Hari ini, Buku ‘Dunia Dalam Genggaman Papua’ Karya John Manangsang Wally Dilaunching dan Dibedah

0
1552
Buku “Dunia Dalam Genggaman Papua” sebuah fenomena geopolitik global karya John Manangsang Wally, akan dilaunching dan dibedah, di Hotel Aston, pukul 09.00 Waktu Papua hingga Selesai, pada Rabu, 12 Desember 2018. Hal ini dibenarkan Ketua Panitia Bedah Buku, Laus C. C. Rumayom, M.Si., sekaligus menjelaskan, bahwa Buku “Dunia Dalam Genggaman Papua, sebuah femomena Geopolitik Global” adalah Karya Penulis John Manangsang Wally, yang mana buku ini ditulis dalam multi perspektif, dalam rangka mengakomodasi seluruh pemikiran orang Papua dan simpatisan, yang ikut berkontribusi dengan melihat Papua yang semakin hari, semakin justru jauh dari harapan.. (Foto Repro)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  – Buku “Dunia Dalam Genggaman Papua” sebuah fenomena geopolitik global karya John Manangsang Wally, akan dilaunching dan dibedah, di Hotel Aston, pukul 09.00 Waktu Papua hingga Selesai, pada Rabu, 12 Desember 2018.

Hal ini dibenarkan Ketua Panitia Bedah Buku, Laus C. C. Rumayom, M.Si., sekaligus menjelaskan, bahwa Buku “Dunia Dalam Genggaman Papua, sebuah femomena Geopolitik Global” adalah Karya Penulis John Manangsang Wally, yang mana buku ini ditulis dalam  multi perspektif, dalam rangka mengakomodasi seluruh pemikiran orang Papua dan simpatisan, yang ikut berkontribusi dengan melihat Papua yang semakin hari, semakin justru jauh dari harapan.

“Hal yang menarik dalam peluncuran dan bedah buku adalah dalam kesempatan tersebut kita mendiskusikan lebih dalam dengan berbagai pihak yang berkompeten, yakni lima Pembedah buku dengan moderator dari Dewan Adat Papua, Ir. Weynand Watory,” ujar Ketua Panitia Bedah Buku, Laus C. C. Rumayom, M.Si., kepada media di Abepura, Senin (10/12/2018), yang juga dibenarkan Panitia lainnya, Michael Jhon Yerisetouw.

 

Adapun kelima pembedah buku yang dipercayakan Panitia adalah Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA., selaku mantan Rektor Universitas Cenderawasih dan Akademisi yang kini juga sebagai Ketua Senat Universitas Cenderawasih.

 

Yang kedua adalah Prof. Dr. Yohana S. Yembise, Dip.Apling, MA (Menteri Pemberdayaan Perempuan DAN Perlindungan Anak) dan Jaleswari Pramodhawardhani (Deputi V Bidang Politik HJukum dan HAM – Kantor Staf Presiden RI) serta  Dr. Adriana Elisabeth, M.Soc. SC (Ketua Pusat Penelitian LIPI) serta  Yorrys Raweyai selalu Tokoh Masyarakat Papua di perantauan.

 

Sementara itu, Penulis Buku  “Dunia Dalam Genggaman Papua” sebuah fenomena geopolitik global,  John Manangsang Wally menjelaskan, bahwa dirinya sebagai cucu dari sseorang penginjil Sanghie Talaud yang datang ke Papua.

“Maka dalam kehidupan sesuai nasehat orangtua , kami datang dan tidak kembali, sebab kami datang untuk menjadi orang Papua. Sehingga seluruh hidup dan pikiran dan pengalaman kami persembahkan untk orang Papua,” ujar John Manangsang Wally.

 

Diakui, yang mendasari penulisan ini adalah dalam keseharian  menjalani dan mengalami keidupan di Papua ini, yang terlihat banyak kontradiktif.

“Kita sebut tanah damai, tetapi kita tidak merasakan damai, kita pemilik negeri , namun kita makin lama makin berkurang  Populasi orang Papua mengalami depopulasi. Kita juga sebut tanah yang kaya, tapi yang saya bertemu tiap hari saya jumpa orang yag banyak keterbatasan, walaupin mungkin ada yang kaya,” tuturnya.

Bahkan, kata John Manangsang Wally, orang tua membawa misi gereja, namun dalam perkembangan mengalami perubahan, sehingga harus dibicarakan lagi mengapa hal ini terjadi.

“Demikian orang  bilang PAPUA ITU ORANG adat, namun makin lama , makin tidak tau adat, banyak generasi baru kurang menerapkan norma – norma luhur adat hal ini kenapa??, namun macamnya ada sesuatu , di adat, agama dan di pemeirntahan yang bagus – baguis, namun di banyak tempat banyak yang tercecer hal – hal yang belum kita harapkan yaitu, good governance belum berjalan baik,” jelasnya.

 

Berdasarkan hal hal yang terjadi depan mata Saya melakukan sebuah kajian yang mencari solusi, karema kenyataan dan harapan sangat beerbeda,

“Tulisan ini mencoba mencari jalan tengah untuk tidak saja mengangkat fakta – fakta sejarah dan sebagai bangsa kehidupan berbangsa dan berbangsa.  Bukan saja mengngkat mengangkat fakta – fakta kekayaan alam Papua, tetapi bagaimana solusinya,” katanya.

John Manangsang Wally menuturkan, bahwa dirnya melihat Papua terlalu kompleksitas dan rumit, sehingga upaya – upaya penyeleseaian dari sudutr terbatas dan padangan tertentu tidak bisa menyelesaikan masalah yang rumit ini.

“Harus ada alat yang disuguhkan bisa menamping semua persoalan, bsia ditampiung dalam alat ini dan bersama mencari soliusinya dan bagaimana kita memenangkan semua pihak, jadi jangan kita kalahkan pihak lain,”

Demikian pemeirntah dan masyarakat, juga di di masyarakat  ada tiga tungku juga haris menang ketiganya.

Intinya Dunia Dalam Genggaman Orang PAPUA, menurut pengamatan saya, orag Papua paling terbaik di muka bumi dan punya kasih dan punya sosial yang luar biasa.

 

Jadi kalau orangh papua yang menggenggam dunia, maka akan mengggenggam dengan kasih, jadi visi besaar dari buku ini adalah bagaimana Papua menjadi saluran berkat bagi seluruh bangsa.

 

“Untuk orang Papua dan bangsa indoneisa dan pada semua bangsa. Papua milik bangsa – bangsa dunia. Karena PAPUA adalah TANAH SURGA.  Papua adalah milik Tuhan, menurut pandangan saya setelah saya mengkaji bahwa orang Papua adalah milik Tuhan, untuk menjaga tanah ini dan supaya dijaga, di rawat, di produksikan dan  sehingga berbunga, berbuah dan menjadi berkat bagi selkruh bangsa – bangsa,” ucapnya.

 

 

Ada satu hal penting yang ingin juga disampaikan dari buku ini adalah bahwa selama ini kita hanya bicara dari dua sumber Daya , yaitu manusia dan alam.

 

“Kalau kita bicara Papua menggenggam dunia, maka kita bertanya alasan apa dan teori apa  yang mendasar, untuk mengatakan tersbut, yaitu karena Papua memiliki sumber daya geo politik, yakni Papua berada  di pusat lintasan dunia , ini adalah kekayaan orang paua yang harus disyukuri, Sehingga kita harus syukuri dan kita orang pilihan,

 

“Sehingga mari besama – sama membangun papua, karena merupakan pusat lintasan dunia  sheingga jangan ada orang orang – rang yang sepihak ingin merebut papua untuk kepentingan kelompok atau prbaid.

Ditegaskan, Papua bukan untuk kepentingan siapa – siapa , tetapi Papua untuk kepentinhan orang Papua dan orang Indoneia dan porang bangsa – bangsa diseleruh dunia.

 

Sementara itu, Anggota Papua Language Institue, George Saa menjelaskan, bahwa pihaknya melihat kehadiran dari isi dan konten akan menjadi bacaan untuk telahan  baru dan referensi yang baik, dimana ketaika nanti membaca bukunya akan memahami detail demi detail setiap ulasan yang menarik

“Jalan tengah dan solusi berbagai polemic persoalan yang ada, sebab kalau sekarang kita melihat papua dengan mengkotak kotakan masalah, sehingga melupakan hal yang lebih besar atau hal yang bisa menaungi. Isu yang lebih besar adalah melihat Papua dalma menghadapi tantangan dari luar, yakni ketidaksiapan kita, karena akan tidak tahu kemana kita nantinya,” kata prof muda Papua ini.

Disampaikan, bahwa  kalau kita membaca, tentunya buku ini akan mengajak kita keanekaragaman Papua.

Dari PLI kami beritikad, kalau bisa buku tersebut harus menjadi buku bacaan wajib, baik di kalangan mahasiswa, pemerintahj dan skpd maupun pimpinan daerah.

Di Papua dan Papua Barat, PENULIS bisa diajak untuk membuka kita melihat bagaimana berbagai persoalan dan tantangan.

Ibaratnya seperti bawa motor jangan hanya melihat kaca spion samping kiri dna kanan saja, tetapi harus bisa melihat kedepan juga.

 

“Saya merasa buku ini mengulas hal yang baik untuk kemajuan Papua. Karya Ini Akan Dibaca Terus,  Kami mendorong, sebagaimana saya menjadi bagian untuk menulis kata sambutan, saya menyampaikan bahwa kita Papua berada dalam garis lintas dunia, karena kita tidak sadar dunia terus maju dan kita harus menghadapinya dan buku ini harus menjadi stimulant bagi siapa saja. Buku ini bisa menjadi pegangan yang baik,” ucap George Saa. (Eveerth Joumilena / lintaspapua.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here