Waspada Bencana Sepanjang Waktu

0
301
Anak Gunung Kratau. (http://bangka.tribunnews.com/2018/12/23/gelombang-tinggi-ditambah-tsunami-landa-banten-dan-lampung-inilah-tiga-poin-penting-pernyataan-bmkg)

Saksikan Bedah EDITORIAL MEDIA INDONESIA setiap pagi pukul 07.05 WIB hanya di METRO TV atau LIVE STREAMING nya melalui mediaindonesia.com/streaming

Anda bisa menanggapi langsung dan memberikan opini dengan menghubungi 021-58399100, Twitter @mediaindonesia atau kirimkan komentar Anda ke e-mail: forum@mediaindonesia.com

Waspada Bencana Sepanjang Waktu

KEBENCANAAN nyata di depan mata dan bisa terjadi kapan saja. Belum lama ini duka pilu melanda Lombok dan Palu akibat gempa bumi yang disertai tsunami kemudian likuefaksi. Duka kembali datang bersamaan tsunami melanda pesisir Banten dan Lampung.

Gelombang laut yang melanda pesisir Banten dan Lampung pada Sabtu (22/12) malam dipastikan sebagai gelombang tsunami, tetapi penyebabnya masih didalami. Dugaan kuat ialah tsunami kali ini akibat runtuhnya sisi tubuh anak Krakatau, bukan karena gempa bumi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada mulanya menyebut air laut naik dengan kencang di pesisir Banten dan Lampung itu sebagai gelombang pasang biasa. Apalagi saat itu sedang bulan purnama yang menyebabkan permukaan air laut naik.

Tidak lama berselang BMKG merevisinya dengan menyebut bahwa telah terjadi tsunami yang menerjang beberapa wilayah pantai di Selat Sunda, di antaranya pantai di Kabupaten Pandeglang, Serang, dan Lampung Selatan.

Tsunami lagi-lagi menelan korban jiwa dan memorak-porandakan rumah dan bangunan. Kita berduka untuk itu. Presiden Joko Widodo yang pada saat kejadian berada di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, juga menyampaikan ucapan dukacita.

Presiden langsung memerintahkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Menteri Sosial, Panglima TNI, dan jajaran terkait lainnya untuk bersegera melakukan penanganan darurat sekaligus mendata kerusakan dan korban jiwa yang ditimbulkan. Tindakan Presiden patut diapresiasi karena hal itu memperlihatkan negara hadir setiap rakyat membutuhkan.

Jauh lebih penting lagi ialah terus-menerus membangun kesadaran masyarakat akan kebencanaan nyata di depan mata dan bisa terjadi kapan saja. Jangan pernah lengah sedetik pun.

Mitigasi bencana menjadi kunci kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana. Sayangnya, harus jujur diakui, mitigasi bencana di Indonesia masih rendah. Kesadaran akan mitigasi bencana selalu muncul setelah bencana datang. Saatnya menjauhkan sikap reaktif, yang dibutuhkan itu sikap antisipatif.

Bencana ialah keniscayaan. Negara superkuasa sekalipun tak berdaya untuk mengontrol alam yang berpotensi memicu bencana. Namun, negara punya otoritas penuh untuk membuat serangkaian kebijakan agar menekan dampak bencana serendah mungkin.

Sebagian kebijakan negara diwujudkan dalam bentuk pembangunan yang mempertimbangkan risiko bencana di suatu wilayah. Sebagian lagi diwujudkan dengan pembiasaan setiap orang melalui pendidikan dan pelatihan rutin terhadap risiko bencana.

Kebijakan pembangunan di pesisir pantai surplus, tapi konsistensi pelaksanaannya minus. Baik Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil maupun Peraturan Presiden Nomor 51 Tahun 2016 tentang Batas Sempadan Pantai sudah menetapkan batas sempadan pantai 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat.

Fakta di lapangan memperlihatkan terlampau banyak bangunan yang dibiarkan bebas menjorok ke laut sesuai dengan selera pasar. Mestinya pemerintah daerah membongkar semua bangunan yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan di pesisir pantai.

Terkait dengan pembiasaan setiap orang melalui pendidikan dan pelatihan rutin terhadap risiko bencana, BNPB ataupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menjalin kerja sama dengan lembaga pendidikan. Slogan dan ajakan mitigasi bencana bisa ditampilkan di wilayah sekolah agar siswa lebih terpapar oleh ajakan tersebut. Upaya penyuluhan mitigasi bencana jauh lebih efektif jika secara sadar dimasukkan ke kurikulum pembelajaran.

Terus terang, lemahnya pengetahuan masyarakat dalam upaya penyelamatan saat terjadi bencana sangat berpengaruh terhadap banyaknya korban yang tidak selamat. Karena itu, kiranya perlu dilakukan literasi bencana dengan mengangkat kearifan lokal agar masyarakat dapat lebih siap dalam merespons bencana.

Termasuk dalam kearifan lokal, misalnya, setiap orang yang mendatangi kawasan wisata perlu diberi informasi bagaimana cara menyelamatkan diri jika terjadi bencana. Juga, masyarakat perlu diedukasi untuk tidak menyebarkan berita bohong seperti bakal terjadi tsunami susulan yang membuat panik.

Bencana itu ibarat maling, tidak tahu kapan ia datang mencuri. Karena itulah, pemilik rumah selalu bersiaga. Kita pun tidak pernah tahu kapan persisnya bencana itu datang, yang dibutuhkan ialah masyarakat waspada sepanjang waktu.

BACA NASKAH LENGKAP:
http://m.mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1567-waspada-bencana-sepanjang-waktu

LIVE STREAMING:
http://mediaindonesia.com/streaming

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here