Perkawinan Dibawah Umur Rawan Terhadap Perceraian dan KDRT

0
547
epala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kabupaten Jayapura, Drs. Derek Timotius Wouw, M.Si., ketika dikonfirmasi wartawan usai menghadiri acara pembukaan pelatihan Noken yang diselenggarakan oleh DP3A Kabupaten Jayapura, di Aula Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Papua, Senin (29/10/2018) kemarin siang. Tampak saat foto bersama. (Irfan / HPP)

SENTANI (LINTAS  PAPUA) – Usia menikah yang baik menurut pemerintah dalam hal ini BKKBN adalah 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki.

 

Perkawinan atau pernikahan anak dibawah umur 18 tahun wajib dicegah karena rawan dan mampu menimbulkan dampak negatif terhadap sosial dan psikologis.

 

Perempuan yang menikah dibawah usia 18 tahun berpotensi keguguran.

Selain itu, anak dan ibu rentan terhadap penyakit, kualitas anak yang dilahirkan rendah, gizi buruk dan putus sekolah.

Berdasarkan data kasus pernikahan atau perkawinan dini yang terjadi di Kabupaten Jayapura itu sebanyak 324 perempuan yang telah melakukan pernikahan di  bawah umur antara usia 15 tahun hingga 19 tahun.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kabupaten Jayapura, Drs. Derek Timotius Wouw, M.Si, menuturkan, dampak yang bisa ditimbulkan dari pernikahan dini meliputi resiko perceraian, anak dan ibu rentan terhadap penyakit, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kesehatan reproduksi, beban ekonomi yang makin bertambah berat dan bunuh diri.

 

Kalau perkawinan di bawah umur ini terjadi, maka dia rawan terhadap kasus perceraian, kesehatan terhadap anak dan ibu serta kasus KDRT,  ujar  Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kabupaten Jayapura, Drs. Derek Timotius Wouw, M.Si., ketika dikonfirmasi wartawan usai menghadiri acara pembukaan pelatihan Noken yang diselenggarakan oleh DP3A Kabupaten Jayapura, di Aula Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Papua, Senin (29/10/2018) kemarin siang.

 

Derek demikian sapaan akrabnya menambahkan, penyebab terjadinya perkawinan dibawah umur atau pernikahan dini karena rendahnya tingkat pendidikan antar kedua pasangan, tuntutan ekonomi, sistem nilai budaya, perkawinan atau pernikahan yang sudah diatur dan seks bebas.

 

Selain itu, kata Derek, sebagian masyarakat masih ada yang menganggap kawin dibawah umur atau nikah dini sebagai faktor keturunan, padahal bukan atau hal itu salah.

 

Kawin dibawah umur (nikah dini) sebenarnya hasil dari pola pikir yang kurang rasional. Nikah dini dianggap sebagai jalan keluar dari persoalan hidup, tapi, kenyataannya justru sebaliknya. Bahkan nikah dini dianggap jalan keluar dari pergaulan bebas remaja, ujarnya.

 

Kenapa perkawinan dibawah umur atau pernikahan dini dikatakan rawan, karena mereka masih anak-anak, mental mereka dalam menjalankan kehidupan rumah tangga itu masih minim sekali. Sehingga hal itulah yang menyebabkan perkawinan dibawah umur itu rawan, sambung Derek.

 

Derek mengatakan, perkawinan dibawah umur atau pernikhan dini harus dicegah dengan meningkatkan kesadaran laki-laki dan perempuan sejak mereka mash usia remaja.

 

Menurutnya, pada usia remaja atau SMP maupun SMA, merupakan masa transisi dimana sang anak suka meniru dan suka mencoba pada hal-hal yang baru. Umumnya, anak remaja masih tergantung pada lingkungan sosialnya dan anak belum mampu mandiri tapi sudah ingin lepas oleh orang tuanya untuk belajar mandiri.

 

Untuk mencegah terjadinya perkawinan dibawah umur atau pernikahan dini di kalangan SMP maupun SMA, ia pun menyampaikan, bahwa pihaknya terus melakukan pembinaan bagi anak remaja di tingkat SMA/SMK yang ada di beberapa sekolah di Kabupaten Jayapura. (Irfan / Koran Harian Pagi Papua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here