Ekspor Kelapa Indonesia Jadi Andalan Perkebunan Rakyat

62
Kementerian Pertanian (Kementan) melepas ekspor Desicated Coconut (Kelapa parut kering) dari Kota Manado Sulawesi Utara (Sulut). "Produk kelapa yang diekspor antara lain Dessicated coconut (DC), Coconut crude oil (CCO), turunan CCO, kelapa bulat, karbon aktif, dan air kelapa," ujar Direktur Jenderal Perkebunan Kementan, Bambang. (Foto Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian )

MANADO, SULAWESI UTARA (LINTAS PAPUA)  –  Kementerian Pertanian (Kementan) melepas ekspor Desicated Coconut (Kelapa parut kering) dari Kota Manado Sulawesi Utara (Sulut).

“Produk kelapa yang diekspor antara lain Dessicated coconut (DC), Coconut crude oil (CCO), turunan CCO, kelapa bulat, karbon aktif, dan air kelapa,” ujar Direktur Jenderal Perkebunan Kementan, Bambang.

Beberapa negara yang menjadi tujuan ekspor di antaranya Papua New Guinea, Filipina, China, USA, Belanda, Vietnam, Singapura, Korsel, Jepang, Jerman, Afrika Selatan, Rusia, Turki, Polandia, Kuwait, Uruguay, Malaysia dan Slovakia.

Pelepasan ekspor produk Desiccated Coconut sebanyak 11,380 MT pada tahun 2018 yang dihasilkan oleh PT. Royal dan PT. Global yang beroperasi di Sulut.

“Ini merupakan salah satu upaya mendukung pengembangan kelapa secara berkelanjutan”, tambahnya.

Bambang menjelaskan, Kementan melalui Direktorat Jenderal Perkebunan dan Badan Litbang Pertanian pada tahun Anggaran 2017 dan 2018 telah mengembangkan benih komoditas perkebunan strategis seperti tebu, kopi, kakao, kelapa, jambu mete, karet, cengkeh, pala, dan kayu manis guna mendorong peningkatan ekspor dari sektor perkebunan.

Di tahun 2017 terdapat peningkatan yang signifikan ekspor kelapa dan produk-produk turunannya, dari US$ 793,3 juta di tahun 2013, menjadi US$ 1,4 milyar (14,1 triliun rupiah) di tahun 2017, atau meningkat sebesar 43%. Nilai ekspor sektor perkebunan sendiri secara umum mencapai Rp. 432,4 triliun atau 96% dari total nilai ekspor pertanian pada tahun 2017.

Kelapa, menurut Bambang, merupakan tanaman perkebunan yang sebagian besar (93%) adalah perkebunan rakyat. Kelapa memiliki nilai ekonomi, sosial, budaya dan peran strategis dalam peningkatan pendapatan petani, penyerapan tenaga kerja dan sumber devisa negara.

“Semua bagian dari tanaman kelapa dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan makanan, pangan fungsional dan papan, serta berbagai keperluan lain. Sehingga kelapa disebut sebagai pohon kehidupan atau The Tree of Life,”jelasnya.

Varietas kelapa unggul nasional yang telah dilepas oleh Menteri Pertanian dengan benih bersertifikat, merupakan varietas unggul lokal. Jumlah benih yang telah disalurkan Kementan untuk petani sejak tahun 2017/2018 telah mencapai 1.894.467 batang, dengan potensi kopra lebih dari 3 ton per hektar per tahun atau melebihi produksi kelapa nasional yang hanya 1.1 ton.

Pada kesempatan ini Balai Penelitian Tanaman Palma (Balit Palma) bersama Pemda juga telah melepas beberapa Varietas Unggul Baru Kelapa. Seperti Kelapa Bido asal Maluku Utara, Kelapa Sri Gemilang asal Riau yang adaptif lahan pasang surut, Kelapa Dalam Kopyor Puan Kalianda asal Lampung, dan Kelapa Babasal asal Sulawesi Tengah. Varietas kelapa unggul tersebut memiliki potensi produksi hingga lebih dari 3 ton kopra per hektar per tahun. (Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian )