Yakenpa Gelar Pelatihan Program Partisipasi Remaja

54
Bersama Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, SE, M.Si., dalam suasana kegiatan Yayasan Noken Papua (Yakenpa) bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayapura dan didukung oleh Unicef, menggelar pelatihan Program Remaja dan Partisipasi Remaja, yang berlangsung di Hotel Grand Allison, Kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis (6/12/2018) kemarin. (Irfan / HPP)

SENTANI LINTAS  PAPUA) – Yayasan Noken Papua (Yakenpa) bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayapura dan didukung oleh Unicef, menggelar pelatihan Program Remaja dan Partisipasi Remaja, yang berlangsung di Hotel Grand Allison, Kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis (6/12/2018) kemarin.

Ketua Yakenpa, Nani Uji Pundu mengatakan tujuan dari kegiatan pelatihan yang dilaksanakan oleh yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan dalam hal ini Yakenpa adalah agar para remaja di Papua juga dapat bersuara serta bisa menyampaikan aspirasinya dan pendapatnya di hadapan publik.

“Kita sudah memulai kegiatan ini dari kampung-kampung, dengan tujuan agar para remaja di Papua ini bisa ikut juga dalam berbagai kegiatan seperti Musrenbang dan menyuarakan apa yang bisa mereka lakukan di kampung-kampung,” kata Nani.

Dalam kegiatan yang dilaksanakan ini rupanya Yakenpa tidak berjalan sendiri melainkan juga mendapatkan dukungan dari dari sejumlah pihak terkait, mulai dari dinas terkait, perwakilan remaja, pemuda agama dan Unicef Indonesia.

Sementara itu Trainer Program Partisipasi Remaja, Saskia Raisa Putri Moestadjab mengakatakan untuk bahan pelatihan ini, pihaknya menggunakan modul yang dikembangkan oleh Univesity of Melbourne di Australia yang di fokuskan untuk pengembangan remaja.

“Walaupun bahan yang kita gunakan ini dari sana (Australia). Tapi, ini sudah jauh diadaptasi di Indonesia dan ini sudah masuk tahun ke lima bersama dengan Unicef dan banyak mitra lokal yang sudah mengimplementasikan model ini,” kata trainer cantik dari Jakarta ini.

Dikatakan Saskia, kegiatan ini merupakan yang kedua kalinya dilaksanakan di Papua, yang mana sebelumya pernah dilaksanakan di Jayapura pada tahun 2013 lalu.

Dalam kegiatan tersebut, dirinya menjelaskan pihaknya memberikan banyak penjelasan kepada para remaja dan juga di bahas bersama baik itu, dari HIV, pendidikan, ketenagakerjaan dan lain sebagainya.

“Soal itu mungkin mereka bisa mendapatnya dari mana saja. Tapi dalam pelatihan ini kita mencoba untuk melibatkan para remaja ini secara aktif agar mereka tidak hanya duduk diam seperti hiasan saja. Tetapi, disini kita mengajarkan bagaimana caranya agar para para remaja ini bisa bekerja sama dengan berbagai pihak sebagai partner yang seimbang,” tandasnya.

Selain mengajarkan remaja untuk lebih aktif, pihaknya juga memberikan pemahaman kepada orang dewasa agar lebih paham dan mengerti tentang bagaimana isu remaja yang kompleks.

Saskia mengatakan lagi, tujuan dari pelatihan yang diberikan ini adalah agar lembaga atau instansi orang dewasa yang bergerak di bidang terkait seperti Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, BNN, BKKBN, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak agar lebih paham lagi caranya bekerja dengan remaja.

“Kadang mereka ini ada di dinas dan isu untuk remaja, tapi sebenarnya cara bekerja dengan remaja itu mereka nggak tahu. Jadi, pelatihan ini untuk mengajarkan itu bagaimana caranya mengadvokasi suara remaja,” tambahnya.

Dirinya juga mengatakan bahwa apa yang menjadi kebijakan pemerintah tidak bisa dijadikan tolak ukur dari pelatihan ini.

“Tolak ukur kami adalah dari pelatihan kami sebelumnya dan itu sudah berhasil, kita nggak bisa ngikutin apa yang sudah menjadi kebijakan pemerintah karena kami punya standar sendiri,” imbuh Saskia. (Irfan / Harian Pagi Papua)