TEGAL (LINTAS PAPUA)  –   Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta agar para politisi mengakhir cara-cara politik genderuwo, yaitu cara-cara berpolitik dengan propaganda, menakut-nakuti, menimbulkan kekhawatiran. Selanjutnya yang kedua, ketidakpastian; kemudian yang terakhir, menjadi keragu-raguan masyarakat.

“Ini cara-cara politik seperti ini jangan diterus-teruskan lah, sudah. Setop! Setop!” seru Presiden Jokowi saat ditanya wartawan usai meresmikan Jalan Tol Pejagan – Pemalang seksi 3 dan 4 Brebes Timur – Sewaka dan Jalan Tol Pemalang – Batang segmen Sewaka – Simpang Susun Pemalang, di Gerbang Tol Tegal Timur, Tegal, Jawa Tengah, Jumat (9/11) siang.

Presiden berharap politik yang dikembangkan adalah politik yang penuh dengan kegembiraan, sehingga demokrasi kita juga betul-betul pesta demokrasi.

“Yang namanya pesta itu misalnya dengan penuh kegembiraan, penuh dengan kesenangan, masyarakat dengan kematangan politiknya memberikan suara/memilih dengan jernih dan rasional. Kita harus mengarahkan kematangan dan kedewasaan berpolitik dengan cara-cara seperti itu,” tutur Presiden.

Oleh sebab itu, Presiden Jokowi mengajak masyarakat untuk hijrah dari ujaran kebencian kepada ujaran kebenaran, hijrah dari pesimisme kepada optimisme, hijrah dari kegaduhan ke kerukunan dan persatuan.

Sebelumnya pada acara penyerahan 3.000 sertifikat tanah untuk warga Tegal dan sekitarnya, di GOR Tri Sanja, Tegal, Jawa Tengah, Jumat (9/11) pagi, Presiden Jokowi menyinggung perilaku para politisi yang pandai mempengaruhi, yang tidak pakai etika politik yang baik, tidak pakai sopan santun politik yang baik.

“Mereka melakukan politik dengan propaganda menakutkan, membuat ketakutan, membuat kekhawatiran, propaganda ketakutan,” kata Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada penyerahan 3.000 sertifikat tanah untuk warga Tegal dan sekitarnya, di GOR Tri Sanja, Tegal, Jawa Tengah, Jumat (9/11/2018) pagi.

Setelah masyarakat takut, menurut Presiden, para politikus itu membuat sebuah ketidakpastian sehingga masyarakat mempertanyakan kebenarannya. Dan yang ketiga, masyarakat menjadi ragu-ragu.

“Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika, membuat ketakutan. Masa masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Itu namanya politik genderuwo, nakut-nakuti, politik genderuwo,” ungkap Kepala Negara. .  (http://setkab.go.id / DND/OJI/ES)