Catatan Kritis Albert Rumbekwan : Membedah Buku “Dunia Dalam Genggaman Papua”

0
873
Suasana Kegiatan Membedah Buku di Hotel Astom, Kota Jayapura, Rabu, 12 Desember 2018. (Eveerth Joumilena / lintaspapua.com )

Membedah acara Launching dan Bedah buku
“DUNIA DALAM “GENGGAMAN” PAPUA. SEBUAH FENOMENA GEOPOLITIK GLOBAL.”

Oleh Albert Rumbekwan )*

Penghujung tahun 2018 telah nampak sebuah panggung kehidupan dari drama kehidupan sosial suku bangsa di Indonesia dan suku bangsa di Papua yang hidup di negeri Papua.

 

Alberth Rumbekwan, saat serius mendengarkan pemaparan dari pembedah buku di Hotel Aston. (Eveerth / lintaspapua.com )

Drama kehidupan sosial itu mengisahkan realita perjalanan manusia dalam menggapai sukses atas semua usaha dan karya yang dikerjakannya sejak melangkah pertama kali pada 1 Januari 2018. Naskah drama kehidupan sosial itu, menyatakan dua hal yaitu: manusia Papua bahagia dan manusia Papua berduka.

 

 

 

Hari ini, 12 Desember 2018, terbit sebuah buku yang di tulis oleh dokter umum John Manangsang/Wali, dengan judul: “Dunia dalam “Genggaman” Papua”. Buku ini memiliki bentuk yang eksklusif karena kualitas kertas dan cetakan “hard cover”. Bentuk eksklusif lain yang nampak adalah dukungan/sponsor acara launching dan pembedah buku yang di hadirkan adalah orang yang memiliki kemampuan dan kompetensi. Dan acara launching itupun berlangsung di gedung hotel berbintang lima, lantai 11.

Dari segi isi, buku tersebut tak beda jauh dengan buku-buku tentang Papua yang di tulis terdahulu oleh beberapa peneliti dan penulis, Droglever, Bernarda, Numberi, Raweyai, Paolgren, dll. Mungkin saja dr. John, merujuk dari tulisan-tulisan tersebut. Untuk topik geopolitik, dr. John, merujuk pada isi tesis dari Laus Deo Calvin Rumayom, tentang geopolitik dan geostrategis Papua pada program Pascasarjana HI UI, topik- topik lain pun juga merujuk pada tulisan-tulisan yang sudah ada.

Sehingga, bagi saya, tulisan tersebut tidak ada yang eksklusif. Namun demikian dr. John telah menyumbang buah pikirannya terhadap perasaan hati yang terluka dari orang Papua sejak aneksasi berwajah integrasi 1963.

Dengan demikian ketika para pembaca hendak mengenal Papua, saya sarankan untuk membaca pula sumber-sumber lain yang telah lebih dulu terbit. Satu lagi buku yang menarik dan patut di baca adalah tulisan Dr. Frans Pekey, “Papua mencari jalan Perdamaian”.

Caption Foto : Suasana Kegiatan dengan antusias dari para peserta yang serius mengikuti jalannya diskusi dan bedah buku.

Tulisan- tulisan di atas dan beberapa tulisan kritis lainnya yang tidak disebutkan, sesungguhnya telah menyatakan satu maksud hati dari orang Papua adalah “orang Papua ingin melepaskan diri dari genggaman tangan bangsa lain dan berdiri tegak di atas tanahnya sendiri”. Setelah itu baru bangsa Papua dan bangsa lain merumuskan bentuk jalinan kerjasama yang harmonis, damai dan sejahtera dalam rumah masa depan.

Perasaan hati tersebut di atas sesungguhnya telah diketahui dan dirasakan oleh orang Jakarta. Dan mereka tahu solusi yang tepat untuk Papua. Namun hal itu belum mungkin diberikan karena kepuasan untuk menikmati kekayaan orang Papua belum mencapai taraf 100%. Sehingga orang Papua akan menjadi objek yang tidak berarti bagi bangsa lain.

Fenomena tersebut di atas merupakan ulangan sejarah kolonialisme dan kapitalisme yang berlangsung di benua dan negeri yang penuh susu dan madu di belahan dunia lainnya. Maka fenomena itu wajib menjadi rujukan bagi generasi Papua untuk terus berjuang keras, bersama bersatu, menjaga dan merawat tanah dan dirinya.

Sedikit saran saja, bahwa tulisan dr. Manangsang itu akan sangat bermakna dan berguna baik ketika dokter mampu membangkitkan profesinya terhadap dunia kedokteran di Papua, agar ruang-ruang lain itu menjadi milik orang lain yang memiliki kompetensi.

Saran berikut adalah buku dengan kualitas bahan dan tercetak eksklusif tersebut, tidak memiliki nilai minat bagi kalangan mahasiswa bahkan para intelektual lain, oleh karena tarif komersialisasinya seharga Rp.500.000/buku. Sehingga dokter John perlu memikirkan nilai ekonomisnya, agar semua khalayak umum dan khususnya generasi Papua dapat menikmati tulisan tersebut.

Sebagai catatan akhir, saya hendak menyampaikan bahwa “Dunia dalam genggaman Papua” adalah mimpi besar. Karena hari ini Papua masih dalam genggaman bangsa lain. Jika bangsa lain ingin di genggam sebagai sesama umat manusia, janganlah memandang manusia Papua adalah binatang liar yang hidup di dalam sumber daya alamnya yang harus diburuh, dimusnahkan, dihiraukan dengan bedil, peluru dan bakteri.

Apalah artinya sebuah kata, kalimat, dalam setiap paragraf yang penuh makna hanya menjadi pajangan dan bacaan pengantar tidur. Tulisan tersebut tidak memiliki makna apa-apa. Karena semua kita hanya mau yang instan saat ini. Semoga sedikit catatan di atas dapat menjadi arti bagi kita semua.

(Albert Rumbekwan adalah Dosen Universitas Cenderawasih)

Jayapura, Rabu, 12 Desember 2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here