Penyelesaian Kasus Penembakan di Nduga, Willem Wandik : Sebaiknya Serahkan ke Sipil Jangan Militer

0
737
Anggota Asosiasi Bupati se-Pegunungan Tengah Papua, Willem Wandik, yang juga Bupati Kabupaten Puncak, saat berbicara dalam sebuah kegiatan. (Humas Diskominfo Puncak)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  –  Anggota Asosiasi Bupati se-Pegunungan Tengah Papua, Willem Wandik mengusulkan agar penyelesaian kasus penembakan yang menewaskan 17 pekerja jalan Trans Papua dan seorang anggota TNI di distrik Yigi kabupaten Nduga, dapat melibatkan masyarakat sipil dan bukan dengan mengerahkan kekuatan militer.

Menurut Willem, sebaiknya pemerintah membentuk tim relawan yang melibatkan semua unsur seperti gereja, pemerintah baik provinsi dan kabupaten, DPR juga tokoh masyarakat, adat setempat yang membantu upaya pencarian empat karyawan PT.Istaka Karya yang masih dinyatakan hilang ( satu korban sudah ditemukan tewas) serta dalam hal melakukan upaya persuasif dengan kelompok KKB, serta terpenting adalah untuk mengembalikan masyarakat yang lari bersembunyi ke hutan karena ketakutan akibat tindakan represif aparat saat memburu kelompok separatis bersenjata pimpinan Egianus Kogoya ini.

“Sangat disayangkan kejadian ini. Padahal sekarang dalam suasana natal. Disana itu daerah Kingmi( mayoritas jemaat gereja Kingmi). Sehingga perlu pendekatan persuasif, perlu ada sipil yang masuk. Sehingga umat yang lari ke hutan itu bisa kembali. Sebab ini akan menjadi masalah besar. Umat yang lari ke hutan itu, dikhawatirkan akan mati kelaparan. Itu yang kami tidak mau!” Ujar Willem yang merupakan kader jemaat Kingmi kepada pers di Jayapura, Senin (10/12/2018).

Jangan Kasus Mapunduma Terulang

Menurut dia, kasus ini jangan sampai menjadi besar dan menjadi perhatian dunia seperti kasus Mapunduma 23 tahun silam yang menyisakan trauma mendalam hingga kini. Dimana banyak warga sipil tewas akibat operasi militer besar besaran yang dilakukan aparat TNI ketika memburu Kelompok OPM pimpinan Kelly Kwalik.

“Lebih baik pendekatan persuasif. Pemerintah jangan diam, karena ini sangat disayangkan. Seperti kata pak Kapolri, serahkan saja kasus penembakan Nduga ke pihak kepolisian,”kata Willem yang juga mengaku daerahnya kerap mengalami teror penembakan oleh kelompok KKB.

“Di Sinak juga ada penembakan kayak begini, alat excavator dibakar dan pekerjanya dibunuh. Kami langsung sigap turun selesaikan masalah. Juga beberapa waktu lalu ada penyanderaan dua pekerja jalan, itu kami langsung turun langsung bebaskan,” bebernya.
Sasaran TNI Polri.

Menurut Willem, sasaran kelompok ini sebenarnya TNI Polri bukan warga sipil.

“Jadi kalau menurut saya kalau mau perang ya sudah sebagai laki laki kalian (KKB vs TNI/Polri) perang sudah di lapangan terbuka, yang tidak ada warga sipil disitu. Biar dilihat siapa yang kuat. Jangan lagi masyarakat sipil jadi korban,”ujar Willem dengan nada bercanda.

Lanjut katanya, jika konflik ini terus berlanjut maka diyakini pembangunan tidak akan berjalan maksimal. Oleh karenanya, Willem menyarankan agar penyelesaian konflik ini didahulukan untuk kemudian dilanjutkan lagi pembangunan jalan trans Papua.

“Sebaiknya diselesaikan dulu permasalahannya baru kemudian pembangunan dilanjutkan. Daripada nanti kalau bangun, trus kejadian lagi. Ini sayang skali padahal untuk bangun jalan ini pemerintah sudah kucurkan dana triliunan rupiah,” katanya.’

Sekali lagi Willem sangat berharap pihak gereja segera turun untuk menyelamatkan umatnya. Dan kepada TNI Polri tidak boleh mencurigai.

“Mereka semua jangan disapu rata. Kalau orang orang itu (kelompok KKB) saya yakin mereka sudah tidak ada disana, sudah pergi tinggalkan kampung itu setelah kejadian,”pungkasnya. ( Berti Pahabol  / lintaspapua.com )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here