sudah makin sulit
dipertahankan karena hilangnya ladang iklan yang selama ini menghidupi kita.

Beliau terdiam. Lama terdiam. Tambah kopinya, ia berteriak ke dapur. Diskusi kami selama tahun 2018 di hotel miliknya selalu tema keprihatinannya sola nasib pers belakangan ini. Bahkan di sisa tenaganya yang sudah tidak kuat jalan menjelang kepergiannya ia minta di antar ke kantor PWI. Selama saya mengetahui organisasi ini, sosok seperti ini hanya bisa disaingi oleh sosok Tarman Azam. Di sisi ini kadang saya iri. Ada orang-orang yang mampu mencintai PWI seperti mereka.

Selagi Pers Nasional masih memiliki orang seperti Usman Fakaubun saya yakin badai digital akan dilalui dengan baik. Karena cinta memiliki kekuatan yang lebih dahsyat dari sekedar akal. Baik bos, sekarang saya mengerti. Saya tak akan tinggalkan Pers Nasional ini sampai mati. Bahkan dibawa mati. Sepertimu.

Usman Fakaubun adalah Tarman Azam dari daerah. Tokoh wartawan dari Papua yang kemarin telah kami kuburkan jasadnya dengan perasaan kehilangan yang teramat sangat.

(Ditulis pada Jumat, 4 Januari 2019 oleh Ketua PWI Papua, Abdul Munib )