SENTANI (LINTAS  PAPUA)  –  Pasca meninggalnya Alm. Theys Hiyo Eluay pada 10 November 2001 lalu, Keluarga Besar Theys Hiyo Eluay menggelar Deklarasi Damai, Jumat (10/11/2018) sore pekan kemarin.

 

Deklarasi damai yang digelar di Pendopo Boy Eluay, di Jalan Besteur Post, Kota Sentani, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, pada Jumat (10/11/2018) sore lalu ini dalam rangka memperingati 17 tahun kepergian Almarhum Ondofolo Theys Hiyo Eluay.

 

Dalam deklarasi damai ini juga dihadiri adik almarmhum Abdulrahman Wahid atau Gus Dur (Presiden RI ke-4) Lily Wahid, Ondofolo Kampung Sosiri, Boas Assa Henock, Ondofolo Kampung Sereh Ondi Kleuw, Ketua Gercin Provinsi Papua Hendrick Yance Udam dan 75 orang tamu undangan deklarasi damai.

 

Keluarga besar Theys Hiyo Eluay juga membacakan dan menandatangani pernyataan deklarasi damai sebagai bentuk suara hati keluarga besar Theys Hiyo Eluay yang dibacakan langsung oleh anak almarhum Theys Hiyo Eluay, yakni Yanto Eluay.

“Ini kami lakukan berasal dari perenungan bahwa semua umat diajarkan untuk membangun cinta kasih dan perdamaian. Dan, di dalam iman percaya kami itu diajarkan bahwa mengampuni adalah kunci hidup dalam kebahagiaan dan perdamaian,” kata Yanto Eluay, selaku Perwakilan Keluarga Besar Theys Hiyo Eluay, dalam pernyataan sikap tertulisnya,  di Pendopo Boy Eluay, Jalan Besteur Pos, Kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Sabtu (10/11/2018) pekan kemarin.

 

Pria yang akrab disapa Yanto ini mempercayai orang tuanya Theys Hiyo Eluay adalah pejuang kemanusiaan, penjaga adat dan tradisi leluhur serta memperjuangkan Papua agar makin sejahtera dalam semangat persaudaraan dan cinta kasih. Sebab itu, pihaknya menolak politisasi kematian Theys Hiyo Eluay.

 

“Oleh karena itu, kami menolak segala politisasi kematian orang tua kami. Selain itu, kami juga dengan tegas menyatakan Papua tidak boleh dipisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebab, almarhum adalah salah satu tokoh yang memperjuangkan Papua dalam bingkai NKRI dalam proses Pepera tahun 1969,” tegasnya.

 

“Apalagi perjuangan almarhum sesungguhnya hanya untuk kesejahteraan rakyat Papua dan sepanjang hal itu dapat diwujudkan maka NKRI adalah harga mati,” sambung Yanto.

 

Untuk itu, kata Yanto, pihaknya sudah memaafkan seluruh pihak yang terlibat, baik langsung maupun tidak langsung atas kematian Alm. Theys Hiyo Eluay.

 

“Kami memaafkan dan mengampuni seluruh pihak atau pribadi, yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung dalam kematian almarhum orang tua kami yakni, Ondofolo Theys Hiyo Eluay,” papar pria yang juga Anggota DPRD Kabupaten Jayapura.

 

Selain itu, Yanto meminta agar kasus penculikan dan pembunuhan terhadap almarhum Theys Hiyo Eluay tidak lagi dikatakan sebagai pelanggaran HAM dan tidak lagi digunakan lagi untuk komoditi politik.

 

“Kami minta agar penculikan dan pembunuhan orang tua kami tidak lagi dikatakan sebagai kasus pelanggaran HAM dan tidak lagi digunakan oleh pihak manapun sebagai komoditi politik,” pinta Politisi Golkar tersebut.

 

“Kami berjanji untuk meneruskan perjuangan almarhum Theys Eluay demi kesejahteraan rakyat Papua bersama seluruh elemen bangsa Indonesia yang mencintai negara ini atas dasar Pancasila dan UUD 1945,” tukasnya. (Irfan / Koran Harian Pagi Papua)