Papua dan Dana OTSUS “Tra” Mampu Turunkan Penyebaran HIV/AIDS kah ?

0
614

“HIV-AIDS ; 38.874 Kasus HIV, 2.289 Meninggal, 36.858 Hidup sebagai Pemburu Mangsa yang lagi berkeliaran di Lingkungan se- Papua”

Oleh : Norberd Kemmy Bobby )*

Di tengah pembahasan mengenai anggaran Otonomi Khusus (OTSUS) dengan berbagai program dari berbagai lembaga dan komunitas bahkan personal mempromosikan bahaya HIV, ternyata tidak mampu membendung laju penyebaran HIV. OTSUS tidak berhasil selamatkan Orang Papua

HIV – AIDS adalah penyakit akibat virus yang menyerang kekebalan tubuh, menyerang pusat sel (CD 8 terutama sel CD 4) hingga 350 – 500 bahkan lebih sel dilumpuhkan. Definisi ini semua orang telah memahami.

Darah, Cairan Kelamin, Air Susu Ibu, Penularan terjadi lewat ketiga hal itu. HIV enak dibicarakan oleh siapapun, baik pemerintah, agama, pekerja sosial dan lain namun pemerintah sulit menghentikannya.

HIV-AIDS ini sebenarnya adalah penyakit pembunuh semua ras bangsa, salah satunya adalah bangsa melanesia orang papua, kenapa ? karena semua kategori usia akan terpapar (0 Bulan – dewasa lebih dari 50 tahun) dengan HIV-AIDS dan obat untuk sembuh tidak ada.

Bicara HIV-AIDS, bicara empat (4) hal :

  1. Sembuh karena ARV tidak sembuh total bisa punya anak (anak + positif HIV),
  2. Sembuh berkarat di rumah saja,
  3. Pasien Positif HIV Jual Sembarang,
  4. Meninggal

Model pacaran gonta-ganti dan model berhubungan manusia di Papua sepertinya sebuah tradisi tak langsung yang terjadi terus-menerus. Laki-laki dan perempuan berhubungan seks dan pasti kena HIV.

Pemburu mangsa (PM) yang + HIV masih hidup dan masih mencari mangsanya tanpa diketahui oleh anak muda atau bahkan dewasa juga, silahkan berpacaran dan berhubungan jika mau tahu bagaimana hidup dengan HIV-AIDS

Data Dinas Kesehatan Provinsi Papua 31 september 2018 adalah 38.874 Kasus HIV, 2.289 meninggal, 36.858 “sedang Hidup dan cari Mangsa”, mungkin anda adalah satu mangsanya, jadi berhati-hatilah.

Kita harus bedakan tiga (3) kategori :

  1.  Angka diatas itu dihitung karena orang ke tempat periksa VCT puskesma, RS dan Dinas Kesehatan mengkalkulasikan.
  2. Ada periode yang namanya masa jendela selama 6 bulan, Pada saat periksa Pasien HIV tidak akan terlihat HIV pada alat pemeriksa, padahal masih masa jendela,
  3. Orang tidak pernah periksa, padahal positif HIV.

Hasrat seksual setelah berada pada usia remaja dewasa adalah normal dan jika berhubungan seksual silahkan saja, nanti pakai pengaman, tapi urusan agama, kalau punya agama dan punya Tuhan urus masing-masing itu baik atau tidak.

Hai masyarakat, pemuda, perempuan, laki-laki, anak kecil dan besar di Papua, ada 36.858 orang HIV-AIDS yang “hidup” denganmu di sekitarmu yang mungkin dia adalah istri, suami, pacar 01, 02, selingkuan, teman, kawan, saudara, dan atau lainnya.

Solusinya sederhana saja : untuk laki-laki ada dua (2) yaitu :

  1. saat berhubungan seks bawa KONDOM, (tapi kalo sudah tidak sadar dan hasrat seksual meledak, selamat saja).
  2. SIRKUMSISI, ini solusi yang paling bagus, dijamin 76% terhindar dari HIV, bersih, berhubungan juga lebih lama dan lebih puas, tenang saja masih bisa kencing normal, caranya juga tidak menggunakan alat tradisional (tidak akan sakit)

Untuk perempuan jaga kebersihan area kelamin, hati-hati karena kalian bisa terpapar kanker serviks, sebaiknya pacar atau suami kalian itu disuruh sirkumsisi di KPA (Komisi Penganggulangan AIDS) Rumah Sakit Dok II Jayapura. Daripada jadi korban. Oh yah, angka Dinkes Papua sekarang tinggi itu perempuan lebih tinggi (selisih 2.000 dengan laki-laki) Hati-hatilah.

Dalam satu hari orang positif HIV sekitar 5 sampai 16 per kabupaten saja (saya bisa buktikan itu).

Pemerintah sebaiknya ;

  1. bekerjasama dengan Organisasi pemuda, mahasiswa, asrama, gereja, Tokoh adat, Lembaga pendidikan untuk edukasi dan langsung diarahkan sirkumsisi.
  2. Upaya menjaga kebersihan diri, dan seharusnya ada
  3. Pembagian kondom gratis karena manusia papua mayoritas susah diberitahu, agak keras kepala, ini untuk mencegah angka yang tinggi.
  4. Edukasi seksualitas, Edukasi kesehatan reproduksi remaja di sekolah SMP dan SMA se-tanah Papua.

(Catatan: Tolong dilanjutkan !! Ini sangat penting, HIV masalah serius di Tanah Papua dan orang Papua sedang menuju kepunahan karena HIV)

*) Penulis adalah Ketua Tim Peduli Kesehatan dan Pendidikan (TPKP) Rimba Papua.