Satu Tahun Kepemimpinan, Bupati Mathius Awoitauw Minta OPD Hilangkan Ego Sektoral

0
709
Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, SE., M.Si, merasa bersyukur kepemimpinannya bersama Wakil Bupati Jayapura, Giri Wijayantoro telah masuk satu (1) tahun terhitung 12 Desember 2017 lalu. Hal ini dikarenakan telah banyak kemajuan pembangunan baik itu infrastruktur maupun pencapaian prestasi lainnya baik tingkat nasional maupun provinsi. Tampak Bupati saat di wawancara. (Irfan / HPP)

SENTANI (LINTAS  PAPUA) – Refleksi satu tahun kepemimpinan Mathius Awoitauw dan Giri Wijayantoro sebagai bupati dan wakil bupati Jayapura diperingati dengan ibadah bersama di Aula Lantai III Kantor Bupati Jayapura, Gunung Merah, Sentani, Kabupaten Jayapura, Rabu (12/12/2018) kemarin pagi.

 

Kegiatan tersebut dihadiri unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda), Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Kepala Distrik, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda dan masyarakat umum.

 

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, S.E., M.Si, merasa bersyukur kepemimpinannya bersama Wakil Bupati Jayapura, Giri Wijayantoro telah masuk satu (1) tahun terhitung 12 Desember 2017 lalu.

Hal ini dikarenakan telah banyak kemajuan pembangunan baik itu infrastruktur maupun pencapaian prestasi lainnya baik tingkat nasional maupun provinsi.

 

Dikatakan Mathius Awoitauw, S.E., M.Si, salah satunya sistem pelayanan birokrasi untuk masyarakat yang akan dilakukan atau dibenahi di awal tahun kedua atau tahun 2019 mendatang yakni, bagaimana birokrasi ini harus efektif dan birokrasi ini bisa efisien.

 

“Nah, ini (birokrasi) tidak mudah. Dimana-mana ini menjadi persoalan karena birokrasi di kabupaten ini tidak berdiri sendiri. Dia ada punya rangkaian baik di provinsi maupun kementerian/lembaga di pusat. Jadi mereka juga ada punya koordinasi dan komunikasi, misalnya seperti kehutanan, perikanan, perindagkop dan kominfo,” paparnya.

“Mereka ini di kementerian/lembaga juga ada. Jadi, mereka ada punya jaringan sistem dari segi kelembagaannya itu ada terstruktur, meskipun tidak terlalu ketat. Tapi, regulasi-regulasi yang diturunkan itu juga harus di ikuti. Di pusat saja antar kementerian/lembaga juga tidak mudah untuk bersatu, dan itu juga terbawah sampai kesini,” sambung Mathius.

Sementara di Kabupaten Jayapura, kata Mathius, juga ada memiliki kebutuhan-kebutuhan tersendiri.

Misalnya di wilayah Grime, itu sesuai potensi perkebunan yang dimiliki maka semua pihak harus bergerak, bagaimana Kakao (Coklat) ini menjadi produk unggulan dan kalau perlu tembus sampai pasar ekspor, serta dikerjakan oleh industri yang ada disitu.

 

Lanjutnya, di bidang perikanan, pengolahan dan juga budidaya ikan air tawar dan laut.

 

Begitu juga di bidang pariwisata, demi memacu sektor pariwisata itu dengan industri-industri kerajinan tangan dan lain sebagainya.

 

Tentunya, ungkap Mathius Awoitauw prestasi dan kinerja-kinerja itu harus ditingkatkan lagi, dirinya meminta kepada OPD di Pemkab Jayapura harus tanggalkan ego sektoral.

 

“Ketika kita bicara ini maka semua OPD sudah harus tanggalkan ego sektoralnya. Karena daerah sudah menentukan komoditas-komoditas unggulan. Sedangkan untuk pendidikan dan kesehatan itu sudah okey. Kita sudah sepakati pendidikan dasar itu harus menjadi program unggulan di daerah ini dengan pola asrama. Artinya, hal-hal lain jangan dipikirkan lagi. Jadi, semua harus mengacu pada kebijakan daerah,” tuturnya.

 

Untuk itu, Bupati Mathius mengingatkan seluruh OPD yang ada di Kabupaten Jayapura untuk tidak mengedepankan ego sektoral dengan cara memaksakan kehendaknya.

 

Namun, hal yang harus diperhatikan kepada seluruh OPD adalah membangun sinergitas dalam mensukseskan program prioritas pembangunan sesuai dengan target pembangunan yang akan dicapai sesuai dlam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan visi misi Kabupaten Jayapura.

 

“Nah, OPD-OPD yang tidak ada hubungannya dengan rencana besar kebijakan ini harus menyesuaikan, dan tidak boleh paksakan diri. Karena kalau dia (OPD) paksakan diri maka potensi lokalnya tidak ada yang dikerjakan,” imbuhnya,

 

Bupati Mathius mencontohkan,  soal gizi anak-anak di usia PAUD, TK dan SD. “Berarti ketahanan pangan, perkebunan, peternakan dan pertanian serta perikanan itu sudah harus mulai mengambil tanggung jawab tersebut, bagaimana usaha pekarangan masyarakat di kampung-kampung ini harus tersedia dan harus ada tenaga-tenaga PPL secara terus menerus disitu,” tukasnya. (Irfan /  Harian Pagi Papua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here