JAYAPURA (LINTAS PAPUA )  – Festival Cycloop yang diselenggarakan adalah sebuah model soft advokasi dan kampanye yang dirancang,  guna menumbuhkan kepedulian, perhatian serta rasa cinta pada Cagar Alam Pegunungan Cycloop, demikian akan didiskusikan bersama dalam Acara Media Gathering, di salah satu hotel di Abepura, Kota Jayapura, Provinsi Papua, Jumat (23/11/2018).

 

“Upaya ini dilakukan mengingat besarnya tekanan terhadap CPA Cycloop yang makin hari makin besar. Tekanan terhadap Cycloop berupa perambahan hutan, penebangan liar, ladang berpindah, penambangan liar serta alih fungsi lahan,” ujar Ketua Tim Kreatif Festival Cycloop, Dian Wasaraka, dalam keterangannya, Jumat Pagi (23/11/2018)

 

Dikatakan, bahwa kegiatan  puncak  akan dilakukan di Pasir 6 Kota Jayapura,  namun sebelumnya akan ada rangkaian kegiatan yakni, tanggal 6 Desember 2018 di gelar seminar “Cycloop Siapa Peduli di Aula Korem 172/PWY dan dilanjutkan tanggal 7 Desember 2018  akan dilakukan Konvoi Motor dan Mobil dari Kantor Bupati Tanah Merah dan Penanaman Pohon serta  Malam Komunitas, hingga acara puncak dengan pelepasliaran satwa, ritual adat penutupan kawasan secara adat, tari tarian, pameran anggrek dan lainnya.

 

Sebagaimana diketahui, Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor :782/Menhut-II/2012 tanggal 27 Desember 2012 tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 891/Kpts-II/1999 TentangPenunjukkan Kawasan Hutan di Wilayah Provinsi Daerah Tingkat I Irian Jaya seluas 42.224.840 hektar,maka  luasan CA Pegunungan Cycloop sebesar 31.479, 84 hektar.

 

Sejarah Status Kawasan

 

Kawasan pegunungan Cycloop atau Dafonsoro untuk pertama kali mendapat status kawasan yang dilindungi oleh undang-undang pada masa pemerintahan Belanda tahun 1954 dengan luas kawasan 6.300 ha.

Caption Foto : Lokasi Pasir 6 Kota Jayapura, akan menjadi tempat Festival Cycloop, tentunya pemandangan yang indah antara alam yang sejuk dengan pemandangan lautnya dan alam Cycloop dibelakang. (ISTIMIWA)

Dengan pertimbangan dan alasan perlindungan atas tanah. Pada tahun 1974, Pemerintah Republik Indonesia melalui Dinas Kehutanan melakukan peninjauan kembali ordonansi Pemerintah Belanda tersebut serta memetakan kawasan ini seluas 4.197 ha dengan alasan dan pertimbangan perlindungan atas sumber air bagi masyarakat yang bermukim di sekitar Jayapura.

 

Dikatakan, dengan dengan luas yang sedemkian besar,dan jumlah personil yang sangat terbatas maka  BBKSDA Papua mengusung Role Model Pengelolaan Cagar Alam CA Peg. Cycloop Berbasis Kearifan Lokal, dimana kawasan Cagar alam di kelola berdasarkan wwilayah DAS (Dewan Adat Suku) Sentani, Moy, Tepra, Port Numbay, Ormu dan Youtefa,

 

Ancaman di Cycloop

“Adanya perambahan, penebangan dan perladangan berpindah yang bukan hanya terjadi dikawasan penyangga namun juga sudah memasuki kawasan Cagar alam dalam hal ini kawasan inti (no take zone), hal ini menjadi ancaman di Cycloop, juga terdapat bangunan dan jalan dipinggir kawasan dan didalam kawasan Cagar alam,” akuinya.

 

Disisi lain, lanjut Perempuan yang juga Dosen ini, katanya bahwa penebangan dan pembuatan arang kayu serta perburuan terhadap satwa-satwa endemik terutama jenis-jenis cenderawasih dan burung-burung paruh bengkok, masih menjadi ancaman serius untuk menjaga Alam Cycloop.

Upaya Penanggulangan

Dian Wasarakan menjelaskan, Festival Cycloop adalah bagian dari upara penanggulangan melalui kegiatan yang dilaksanakan, selain itu, BBKSDA dan USAID Lestari Bersama MMP (Masyarakat Mitra Polhut) memprakekkan Model SMART PATROL (Spatial Monitoringand Reporting Tool) dengan tiga pendekatan utama tool ini adalah: software, capacity building, dan standar perlindungan wilayah.

 

““SMART Patrol dilengkapi perangkat untuk merencanakan, mendokumentasikan, menganalisis, melaporkan, serta mengelola data keanekaragaman hayati, data patroli atau data ancaman, dan tindakan intervensi manajemen di lapangan,”  jelasnya.

Ditambahkan, bahwa SMART PATROL bukan hanya berfunsi untuk mengumpulkan data, tapi juga tool yang dikembangkanber dasarkan pengalaman praktis. Dirancang untuk membantu perlindungan kawasan konservasi. dengan tujuan agar kita mampu untuk membuat rencana pengelolaannyang lebih baik, mengevaluasi,dan mengimplementasikan aksi konservasi sertanmeningkatkannakuntabilitas pengelolaan kawasan Konservasi

“Tentunya Panitia Festival Cycloop menggandeng komunitas dan pemuda di jayapura untuk mengkampanyekan kepedulian terhadap Cycloop dalam Festival Cycloop 2018 yang salah satu sumber dananya bersumber dari Dana DAK 2018 dan dari BUMN dan BUMD yang juga peduli,” ungkapnya.

Caption Foto : Mereka semua datang dengan berbagai profesi dan berbeda suku bangsa, namun memiliki kepedulian menjaga alam pegunungan Cycllop, untuk itu kita semua perlu bersama menjaga lingkungan dan alam sekitar kita. (ISTIMEWA)

Dalam kesempatan tersebut, Dian Wasaraka mewakili seluruh Panitia Festival Cycloop menyampaikan banyak terimakasih kepada berbagai pihak dan pemerintah yang mendukung, diantaranya BBKSDA Papua, KOREM 172/PYW JAYAPURA,  KODIM 1701/ JAYAPURA,  PDAM JAYAPURA,  BANK PAPUA, TELKOMSEL JAYAPURA, ASGARIN, PERTAMINA, UPTD –BALAI BENIH,  STIKOM MUHAMMADIYAH JAYAPURA, SMU 01 JAYAPURA, USAID LESTARI.

“Juga kami sampaikan terimakasih yang terlibat dari berbagai 20 komunitas, diantaranya RUMAH BELAJAR PAPUA,  LMR-RI JAYAPURA, FORUM KOMUNITAS JAYAPURA, KOMUNITAS DRONE JAYAPURA, TOYOTA LAND CRUICER INDONESIA, KOMUNITAS MOTOR JAYAPURA, IKATAN MOTOR INDONESIA, EARTH HOUR INDONESIA dan KOMUNITAS JALAN-JALAN SERU,” tandasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here