Mantan Presiden Soeharto Dinilai Sebagai Simbol Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme

154
Mantan Presiden Indonesia, Soeharto. “Tahun 1998, kita turun ke jalan menurunkan rezim Soeharto dengan tiga alasan, Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Ini secara politik terang benderang bahwa Pak Harto adalah simbol korupsi, kolusi, dan nepotisme di negeri ini. Dan Pak Prabowo ada di sana mempertahankan Pak Harto,” kata Toni di Kantor DPP PSI, Jakarta, Jumat (30/11/2018). (nalarpolitik.com)

JAKARTA (LINTAS PAPUA)  – Sekjen PSI Raja Juli Antoni menegaskan bahwa Soeharto merupakan simbol korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Hal tersebut disampaikan Toni sebagai respons pernyataan capres Prabowo Subianto yang sempat menyebut korupsi di Indonesia sudah mencapai stadium 4.

“Tahun 1998, kita turun ke jalan menurunkan rezim Soeharto dengan tiga alasan, Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Ini secara politik terang benderang bahwa Pak Harto adalah simbol korupsi, kolusi, dan nepotisme di negeri ini. Dan Pak Prabowo ada di sana mempertahankan Pak Harto,” kata Toni di Kantor DPP PSI, Jakarta, Jumat (30/11/2018).

Dijelaskan Toni, saat aktivis turun ke jalan menuntut mundurnya Soeharto dari jabatan, Prabowo kala itu menjabat Panglima Komandan Cadangan Strategis Angkatan Darat.

“Secara historis, kita menurunkan Pak Harto karena alasan korupsi, dan Pak Prabowo ada di sana, secara langsung tidak langsung, mempertahankan rezim mertuanya. Sekarang tahu-tahu bicara antikorupsi.”

Sebelumnya, Wakil Sekjen PDI-P Ahmad Basarah sempat menyebut Soeharto sebagai gurunya korupsi saat menanggapi pernyataan Prabowo tersebut. Atas pernyataannya itu, Partai Berkarya yang dipimpin Tommy Soeharto berencana melaporkan Basarah ke polisi.

Meski demikian, Toni mengaku tidak takut jika harus mengalami hal yang sama dengan Basarah yang menyebut Soeharto sebagai simbol korupsi. Baginya, itu merupakan fakta tak terbantahkan yang kini sudah jadi rahasia bersama.

“Coba tanya semua orang yang aksi 1998, kenapa turunkan Pak Harto? Ada tiga alasannya, korupsi kolusi, dan nepotisme. Dia (Soeharto) memang Presiden yang kita turunkan karena itu.”

Toni mengaku, secara hukum, Soeharto memang belum pernah divonis terbukti melakukan korupsi selama 32 tahun memimpin Indonesia. Namun, secara politik, tidak salah jika menyebut Soeharto sebagai simbol korupsi.

“Fakta politik tidak bisa dimungkiri. Makanya kita turunkan.” (Dikutip dari https://nalarpolitik.com/soeharto-adalah-simbol-korupsi-kolusi-dan-nepotisme/?fbclid=IwAR32C9aNl7seViQ_y4b8LoWfEbaqQ-O3KjuI7TPw0AoSyGLCqBEvfqe4zjc )